"Kemudian ternyata teknik pemasangan dari chattra itu sudah mengalami kualitas penurunan juga dan itu akan membahayakan strukturnya itu sendiri. Jadi memasang chattra itu memang butuh kajian lagi," tandasnya.
"Kalau kita bersikukuh memasang chattra yang disusun van Erp itu apakah akan kuat dan kalau membahayakan pengunjung itu bagaiamana," imbuhnya.
Ditegaskan Aditya, pemasangan chattra itu harus memerhatikan konservasi dan keselamatan harus diutamakan. Sehingga tidak bisa asal-asalan.
"Karena dari saat dipasang itu sudah berbeda. Dia tidak pas, sehingga itu istilahnya harus disemen dan itu kan jelas akan membahayakan. Belum kalau tersambar petir, belum kalau gempa bumi, belum kalau ada erupsi merapi itu jelas akan sangat membahayakan kalau dipasang chattra dengan batu-batu yang sudah lapuk," pungkasnya.
Baca Juga:Dari Rafael Alun ke Kaesang: Mampukah KPK Buktikan Taji Lawan Gratifikasi 'Orang Dalam'?
Rencana Pemasangan Chattra Borobudur
Diketahui belum lama ini pemerintah merencanakan untuk memasang batu cattra di Candi Borobudur. Rencana itu menuai penolakan dari sejumlah pihak termasuk para peneliti dan akademisi.
Chattra merupakan payung bertingkat tiga yang dulunya diduga pernah terpasang di puncak Borobudur. Chattra juga dipercaya sebagai pelindung sehingga ditempatkan di puncak stupa.
Dugaan ini mulanya datang dari seorang insinyur Belanda, Theodore van Erp yang memimpin pemugaran Borobudur pada 1900-an. Saat itu van Erp menemukan kepingan – kepingan batu yang jika direkonstruksi diduga kuat merupakan sebuah chattra.
Namun, chattra tersebut kini hanya disimpan di Museum Cagar Budaya Borobudur karena dianggap tak memenuhi kriteria rekonstruksi secara arkeologis. Para arkeolog menganggap tidak pernah ada chattra di puncak Borobudur.
Baca Juga:Bantul Kukuhkan Agen Keselamatan untuk Kampanyekan Tertib Lalu Lintas
Informasi terbaru rencana pemasangan tersebut akhirnya batal dilakukan usai pro kontra yang muncul.