Napak Tilas Bu Ruswo: Dari Dapur Umum ke Gelanggang Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

Bu Ruswo pejuang yang punya peran krusial di masa perjuangan Indonesia jejak sejarahnya masih bisa dilihat di kawasan Yogyakarta

Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Rabu, 17 Agustus 2022 | 14:30 WIB
Napak Tilas Bu Ruswo: Dari Dapur Umum ke Gelanggang Perjuangan Kemerdekaan Indonesia
Ilustrasi Bu Ruswo. [Iqbal Asaputro / SuaraJogja.id]

SuaraJogja.id - "Kepada Orang yang Lapar Tidak Bisa Diberikan Kepadanya Pemikiran Revolusi,"

Sepenggal kalimat Soekarno yang termanifestasikan di dalam kitab Mustika Rasa itu rasa-rasanya cukup menegaskan betapa pentingnya ketahanan pangan terutama di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Merujuk pada konteks tersebut tak salah bila kemudian menyebut nama perempuan asal Yogyakarta yang dikenal dengan nama Bu Ruswo. Sosok yang masih samar-samar terdengar dalam catatan sejarah ini punya andil besar dalam menjaga ketahanan pangan rakyat Indonesia selama masa perjuangan.

Bila Soekarno menjadikan meja makan sebagai podium untuk melancarkan siasat perjuangannya, Bu Ruswo punya dapur yang menjadi gelanggang perjuangannya.

Baca Juga:10 Tahun Berjualan, Pedagang Lawar Babi di Bali Ini Merasa Belum Merdeka

Bu Ruswo yang namanya kini dipatri sebagai nama jalan di kawasan Gondomanan, Kota Yogyakarta bisa dibilang sebagai salah satu sosok krusial dalam perjuangan rakyat Indonesia merebut kemerdekaannya.

Pensiunan Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Retno Astuti. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Pensiunan Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Sri Retno Astuti. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Berdasarkan penuturan Pensiunan Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) DIY Sri Retna Astuti, perempuan yang disebut sebagai perempuan tiga zaman ini lahir di Yogyakarta pada tahun 1905. Pada saat lahir, ia diberi nama Kusnah. Nama Ruswo merupakan nama dari suami yang dinikahinya pada 1921. Di mana setelah pernikahan itu namanya menjadi Nyi Kusnah Ruswo Prawiroseno.

Setelah menikah, Bu Ruswo bersama sang suami banyak terlibat dalam lapangan pergerakan atau perjuangan. Bu Ruswo aktif dalam sejumlah organisasi wanita maupun sosial, termasuk di antaranya kepanduan yakni Indonesisch Nationale Padvinders Organisatie (INPO).

Diketahui bahwa organisasi kepanduan itu sudah berdiri sejak 1926 yang lantas melebur dengan beberapa kepanduan lain menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).

"Sebelum di dalam dapur umum sebenarnya beliau (Ibu Ruswo) sudah berjuang di bidang sosial. Jadi beliau itu pernah ikut dalam kepanduan. Kepanduan itu dulu 1928, sudah aktif di situ yang sosial," kata Retno ditemui di rumahnya, Kamis (11/8/2022).

Baca Juga:Bentuk Protes ke Pemerintah, Warga Demak Tetap Khidmat Gelar Upacara HUT ke-77 RI di Tengah Kepungan Banjir Rob

"Kemudian ikut di organisasi-organisasi wanita yang salah satunya memperjuangkan perdagangan wanita dan anak-anak. Dia berjuang di situ, kemudian semasa revolusi kemerdekaan dia berjuang di dapur umur," terangnya.

Semasa revolusi, Bu Ruswo mengubah rumahnya menjadi sebuah dapur umum. Di sana, Ibu Ruswo secara aktif mengoordinir ibu-ibu yang ada di Kota Jogja khususnya untuk membantu logistik para gerilyawan. Dapur umum itu, kata Retno mulai beroperasi pada sekitar 1948 silam.

"Dia banyak sekali membantu pejuang-pejuang di dalam bidang dapur umum baik itu mencari logistik dan segala macam hingga penyebarannya dan kerja sama dengan para wanita," tuturnya.

Bu Ruswo diketahui tak memiliki keturunan. Mungkin itu juga yang kemudian menjadikan perjuangan lewat dapur umum begitu maksimal. Menyediakan makanan untuk para gerilyawan agar tak perlu pusing lagi mencari logistik sehingga bisa fokus melakukan perjuangan.

