facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Dibayar Rp75 Ribu Jadi Figuran Hantu, Subardo Beberkan Cerita Mistis di Balik Pembuatan Film KKN di Desa Penari

Galih Priatmojo Selasa, 17 Mei 2022 | 17:59 WIB

Dibayar Rp75 Ribu Jadi Figuran Hantu, Subardo Beberkan Cerita Mistis di Balik Pembuatan Film KKN di Desa Penari
Subardo menunjukkan foto saat dirinya masih berdandan ala hantu saat syuting Film KKN Desa Penari.(Kontributor / julianto)

warga Gunungkidul yang jadi figuran di film KKN di Desa Penari beberkan cerita mistis di balik pembuatan film tersebut

SuaraJogja.id - Dusun Ngluweng Kalurahan Ngleri Kapanewon Playen, Gunungkidul menjadi lokasi perkampungan dalam film KKN di Desa Penari. 4 rumah digunakan sebagai lokasi syuting selain juga kawasan Hutan Wanagama.

Aura mistis muncul ketika media ini berkesempatan berjalan menuju ke rumah Ngadiyo, rumah yang dijadikan lokasi pengambilan gambar adegan Bayu melempar kepala monyet, Bima dan Ayu sekarat di tempat pembaringan.

Selain dijadikan lokasi syuting, ternyata,  banyak warga yang dilibatkan menjadi figuran dalam film tersebut. Mereka diajak peran menjadi hantu dan juga warga biasa. Setidaknya ada 50 warga Dusun Ngluweng dan sekitarnya yang terlibat.

Salah satunya adalah Subardo (51), ia juga ikut syuting menjadi hantu. Selain menjadi hantu, ia juga bertugas menjadi Linmas menjaga keamanan dan barang-barang kru film selama proses syuting. 

Baca Juga: Terungkap! Ini Lokasi Syuting Film KKN di Desa Penari, Aslinya Ikonik dan Tak Seram

Berbagai pengalaman ia rasakan baik mistis ataupun hal lain. Pengalaman pertama kali yang tidak akan bisa ia lupakan selama hidupnya karena harus berperan ganda.

Lelaki ini mengakui jika lokasi rumah Ngadiyo memang cukup mistis. Lokasinya agak terpencil karena untuk masuk ke rumah Ngadiyo harus melalui jalan setapak yang ditumbuhi rerimbunan pohon. Dan lokasinya berada di bawah rumpun bambu.

"Saya itu didapuk (diminta) jadi hantu. Selain itu saya juga ikut jaga di sini,"terang dia.

Selain dirinya, ayah dan ibu mertua, bapak dan ibu kandung juga diminta berperan dalam film tersebut. Ayah dan ibu mertua serta bapaknya berperan menjadi hantu sementara ibu kandungya beradegan menjadi nenek yang menjemur kain di salah satu rumah warga.

Ia mengaku ternyata capek ketika ikut syuting film. Bagaimana tidak, meskipun perannya hanya sebentar muncul di layar namun ia harus berjuang sehari semalam. Make up yang menutup wajahnya tidak boleh dihapus dalam 24 jam. 

Baca Juga: 5 Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa, KKN di Desa Penari Salip Dilan?

Ketika menunggu giliran syuting, saya dan puluhan orang lainnya harus berada di dalam bus dengan AC tetap hidup. Make up masih tebal. Tujuannya agar make up tersebut tidak hilang. Kasihan yang make upnya separo wajah, honornya sama tapi lebih susah,"ujar dia.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait