Hingga pekan lalu tercatat ada 144 ekor ternak terkena PMK diwilayah Puskeswan Ngemplak. Mayoritas berjangkit di kandang besar atau komunal dan tidak banyak titik paparan.
Gejala terbanyak terlihat dari ternak PMK di wilayah ampuannya, yakni air liur berlebih, demam, tidak mau makan. Hampir sama dengan penyakit Bovine Ephemeral Fever (BEF).
"Itu demam tiga hari, hampir sama. Jadi kami biasanya evaluasi tiga hari. Kalau dalam tiga hari sembuh, artinya itu Insya Allah tidak PMK, kemungkinan hanya BEF atau gomen," sebut dia.
PMK Adalah Penyakit Kompleks
Baca Juga:Bakal Debut dengan PSS Sleman, Ze Valente Curhat Soal Adaptasi dengan Lalu Lintas di Sleman
Yenni menambahkan, PMK adalah penyakit yang kompleks. Dapat menular secara langsung atau kontak antar hewan terjangkit dan berisiko; secara tidak langsung; airborne (perantara udara).
Penularan tidak langsung bisa melalui lalu-lintas orang maupun lalu-lintas ternak.
"Bahkan harus hati-hati bila kita baru saja bersama hewan terkena PMK, kita sudah cuci tangan dan bebersih. Tapi lupa, kalau tadi kita pakai HP (telepon genggam). Setelah itu kita bersama ternak sehat, nah dari virus yang menempel pada HP tadi bisa menularkan," tuturnya.
Ia menambahkan, semua bagian terbak yang terkena PMK berisiko tinggi menularkan kepada ternak sehat.
"Dari nafasnya sapi bisa menularkan, leleran (air liur) bisa menularkan, kotoran baik feses dan urin, daging bisa menularkan," kata dia.
Baca Juga:Gabung PSS Sleman, Ze Valente Tak Sabar Debut Bersama Skuad Super Elja
Individu positif PMK, kala melahirkan, ada kemungkinan anaknya tidak tertolong karena minum air susu dari induk PMK.