"Beliau tidak punya keturunan. Jadi karena mungkin enggak punya keturunan jadi ditumpahkan ke perjuangan saja. Jadi bagaimana dia bisa mengabdikan dirinya untuk kepentingan negara," paparnya.

Ketangkasan Bu Ruswo terlihat dalam dapur umum itu. Termasuk dengan kemampuannya untuk mengajak para perempuan lain waktu itu untuk berjuang bersama.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, banyak perempuan kala itu yang juga ingin membantu perjuangan Indonesia melawan penjajahan. Hal itu ditunjukkan oleh ibu-ibu atau perempuan waktu itu yang dengan sukarela memberikan apapun yang mereka miliki.

"Ya itu pandai-pandainya Bu Ruswo mengajak para wanita itu dan ternyata mereka itu para wanita itu dengan sukarela memberi bantuan apapun yang mereka punya. Baik itu ada perhiasan mungkin, semua diberikan untuk membantu perjuangan itu," jelasnya.

"Karena mereka merasa ingin berjuang tapi melalui apa. Nah kebetulan ada Bu Ruswo yang bisa mengajak mereka berjuang dalam dapur umum ya. Dia pun dengan sukarela memberikan apa yang bisa baik tenaga maupun harta yang dia punya," imbuhnya.

Disebutkan Retno, Bu Ruswo juga pernah berjuang membantu Badan Keamanan Rakyat (BKR). Di sana dia juga membantu logistik dan sebagainya. Termasuk juga masuk ke Badan Penolong Keluarga Korban Perang (BPKKP).

Kurir Makanan di Garis Depan Palagan

Bu Ruswo pun pernah merasakan menjadi seorang kurir di medan pertempuran. Ia pernah membawa surat ditaruh di sadel sepeda atau stang sepeda.

Kurir yang berperan untuk membantu pejuang menyampaikan berita dari garis depan ke belakang, kemudian ke markas. Serta membawa makanan di dapur umum ke garis depan agar tidak kelaparan.

"Para prajurit sangat mengenal Bu Ruswo, bahkan ia dijuluki ibu prajurit karena membantu logistik itu. Karena cintanya sama Ibu Ruswo jadi dipanggil sebagai ibu prajurit," ungkapnya.

Jalan Bu Ruswo. [Galih Fajar / Multimedia SuaraJogja.id]
Jalan Bu Ruswo. [Galih Fajar / Multimedia SuaraJogja.id]

Retno sendiri memang sudah akrab dalam melakukan penelitian terhadap sejumlah pejuang perempuan di Indonesia, termasuk tentang Ibu Ruswo yang diteliti pada tahun 2006 silam.

"Saya kira Ibu Ruswo itu sangat penting karena dia membantu pejuang di dapur umum. Jadi dapur umum pada waktu itu yang terkenal dikoordinir oleh Ibu Ruswo, kemudian saya mencoba mencari siapa itu Ibu Ruswo," kata Retno.

Menurutnya perjuangan Ibu Ruswo yang kuat khususnya terkait hajat hidup dasar orang banyak itu tak bisa dihilangkan begitu saja. Mengingat tercukupinya logistik saat perjuangan melawan penjajah di medan perang tetap penting.

"Iya padahal logistik itu penting sekali. Memang logistik di kota itu yang mengkoordinir ya dapur umum seperti Ibu Ruswo itu. Tapi kalau di Gunungkidul, Bantul di kabupaten-kabupaten itu pedesaan, pemerintah desa dan rakyat desa," terangnya.

"Biasanya kalau ada gerilya di situ juga dipakai dapur umum. Nanti masyarakat pedesaan yang membantu apa punyanya, kalau punya sayur ya di kasih sayur, tenaga ya tenaga," imbuhnya.

Disampaikan Retno, dapur umum sendiri juga tak serta merta hanya digunakan sebagai tempat memasak saja. Melainkan juga bisa sebagai markas para pejuang waktu itu.

"Di dapur umum itu sendiri tidak hanya untuk memasak tapi juga untuk membicarakan strategi perjuangan para gerilya. Kemudian kurir-kurir datang, membicarakan perjuangan besok, merawat dan menyimpan senjata. Jadi tidak hanya melulu untuk memasak saja di dapur umum itu," tegasnya.

