"Karena jujur aku belum pernah coba. Kalau [cicip] robustanya [sebelum dan sesudah erupsi] sudah, dan menurutku sama saja," terangnya.
Kini, budidaya kopi merapi kembali harus menghadapi tantangan pemanasan global.
"Kalau buat ke semuanya (bukan hanya kopi merapi) jelas efeknya," tegasnya.
Sepengetahuan Andry, ada siklus lima tahunan kopi di beberapa daerah di Indonesia. Pergeseran iklim yang mengakibatkan produktivitas dan kuantitas kopi itu menurun.
"Ini sedang terjadi di tahun ini. Panen tahun ini Indonesia tidak sampai 50 persen, semua turun. Kecuali daerah timur," sebutnya.
Selain itu, ada beberapa varietas yang dulu bisa ditanami di ketinggian lebih rendah, sekarang sudah tidak bisa lagi. Karena di ketinggian tersebut kelembaban sudah menurun dan adanya perubahan Ph tanah serta faktor lainnya. Sehingga kopi sudah tak bisa lagi tumbuh di kawasan itu.
Alih Fungsi Hutan dan Lahan Sayur Jadi Kebun Kopi, Bukan Seratus Persen Solusi
"Efek dari iklim luar biasa, di beberapa daerah juga ada hutan yang ditebang dijadikan lahan kopi. Padahal, kopi itu kan salah satu tanaman yang rumahnya di hutan kan," tambahnya.
Kopi membutuhkan tanaman naungan atau lingkungan rindang untuk tumbuh. Ia bukan seperti sawit atau jati yang dipastikan bisa tumbuh dalam lahan seragam.
Baca Juga:Terus Turun Drastis, Produksi Garam Rakyat Terganggu Perubahan Iklim
"Karena itu banyak kopi terpapar penyakit, kerak daun, bijinya mengecil, jadinya dari cherry ke green bean itu perbandingannya semakin jauh," imbuhnya.