- Sineas senior Garin Nugroho menyatakan industri film Indonesia saat ini rapuh meskipun meraih jutaan penonton.
- Kesuksesan film yang dicapai murni berasal dari kreativitas warga, bukan keberhasilan pembangunan sistem pemerintah.
- Garin mendesak pemerintah segera membangun empat pilar ekosistem film: regulasi, fasilitas, dana, dan publikasi.
SuaraJogja.id - Di tengah euforia angka jutaan penonton yang kerap diraih film-film Indonesia belakangan ini, sineas senior Garin Nugroho justru memberikan sentilan kepada pemangku kebijakan.
Ia menilai industri film tanah air saat ini masih rapuh dan mengalami ketimpangan.
Garin menyebut bahwa kesuksesan film Indonesia saat ini bersifat sporadis dan tidak mencerminkan ekosistem yang sehat.
Menurutnya, angka penonton yang fantastis hanya dinikmati oleh segelintir kelompok industri. Sementara tak sedikit pelaku film lainnya berjuang tanpa dukungan sistem yang memadai.
Baca Juga:Warisan Terakhir Hamzah Sulaiman: Film 'Jagad'e Raminten' Ungkap Kisah Kabaret Inklusif Jogja
Garin menekankan bahwa lompatan beberapa film Indonesia yang terjadi saat ini murni lahir dari inisiasi dan kreativitas warga, bahkan tak hanya filmmaker. Bukan karena keberhasilan sistem pemerintah dalam membangun industri.
"Lompatan-lompatan industri, itu karena kreativitas, bukan karena sistem. Sehingga memang pemerintah itu perlu terima kasih sama warga dalam berbagai profesi ya," kata Garin ditemui di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin (12/1/2025).
Sutradara film Kucumbu Tubuh Indahku itu mengibaratkan kondisi perfilman Indonesia saat ini seperti lahan perkebunan yang tidak terawat.
Tanpa ekosistem yang dibangun oleh regulasi pemerintah. Hanya bibit-bibit tertentu yang mampu bertahan hidup.
"Kalau tanaman itu ekosistemnya belum jadi, yang tumbuh cuma satu, dua, tiga tanaman. Tanaman lain enggak jadi," ungkapnya.
Baca Juga:Terinspirasi Kisah Nyata! Film Horor 'Dasim' Bongkar Cara Jin Dasim Hancurkan Rumah Tangga
Kondisi ini menciptakan ilusi kesuksesan. Secara angka statistik nasional terlihat memukau. Namun secara fundamental, industrinya keropos.
"Sukses tapi banyak hal yang tidak terbangun. Itu kan industri yang rapuh," tandasnya.
Menanggapi fenomena ketimpangan ini, Garin meminta pemerintah tidak lagi menggunakan pendekatan 'tambal sulam'.
Ia mendesak pemerintah untuk turun tangan membangun empat pilar utama ekosistem perfilman yang selama ini diabaikan. Mulai dari peraturan (regulasi), dukungan fasilitas, dukungan dana, dan dukungan publikasi/kehumasan.
Tanpa perbaikan fundamental pada empat pilar tersebut, Garin memprediksi tren perfilman Indonesia akan terus tidak stabil.
"Boleh skala prioritas tapi harus dilakukan. Kalau enggak, jadi cuma gaduh di media aja kok. Industri yang rapuh dan gaduh," pungkasnya.