Bu Ruswo di Tepian Sejarah Perjuangan Indonesia

Retno menyatakan bahwa tidak mudah untuk mengulik lebih jauh sosok Bu Ruswo. Sebab memang tak banyak informasi yang dapat menjelaskan ibu bagi para prajurit itu.

Bahkan dalam buku-buku sejarah pun hampir tak ada yang menyebut atau menyediakan banyak informasi yang menjelaskan secara lengkap peran Ibu Ruswo. Latar belakang Bu Ruswo yang juga hanya merupakan warga sipil itu dinilai semakin menyusahkan untuk menggali informasi lebih jauh.

"Tantangannya banyak karena dari keluarga tidak ada yang tahu. Kemudian saya cari di majalah. Harus mencari dari itu untuk bisa mendapat keterangan mengenai Bu Ruswo itu," ucapnya.

Minimnya informasi sejarah itu membuat seolah sosok Bu Ruswo terpinggirkan dari buku sejarah Indonesia.

"Sedikit sekali yang membicarakan tentang Ibu Ruswo. Jadi seperti terpinggirkan, padahal perjuangannya itu cukup banyak," ujarnya.

Jejak Petilasan Perjuangan Bu Ruswo

Suara kicauan burung sahut-menyahut bersamaan dengan rintik hujan yang mengguyur sebuah rumah di dalam gang sempit paling timur di Jalan Ibu Ruswo tepatnya RW 03 Yudonegaran, Kelurahan Prawirodirjan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, Kamis (11/8/2022) sekitar pukul 13.03 WIB siang.

Pintu depan rumah itu terbuka namun tampak sepi tak ada orang yang menyambut. Hanya ada seorang warga yang sibuk mengecat tembok sepanjang gang menjadi putih kembali. 

rumah bersejarah Bu Ruswo yang jadi dapur umum masa perjuangan. [Galih Fajar / Multimedia SuaraJogja.id]
rumah bersejarah Bu Ruswo yang jadi dapur umum masa perjuangan. [Galih Fajar / Multimedia SuaraJogja.id]

Tak lama, seorang pria mengenakan celana panjang serta baju merah berkacamata keluar dari dalam rumah. Ia masih sibuk memindahkan beberapa bahan kain yang akan diukurnya menjadi baju dari kursi.

"Silakan masuk," kata Suyanto (70).

Siapa sangka ruangan rumah yang tak terlalu luas dan dipenuhi kain bahan pakaian itu punya banyak cerita sejarah. Ya, rumah itu adalah bekas dapur umum yang dulu digunakan Bu Ruswo untuk memasak dan memberi makan para gerilyawan di medan perang. 

"Ini semua masih asli. Ada memang beberapa yang sudah dipugar. Tapi untuk dua ruangan ini masih asli," ujarnya sambil menunjukkan dua ruang di rumah itu.

Ventilasi, jendela, ubin hingga etenit, disebutnya masih asli sejak zaman dulu. Meskipun memang sudah sejak tahun 1980an, ia dan istrinya menempati rumah tersebut. Tak ada perubahan banyak yang dilakukan selama ini. 

Saat ini rumah tersebut lebih dikenal sebagai tempat Penjahit Garuda. Namun ada satu yang kemudian menjadi identitas asli bahwa rumah itu yakni ukiran nama 'Roeswo' di bagian depan rumahnya. 

"Tulisan itu (Roeswo) tak boleh dihilangkan," ucapnya.

Sakralnya tulisan itu juga disampaikan oleh Iswati (74) yang merupakan istri dari Suyanto. 

"Rumah ini ada tulisan nama Roeswo. Itu tidak boleh dihilangkan, dijaga sebagai sejarah," kata Iswati ditemui lebih dulu pada Selasa (9/8/2022).

Sama seperti kata sang suami, Iswati menuturkan bahwa dua ruangan rumah itu masih asli dari segi konstruksi bangunan dan sebagainya. Selain ukiran nama di depan rumahnya, bukti rumah tersebut milik Ibu Ruswo adalah dari nota pembayaran listrik.

"Dulu ini memang dapur umum. Ini ventilasi masih asli. Ini pintu juga masih asli. Untuk pembayaran listrik masih atas nama Bu Roeswo Prawiroseno. Kenangannya cuma listrik itu," ungkapnya.

