Rencana menjadikan Sumbu Filosofi Yogyakarta sudah tersiar sejak 2014. Namun rencana itu kembali digaungkan ketika Covid-19 melanda Jogja.

Hal itu juga selaras dengan rencana penataan sejumlah Pedagan Kaki Lima (PKL) di sepanjang Jalan Malioboro yang berada di kawasan tersebut.
4. UNESCO meninjau pada 2022 lalu
Gaung menjadikan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia terus berlanjut tiap tahun. Puncaknya pada 2022 lalu tim perwakilan dari UNESCO meninjau lokasi sepanjang Malioboro hingga ke Panggung Krapyak pada 23 - 25 Agustus 2022 lalu.
Baca Juga:Sumbu Filosofi Siap Disidangkan, Pemda DIY Tunggu Kepastian UNESCO
Hal ini juga sebagai evaluasi dan pemenuhan syarat bagi Pemda DIY termasuk Kemendikbud untuk pengajuan menjadi warisan budaya dunia.
5. PKL Malioboro Ditata
![Para PKL berjualan di Kawasan Malioboro. [Kontributor / Putu Ayu Palupi]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2021/12/06/13635-relokasi-pkl-malioboro.jpg)
Resmi menjadi warisa budaya dunia, Sumbu Filosofi Yoyakarta meninggalkan goresan kecil bagi masyarakat yang ada di Jalan Malioboro.
Pedagang Kaki Lima (PKL) terpaksa direlokasi ke tempat lain untuk tetap bisa melanjutkan roda perekonomian di wilayah Sumbu Filosofi Yogyakarta.
Para pedagang juga sudah mendapat tempat yang saat ini diberi nama Teras Malioboro I dan II. Meski begitu bagi pedagang PKL di Teras Malioboro II masih terjadi polemik karena bakal kembali direlokasi.
Baca Juga:Masuk Kawasan Penyangga Sumbu Filosofi, Sri Sultan HB X Batalkan Pembangunan Royal Kedhaton
6. Mendorong reputasi pariwisata serta masyarakat menjaga situs tak benda