- Muhammad Shamsi Ali menyatakan keprihatinan atas meningkatnya sentimen anti-Islam dan kekerasan terhadap komunitas Muslim di Amerika Serikat.
- Situasi geopolitik dan retorika politik menjelang pemilihan presiden di Amerika Serikat memicu ketegangan sosial serta tindakan diskriminatif.
- Munculnya politisi muda yang independen menjadi harapan di tengah dominasi lobi politik pro-Israel yang selama ini kuat.
SuaraJogja.id - Imam Besar Islamic Center New York, Muhammad Shamsi Ali, mengaku khawatir dengan situasi geopolitik yang terus memanas antara Amerika Serikat, Iran, dan Israel.
Menurutnya, dinamika politik global saat ini memperlihatkan bagaimana Amerika Serikat semakin dianggap berpihak dalam konflik Timur Tengah, terutama terkait dukungan terhadap Israel.
"Donald Trump saat ini memang cukup anti-imigran, dan kebetulan saja Islam dianggap sebagai agama imigran dan karenanya kita menjadi bulan-bulanan juga," ujar Shamsi usai menerima penghargaan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026).
Tokoh asal Indonesia yang telah lama menetap di New York itu menilai situasi politik domestik AS ikut memengaruhi kehidupan komunitas Muslim di sana. Ia mengatakan retorika politik yang anti-imigran dan anti-Islam kerap memunculkan ketegangan sosial hingga aksi kekerasan.
Baca Juga:Polisi Sebut Kasus Tewasnya Pelajar di Kawasan Kridosono Bukan Klitih, Tapi Perselisihan Antar Geng?
Apalagi insiden penembakan sempat mengguncang komunitas Muslim. Menurutnya, peristiwa tersebut tidak bisa dilepaskan dari suhu politik Amerika yang meningkat menjelang pemilihan presiden.
"Penembakan kemarin itu tidak lepas dari suasana perpolitikan yang lagi naik sekarang karena akan ada pemilihan presiden di bulan November ini. Jadi itu akibat dari retorika seorang pemimpin yang anti kepada Islam, anti kepada imigran itu," paparnya.
Shamsi menambahkan, derasnya arus informasi dan media sosial membuat banyak anak muda di AS juga mudah terpapar provokasi maupun hoaks bernuansa kebencian.
Ia menilai narasi negatif terhadap Islam sering kali diperkuat oleh elite politik demi kepentingan elektoral.
"Remaja sekarang punya keterbukaan informasi di internet dan media sosial. Mereka terpapar dengan hoaks-hoaks atau pernyataan-pernyataan yang membangkitkan kemarahan itu," ungkapnya.
Baca Juga:Update Kasus Daycare Little Aresha, Polresta Jogja Siapkan Pelimpahan 13 Tersangka ke Kejaksaan
Di tengah konflik geopolitik yang memanas, Shamsi mengaku komunitas Muslim di Amerika kini diliputi kekhawatiran. Terlebih, ketegangan antara AS dan Iran berpotensi memperuncing sentimen terhadap umat Islam di negeri tersebut.
Namun komunitas Muslim di Amerika terus berupaya memberikan kontribusi positif di berbagai sektor kehidupan. Terlebih perubahan besar juga mulai terlihat dalam politik AS.
Dia menilai dominasi lobi politik pro-Israel yang selama puluhan tahun sangat kuat mulai mengalami tantangan dari generasi politisi muda. Salah satu contoh yang ia soroti adalah munculnya politisi Muslim seperti Zohran Mamdani di New York. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai tanda perubahan arah politik di Amerika Serikat.
"Kalau dulu perpolitikan di Amerika itu banyak dikontrol oleh lobi politik Zionis Yahudi. Sekarang justru banyak politisi muda yang terbuka mengatakan bahwa kita tidak perlu lagi AIPAC, kita ingin independen," ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Shamsi Ali mengaku tetap menyimpan kekhawatiran, terutama menjelang pelaksanaan salat Iduladha yang akan dihadiri puluhan ribu jamaah Muslim di New York.
Trauma pasca-insiden kekerasan dan meningkatnya tensi politik global membuat pengamanan komunitas Muslim menjadi perhatian serius.