- Indonesia menghabiskan Rp160 triliun tiap tahun untuk kesehatan di luar negeri, padahal memiliki banyak fakultas kedokteran.
- Mendiktisaintek Brian Yuliarto menekankan peningkatan layanan dan fasilitas rumah sakit agar mampu bersaing global.
- Strategi fokus membangun "pusat unggulan" di beberapa rumah sakit pendidikan menjadi kunci menarik pasien internasional.
Sebagai organisasi yang telah lama berkecimpung dalam pendidikan dan kesehatan, Muhammadiyah dinilai memiliki fondasi kuat.
Dengan 24 program pendidikan dokter spesialis yang terus berkembang, Brian mengingatkan agar program ini tidak sekadar menjadi instrumen komersialisasi.
"Niat kita harus menghasilkan dokter-dokter berkualitas dan berintegritas. Kalau niatnya benar, keberkahan dan dukungan akan mengikuti. Tapi kalau dari awal orientasinya hanya bisnis, biasanya tidak akan bertahan," ungkapnya.
Akses pendidikan spesialis juga harus tetap memberi ruang bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu, menjaga misi sosial pendidikan sejalan dengan semangat pengabdian Muhammadiyah.
Baca Juga:Banyak iPhone hingga Mac Berserakan di Gedung FK, Warganet: Fix Sultan
Keberhasilan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang terverifikasi WHO sebagai tim medis darurat pertama dari Indonesia menjadi bukti konkret bahwa lembaga berbasis masyarakat mampu menembus standar global.
"Kita punya SDM, kita punya jaringan rumah sakit, kita punya organisasi yang kuat. Tinggal bagaimana kita fokus, jaga kualitas, dan punya visi besar," pungkas Brian.
Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan rumah sakit pendidikan harus diperkuat untuk mewujudkan visi Indonesia sebagai destinasi utama layanan kesehatan global, bukan lagi sekadar pasar bagi rumah sakit asing.
Kontributor : Putu Ayu Palupi