Menurutnya, persebaran informasi seputar krisis iklim memang belum populer di masyarakat, riset pun harus dilakukan dengan menganalisis informasi yang sudah terverifikasi sebagai hoaks oleh fact-checker. Tapi potensi persebaran misinformasi tentu akan meningkat jika publik mulai menaruh perhatian pada isu krisis iklim.
AI, dikatakan Novi, mampu menyaring dan menyanggah artikel atau konten yang diidentifikasi sebagai hoaks. Kendati demikian, penggunaan AI juga memiliki beberapa tantangan yang perlu dihadapi.
"Level akurasi fact checking menggunakan AI itu masih 30-90 persen. Sulit bagi AI untuk memfiltrasi konteks. Jangan sampai nanti informasi yang benar diidentifikasi hoaks," terangnya.
Saat ini, Novi bilang masih sulit bagi AI untuk memfilter konteks dalam Bahasa Indonesia. Mengingat sistem AI yang berkembang saat ini masih berbasis bahasa inggris.
Baca Juga:Revolusi Energi: UGM Kembangkan Hidrogen untuk Gantikan Bahan Bakar Fosil
Menurutnya, AI berbasis Bahasa Indonesia, bahasa daerah, serta istilah-istilah masyarakat masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Selain itu, isu etika terkait kebebasan berekspresi juga menjadi tantangan tersendiri dalam menggunakan AI dalam memerangi misinformasi krisis iklim.
Novi menambahkan, pengembangan AI harus dilandaskan pada kebutuhan masyarakat. Tentunya dengan basis data kearifan lokal dan nilai-nilai masyarakat. Jika tidak, AI justru berpotensi untuk memproduksi misinformasi dan hoaks itu sendiri.