Musim Pemilu Tempat Wingit di Gunungkidul Ramai Didatangi Peziarah, Cucu Sri Sultan HB VIII Beberkan Sejumlah Tempatnya

selain menggunakan fisik berupa baliho atau video gimmick para caleg juga berupaya menarik perhatian para konstituennya dengan mencari wangsit ke tempat-tempat wingit

Galih Priatmojo
Senin, 04 Desember 2023 | 14:47 WIB
Musim Pemilu Tempat Wingit di Gunungkidul Ramai Didatangi Peziarah, Cucu Sri Sultan HB VIII Beberkan Sejumlah Tempatnya
Sejumlah peziarah tengah duduk di komplek makam Ki Ageng Giring Paliyan, Gunungkidul. [Kontributor/Julianto]

SuaraJogja.id - Hajatan politik Pemilihan Umum (Pemilu) sebentar lagi bakal digelar. Para calon legislatif  (caleg) terutama, kini mulai tebar pesona demi menarik perhatian para konstituen di daerah pemilihannya. Tak cuma pasang baliho, tebar video gimmick atau blusukan, beberapa ternyata juga ada yang rutin melakukan usaha spiritual. 

Ya tak sedikit di antara para caleg yang mendatangi tempat-tempat sakral salah satunya adalah makam para tokoh yang memiliki sejarah sebagai seseorang yang sakti dan mendapat 'wahyu' sebagai seorang pemimpin. 

Salah satunya adalah Makam Ki Ageng Giring III yang berada di Kalurahan Sodo Kapanewon Paliyan Gunungkidul. Di makam ini memang menjadi tujuan para peziarah yang memiliki hajat ingin menduduki sebuah jabatan. 

"Kalau ramai sebetulnya malam jumat kliwon, selasa kliwon dan jumat legi. Tetapi tiap hari banyak peziarah," tutur salah satu dari lima juru kunci makam Ki Agung Giring III, Susilo saat ditemui Suarajogja.id. 

Baca Juga:Cek Bendungan Sumber PDAM, Bupati Gunungkidul Nekat Masuk ke Sungai Bawah Tanah Sedalam 104 Meter

Dia menambahkan, kini dan setiap menjelang Pemilu, pengunjung makam Ki Ageng Giring III kian bertambah banyak. Bahkan kini berlipat karena semakin banyak caleg-caleg yang berburu 'pulung' atau wahyu layaknya Ki Ageng Giring III tempo dulu. 

Kisah Ki Ageng Giring sendiri memang masih misteri dan hingga kini belum jelas kapan meninggalnya Ki Ageng Giring 1. Namun sebuah cerita tutur yang turun temurun disampaikan dari generasi ke generasi, Ki Ageng Giring III-lah tokoh yang mendapatkan wahyu degan (kelapa muda) gagak emprit sebagai cikal bakal Mataram Islam. 

Keberadaan Ki Ageng Giring tidak lepas dari Ki Ageng Pemanahan yang merupakan pendiri kerajaan Mataram Islam. Keduanya adalah murid Sunan Kalijaga dan seperti saudara kandung. 

Dalam cerita yang dikisahkan wahyu degan gagak emprit inilah yang kemudian justru diminum Ki Ageng Pemanahan yang juga sama-sama mendapatkan wahyu saat bertapa di Kembang Lampir. 

Dengan rasa kecewa dan memendam rasa marah, Ki Ageng Giring III akhirnya merelakan air kelapa muda diminum saudara seperguruannya tersebut, Ki Ageng Pemanahan. Degan gagak emprit itu diminum di rumahnya. 

Baca Juga:Sebanyak 5 Desa di Gunungkidul Dapat Bantuan Program Embung Geomembran untuk Cukupi Kebutuhan Air Pertanian

" Dan akhirnya Ki Ageng Pemanahan yang mulai membangun Kerajaan Mataram dengan membuka hutan yaitu Alas Mentaok atau sekarang dikenal dengan Kotagede," lanjutnya. 

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini

Tampilkan lebih banyak