Suyanto yang saat ini menempati rumah bekas dapur umum Ibu Ruswo. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Suyanto yang saat ini menempati rumah bekas dapur umum Ibu Ruswo. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Sedikit, kata Iswati yang ia ketahui dari sosok atau sejarah Bu Ruswo itu sendiri. Perempuan yang kerap panggil Wati itu mengatakan bahwa ayahnya dulu yang merupakan teman seperjuangan Bu Ruswo. 

"Bapak itu teman seperjuangan Ibu Ruswo. Ibu Ruswo itu gemuk, kata bapak. Tapi tidak punya anak. Kerjaannya masak di sini," terangnya.

"Saya dulu sering diberikan bingkisan dari Jakarta tapi saya tidak bisa berbohong bahwa saya tidak mengenal Bu Ruswo tapi bapak saya yang mengenal beliau. Ibu Ruswo kan era pejuang dulu," imbuhnya.

Rumah Bu Ruswo Dirawat Anak Teman Seperjuangan

Memang saat ini ada Iswati dan Suyanto yang menempati rumah bersejarah milik Bu Ruswo tersebut. Namun bagaimana sebenarnya perjalanan rumah itu kemudian bisa berpindah tangan dan masih eksis hingga sekarang?

Masih merupakan bagian dari keluarga, adik dari Iswati -- yang menempati rumah Bu Ruswo -- Iswandi (72) menceritakan sejarah dari rumah tersebut. Adalah bapak dan ibunya, ujar pria yang akrab disapa Bandi itu yang dulu akhirnya membeli rumah Bu Ruswo.

"Jadi begini, tahun 1942 itu bapak saya menikah dan karena tidak punya pekerjaan, hanya bisa menjahit dan jualan. Ibu dulu usia 17, bapak 21 tahun. Bapak ibu menyewa tanah di sebelah barat rumah Ibu Ruswo sekitar 5 atau 6 meter persegi," kata Bandi ditemui di rumahnya Jl. Bumijo No.6, Gowongan, Kecamatan Jetis, Kota Yogyakarta, Kamis (11/8/2022) sore.

Dikisahkan Bandi, ketika itu ibunya berjualan berbagai makanan tradisional. Mulai ampyang, peyek, alen-alen hingga arang. Sedangkan sang ayah berfokus pada keahliannya menjahit baju.

rumah bersejarah Bu Ruswo yang jadi dapur umum masa perjuangan. [Galih Fajar / Multimedia SuaraJogja.id]
rumah bersejarah Bu Ruswo yang jadi dapur umum masa perjuangan. [Galih Fajar / Multimedia SuaraJogja.id]

Hingga kemudian lahir anak pertama bernama Iskanto di tempat tersebut. Lalu, tiba-tiba ayahnya kedatangan seorang teman yang disebut Bandi sebagai Pakde Harjo Kemin.

"Waktu itu ia (Harjo Kemin) memberi tahu bapak ibu saya apa mau menjadi penyelundup baju untuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) gerilya waktu itu," tuturnya.

"Nah bapak saya bilang, 'mau aja orang saya juga berjuang' di situ lah ternyata diajak ke sebelah timur kira-kira 200 meter dari situ ketemulah rumah Bu Ruswo di dapur umum. Itu menurut cerita bapak ibu saya," sambungnya. 

Bergabungnya orang tua Bandi ke dalam BKR saat itu yang mengantarkan mereka mengenal sosok Ibu Ruswo di dapur umum itu. 

"Di situ lah baru diketahui kalau di situ dapur umum. Sebelumnya bapak ibu tidak tahu kalau itu dapur umum pusatnya gerilya," ungkapnya.

Di sana sang ibu diberi tugas untuk memasok makanan yang dijualnya dulu. Hingga kemudian ikut terlibat di dalam dapur umum tersebut. 

Singkat cerita, kemudian pada tahun 1961 tiba-tiba seorang bernama Ibu Wongso Petruk datang menemui sang ayah. Tujuannya untuk diminta membeli rumah milik Bu Ruswo tersebut. 

"Nah bapak saya mengatakan 'loh itukan rumahnya Bu Ruswo dulu' begitu. Lalu dijawab 'Iya sekarang sudah berpindah tangan ke saya' katanya bu wongso petruk," kata Bandi sambil menirukan percakapan kala itu.

