Mori Menatap Duka: Pengalaman Paling Berkesan dalam Pameran Moda-Modif

Pameran Moda-Modif persembahkan ruang dialog melalui karya 'Mori' dan 'Five Stages of Grief'.

Yohanes Endra | Yulia Rosdiana Putri
Minggu, 22 Desember 2024 | 21:37 WIB
Mori Menatap Duka: Pengalaman Paling Berkesan dalam Pameran Moda-Modif
Patung 'Mori' menatap lukisan 'Five Stages of Grief' dalam Pameran Moda-Modif (Suara.com/Yulia Rosdiana Putri)

SuaraJogja.id - Apa yang terbesit dalam angan ketika mendengar duka?

Apa yang mengusik ketenangan ketika kepemilikan berakhir dengan kehilangan?

Penolakan diiringi kemarahan berujung penerimaan. Kita semua mengalaminya, dan mungkin akan terus diuji berulang kalinya.

Namun, sempatkah kita bertanya, mampukah kita benar-benar menatap duka, dengan kedua mata kita?

Baca Juga:Hadirkan ART MUSIC FESTIVAL 2022, Ini Sederet Acara yang Bisa Dinikmati di The 101 Yogyakarta Tugu

Duka yang sering diabaikan, yang acapkali disisihkan dengan pelarian berdalih kepentingan, kini berjejeran dengan indah nan menantang di atas dinding Galeri Rumah DAS. Duka tersebut dipanggil dengan Five Stages of Grief.

Lukisan Five Stages of Grief karya Bayu Aji Saputra, Fathi Mohammed, Narent, Sanju Muhammad, Zhalifun Nafsi (Suara.com/Yulia Rosdiana Putri)
Lukisan Five Stages of Grief karya Bayu Aji Saputra, Fathi Mohammed, Narent, Sanju Muhammad, Zhalifun Nafsi (Suara.com/Yulia Rosdiana Putri)

Five Stages of Grief adalah elemen kolaboratif dan interaktif yang diciptakan oleh lima seniman muda asal Universitas Sebelas Maret, Solo, Jawa Tengah. Mereka adalah Bayu Aji Saputra, Fathi Mohammed, Narent, Sanju Muhammad, Zhalifun Nafsi.

Berkat dukungan dan kepercayaan Dyan Anggraini Rais selaku pemilik Rumah DAS, kelima mahasiswa ini menyempurnakan program magang mereka dengan satu karya penuh makna yang berbicara.

Bersama teknik Graphite on Canvas, Bayu Aji Saputra dan kawan-kawan menorehkan lima tahapan duka dalam sapuan-sapuan tipis yang sejatinya mengusik. Sebab, tak semua orang berkesempatan melalui lima tahapan yang dicanangkan oleh psikiater Swiss-Amerika, Elisabeth Kübler-Ross tersebut.

Sebagian besar dari kita bertarung bertahun-tahun dalam penolakan (denial) dan berebut kursi dengan kemarahan (anger). Sebagian yang lain harus tawar menawar (bargaining) dengan diri sendiri demi menyambung kehidupan.

Baca Juga:JICAF #2 Telah Resmi Dibuka, Pameran Seni Ini Usung Tema Kolaborasi Antara Dunia Pendidikan dan Industri

Beberapa dari kita melewati ketiga tahapan dan menjebak diri dalam depresi (depression). Hingga hanya yang beruntung di antara kita yang berjabatan tangan dengan penerimaan (acceptance).

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Lifestyle

Terkini

Tampilkan lebih banyak