- Piala Paku Alam 2026 diselenggarakan di Yogyakarta pada 14 Juni 2026 dengan memperlombakan 155 kuda dalam 18 race.
- Ajang ini memadukan kompetisi pacuan kuda profesional dengan hiburan keluarga, unsur budaya, dan kegiatan kreatif bagi masyarakat.
- Penyelenggaraan bertujuan membangkitkan ekosistem olahraga berkuda serta melestarikan tradisi melalui kolaborasi antara Sarga.co dan Kadipaten Pakualaman Yogyakarta.
SuaraJogja.id - Tradisi pacuan kuda di Indonesia kembali mendapat panggung melalui penyelenggaraan Piala Paku Alam 2026 di Lapangan Pacuan Kuda Sultan Agung Yogyakarta, Minggu (14/6/2026). Ajang yang menjadi seri kedua dari rangkaian Indonesia's Horse Racing (IHR) Series itu tak hanya menghadirkan kompetisi olahraga, tetapi juga memadukan unsur budaya, hiburan modern, hingga aktivitas ramah keluarga.
Sebanyak 155 ekor kuda dari 10 daerah di Indonesia turun berlaga dalam 18 race untuk memperebutkan total hadiah senilai Rp600 juta. Peserta berasal dari Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.
CEO Sarga.co sebagai penyelenggara IHR, Nugdha Achadie menyatakan, Piala Paku Alam menjadi bagian dari komitmen membangun ekosistem sport entertainment berkuda di Indonesia. "Tujuan kami adalah membangkitkan kembali tradisi dan semangat olahraga pacuan kuda di Indonesia, bukan hanya untuk melestarikan, tetapi juga mengembangkan potensinya menjadi bagian dari kebanggaan nasional," paparnya.
Menurutnya, pacuan kuda tidak lagi diposisikan semata sebagai olahraga. Namun lebih dari itu sebagai pengalaman hiburan yang menggabungkan kompetisi, nilai budaya, serta hiburan modern.
Baca Juga:IHR: Piala Paku Alam 2026 Akan Digelar di Yogyakarta, Hadirkan Kemeriahan Pesta Karnaval
Untuk pertama kalinya, IHR berkolaborasi dengan Kadipaten Pakualaman dalam penyelenggaraan Piala Paku Alam. Sinergi tersebut diwujudkan melalui berbagai unsur budaya Jawa yang ditampilkan sejak pembukaan acara, termasuk parade dan kostum tradisional.
"Kami ingin menjadikan Piala Paku Alam sebagai pengalaman menonton olahraga yang dapat dinikmati semua kalangan, tidak hanya bagi insan pacuan kuda tetapi juga masyarakat luas yang ingin merasakan atmosfer kompetisi sekaligus kebanggaan budaya Indonesia," katanya.
Vice Presiden Marketing and Operation Sarga.co, Kevin Jonathan menambahkan, dalam Piala Paku Alam yang mengusung tema Carnival Race kali ini, berbagai aktivitas pendukung yang menyasar keluarga dan anak-anak ikut digelar. Mulai dari parade karnaval, playground, pembagian gratis popcorn dan cotton candy, face painting, hingga kegiatan mewarnai.
"Kami sangat ingin menghadirkan acara yang diminati anak-anak. Jadi orang tua bisa menikmati balapan tanpa khawatir karena anak-anak juga memiliki aktivitas sendiri di area acara," jelasnya.
Tidak hanya itu, acara juga dimeriahkan oleh Indonesia Cosrace, yakni perlombaan lari para cosplayer yang dibagi menjadi kategori pria dan wanita. Dua race terakhir diisi dengan kompetisi unik tersebut.
Baca Juga:IHR: Piala Paku Alam 2026 Siap Digelar di Yogyakarta, Hadirkan Kemeriahan Pesta Karnaval
Suasana semakin semarak dengan penampilan penyanyi dangdut Inul Daratista. Selain konser, penyelenggara juga menggelar kompetisi karaoke dengan pemenang yang mendapat kesempatan bernyanyi bersama Inul di atas panggung. "Ini bukan hanya tentang adrenalin dan persaingan para joki serta kuda terbaik, tetapi juga tentang kebersamaan keluarga, teman, dan komunitas," ujarnya.
Penyelenggara juga menggandeng komunitas Uma Musume dan para cosplayer dalam Indonesia Cosrace. Menurut Kevin, kolaborasi itu dilakukan karena komunitas tersebut memiliki ketertarikan besar terhadap dunia pacuan kuda dan aktif memberikan edukasi.
"Kami ingin membuatnya inklusif. Ke depan bukan hanya komunitas Uma Musume, tetapi seluruh komunitas cosplay bisa ikut berpartisipasi di Indonesia Cosrace," katanya.
Ketua Komisi Pacu Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi), Muchammad Munawir menjelaskan sejumlah kelas kini menerapkan sistem handicap. Melalui sistem ini, kuda yang memiliki prestasi lebih tinggi akan membawa beban lebih berat dibanding pesaingnya. "Tujuannya agar tidak ada satu kuda yang terlalu dominan. Dengan begitu peluang kemenangan bisa lebih merata dan balapan menjadi lebih seru," jelasnya.
Selain itu, panitia juga menghadirkan kelas khusus lokal DIY. Kelas tersebut hanya diikuti kuda yang dimiliki warga DIY dan belum pernah dijual keluar daerah.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap Kadipaten Pakualaman, trofi bergilir untuk race utama kelas terbuka jarak 2.000 meter akan diperebutkan setiap tahun. Kuda yang mampu menjuarai kelas tersebut sebanyak tiga kali berhak membawa pulang trofi tersebut secara permanen. "Kelas lokal ini merupakan usulan dari KGPAA Paku Alam agar pemilik kuda di Yogyakarta kembali antusias dan memiliki ruang kompetisi sendiri," katanya.