Namun waktu itu sang ayah yang tak memiliki uang sehingga rumah itu tidak dibeli. Baru kemudian sang ibu juga mengetahui informasi bahwa rumah Bu Ruswo itu akan dijual.

"Saya tidak tahu harganya tapi saya dengar itu, kemudian ibu itu mengambil tabungannya berupa emas dan dibeli lah rumah itu," jelasnya. 

Sehingga rumah itu sah berpindah tangan sekitar tahun 1960an. Sebelum akhirnya tahun 1980an ditempati oleh sang kakak Iswati, rumah itu sempat dikontrakkan terlebih dulu.

"Itu di atas namakan Iswati. Pada waktu itu kakak saya masih kelas satu SMP. Satu-satunya yang diberi rumah," ucapnya.

Dapur Umum Revolusi 

Bandi membenarkan bahwa rumah Ibu Ruswo merupakan saksi sejarah dari perjuangan Indonesia kala itu. Terlebih mengingat peruntukannya sebagai dapur umum. 

Iswandi, anak teman seperjuangan bu Ruswo. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]
Iswandi, anak teman seperjuangan bu Ruswo. [Hiskia Andika Weadcaksana / SuaraJogja.id]

Memang pertemuan kedua orang tuanya dengan sosok Ibu Ruswo tidak disengaja. Namun berkat semangat perjuangan menuju kemerdekaan saat itu akhirnya mereka dapat bertemu hingga berjuang bersama.

"Bapak ibu dekat dengan Ibu Ruswo terutama karena ikut nyetor untuk gerilya waktu itu. Bapak masuk satuan. Saat itu belum merdeka," ujar Bandi.

Sesuai juga dengan keberadaan rumah tersebut yang seolah tersembunyi. Dapur umum kala itu memang dibuat sedimikian rupa agar tak diketahui oleh prajurit Belanda.

"Iya (tempatnya dapur umum dirahasiakan). Namanya dapur umum revolusi. Kalau tidak kan bisa digrebek Belanda waktu itu. Di sana jadi markas. Termasuk Pak Harto itu, ada di situ katanya," cetusnya.

Bandi mengaku tak mengetahui secara persis kapan perjuangan lewat dapur umum itu bergerak. Namun dapat dipastikan sang ibu sudah masuk ke dapur umum sebelum kemerdekaan sekitar 1942-1943.

Diungkapkan Bandi, hingga saat ini bagian rumah yang digunakan untuk dapur umum tersebut masih asli. Orang tuanya pernah berpesan agar tidak mengubah atau menghilangkan identitas dari kediaman Ibu Ruswo itu.

"Rumah itu sebelum tahun 1940 sudah ada. Lorong kecil-kecil. Ibu Ruswo itu orang sangat berjasa bagi republik ini. Sekarang masih asli (rumahnya). Jangan sampai hilang identitas harus paling tidak masih ada itu. Dari orang tua saya begitu," tegasnya.

Memang tak ada perhatian khusus dari pemerintah terkait bangunan yang disebut Bandi sudah masuk dalam cagar budaya itu. Sehingga memang keluarga kakaknya yang hingga saat ini harus merawat dan menjaga rumah tersebut.

"Kita sebagai orang yang menghargai jasa-jasa pahlwawan itu paling tidak peninggalan-peninggalan beliau itu jangan sampai musnah. Jangan sampai hilang ditelan masa," tandasnya.

Sosok Ibu Pelindung

Kendati tak mengenal secara langsung sosok Ibu Ruswo. Namun Bandi mengaku dulu sering kali diceritakan oleh mendiang kedua orang tuanya tentang Ibu Ruswo. 

Ia mengatakan bahwa sang ibu cukup dekat dengan Ibu Ruswo mengingat perjuangan yang mereka lakukan bersama di dapur umum. Pergerakan dapur umum itu pun, lanjut Bandi terbilang sukses sebab tak ada yang mengetahui keberadaannya.

"Orangnya baik. Saya dengar, orangnya baik dan ramah. Tapi bisa menjadi seperti tidak diketahui kalau itu dapur umum. Itu ibu saya cerita dan ibu saya cukup dekat dengan beliau (Ibu Ruswo)," paparnya.

