"Itu ada satu kasat ini sampai ngakak, sampai sekarang itu inget sering diceritakan, di televisi saya itu ditanya sebab-sebab gempa di Bantul, lho bayangin saya bukan ahli geologi atau apa, ya saya jawab mungkin gempa bumi karena Nyi Roro kidul dipaksa pakai jilbab," ucapnya disambut tawa presenter dan juga jamaah yang hadir di acaranya.
Disdikpora Menyayangkan
Terlepas dari guyonan Gus Dur tersebut, kasus pemaksaan pakai jilbab yang menimpa siswi di Bantul mendapat perhatian serius baik dari Disdikpora Bantul maupun Provinsi DIY.
Kepala Disdikpora Bantul Isdarmoko menegaskan tidak ada aturan yang mengharuskan siswi pakai jilbab di sekolah negeri.
Baca Juga:Siswi SMA di Bantul Diduga Dipaksa Pakai Jilbab, Disdikpora DIY dan Ombusdman Bergerak
"Terkait dengan penggunaan seragam sekolah khususnya pakaian muslim itu dibebaskan sesuai pilihan masing-masing. Jadi kalau ada sekolah yang memaksakan apalagi sekolah negeri itu jelas tidak betul," katanya.
Kabupaten Bantul saat ini tengah mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA) dimana salah satu kebijakannya adalah sekolah harus menjamin dan memberikan perlindungan pada hak-hak anak. Terkait hal tersebut Isdarmoko menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh guru BK SMA Negeri 1 Banguntapan.
Kepada SuaraJogja.id Isdarmoko mengatakan bahwa kewajiban yang semestinya dilakukan oleh guru BK adalah untuk memberikan layanan kepada siswa dalam rangka membantu siswa mengatasi permasalahan yang dihadapi.
Sementara itu, Kadisdikpora DIY Didik Wardaya menjelaskan pihaknya tengah menelusuri kasus siswi yang dipaksa pakai jilbab tersebut.
"Itu baru kita telusuri. Ini teman-teman baru bentuk tim untuk menelusuri terkait hal tersebut," kata Didik saat dihubungi awak media, Jumat (29/7/2022).
Baca Juga:Muncul Dugaan Siswi SMA di Bantul Dipaksa Pakai Jilbab, Disdikpora DIY Buka Suara
Sejauh ini penelusuran sendiri, kata Didik, pihaknya telah melakukan klarifikasi kepada sekolah yang bersangkutan. Mulai dari kepala sekolah hingga panitia penerimaan peserta didik baru (PPDB).