Tak secara spesifik memang kisah mengenao Ibu Ruswo tersebut yang didengarnya. Termasuk soal makanan apa saja yang dimasaknya kala itu.

Disebutkan Bandi, dapur umum revolusi milik Ibu Ruswo itu hanya akan memasak makanan seadanya saja. Menyesuaikan bahan-bahan yang ada.

"Ya seadanya saja. Waktu itu kan sulit dan harus sembunyi-sembunyi. Katanya ibu saya, apa adanya nanti diambil satu persatu sama gerilya-gerilya itu untuk dibawa," terangnya.

Jangan dibayangkan memasak makanan di dapur umum juga bisa seperti sekarang ini. Perjuangan menyelundupkan bahan-bahan makanan hingga bertaruh nyawa pun harus dilakukan.

rumah bersejarah Bu Ruswo yang jadi dapur umum masa perjuangan. [Galih Fajar / Multimedia SuaraJogja.id]
rumah bersejarah Bu Ruswo yang jadi dapur umum masa perjuangan. [Galih Fajar / Multimedia SuaraJogja.id]

"Bahan-bahan banyak yang menyelundupkan. Misalkan peyek, ampyang, alen-alen dan sebagainya itu. Tapi saya rasa kalau sayur-sayuran waktu itu masih agak gampang ya. Tapi masaknya yang sembunyi-sembunyi. Masaknya banyak, namanya dapur umum," ucapnya.

Bandi menambahkan bahwa sosok Ibu Ruswo dikenal juga sebagai ibu pelindung. Terlebih saat berjuang menghidupi dan melindungi para gerilyawan yang maju ke medan pertempuran lewat kesederhanaan dapur umumnya.

"Seorang ibu yang baik dan pelindung. Beliau itu pelindung, bagaimana melindungi, menghidupi gerilya. Melindungi mereka-mereka yang bergerilya. Itu lah sosok Ibu Ruswo. Dan kita sebagai generasi muda harus berterima kasih kepada sosok-sosok seperti Ibu Ruswo. Itu pahlawan," ujarnya.

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah

Menurut Bandi ada banyak peninggalan Ibu Ruswo yang dapat terus dipelajari hingga zaman sekarang. Ia sangat memegang teguh pernyataan 'Jas Merah' atau diketahui sebagai singkatan dari jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.

Ia menyarankan generasi muda sekarang untuk kembali belajar dari sejarah yang ada. Mengingat dan merefleksikan kembali perjuangan para pejuang di masa lalu, termasuk Ibu Ruswo. 

"Makanya jas merah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Belajarlah dari sejarah. Bagaimana kalau kita ini berpikir, bernostalgia, kalau tidak ada proklamasi, apakah sekarang ada orang-orang yang bisa sekolah, jadi profesor, doktor, yang sekarang jadi pejabat, jadi jenderal," tegasnya.

Tidak hanya kemudian mempelajari saja. Namun kemudian membuat Indonesia menjadi lebih baik di masa mendatang.

"Itu kalau tidak ada proklamasi kan tidak mungkin ada. Nah sekarang dari situ lah mengetuk hati, beliau-beliau yang pintar dan punya jabatan itu, apa yang bisa kita perbuat untuk negeri ini. Karena beliau sudah punya kesempatan, pendidikan yang tinggi bisa jadi tokoh masyarakat, itu kalau tidak ada proklamasi mungkin tidak ada," sambungnya.

Khusus untuk sosok Ibu Ruswo sendiri adalah keikhlasannya yang sangat bisa dicontoh. Bagaimana, Ibu Ruswo yang bukan dari keluarga siapa-siapa dengan kesadaran itu berjuang lewat dapur umum di rumahnya.

"Keikhlasan beliau untuk membantu Indonesia menuju kemerdekaan, itu yang penting, keikhlasan. Beliau sangat ikhlas yang saya dengarnya, sangat ikhlas. Itu yang harus dimiliki generasi muda. Keikhlasan, keberanian, ketekunan," ungkapnya.

Terakhir, ia berpesan bahwa ada satu hal yang penting untuk diperhatikan oleh generasi muda saat ini.

"Satu hal, generasi muda harus berani menghadapi kesulitan tapi takut dengan kegamangan atau kemudahan. Karena kalau begitu, pasti Indonesia maju dan Indonesia sangat banyak generasi muda yang sangat pintar," pungkasnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak