- Sebanyak 68 kepala keluarga di Dusun Kemesu kesulitan air bersih setiap kemarau karena tinggal di perbukitan kapur.
- Warga terpaksa membeli tangki air dari Wonogiri seharga Rp120.000 setelah tandon pribadi mereka mengering dalam satu bulan.
- Warga telah menerima puluhan bantuan tangki air namun tetap mengharapkan pembangunan sumur bor permanen dari pemerintah.
SuaraJogja.id - Sekitar 68 kepala keluarga (KK) di Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, harus bertahan di tengah krisis air tiap musim kemarau. Bantuan darurat yang tiap tahun datang dinilai tidak menyelesaikan persoalan tersebut.
Seorang warga Dusun Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Gunungkidul, Sutopo (46) mengungkap bahwa mereka tinggal di kawasan perbukitan kapur tanpa sungai maupun sumber air yang dapat dimanfaatkan. Warga selama ini hanya mengandalkan air hujan yang ditampung dalam tandon pribadi.
"Kami memang sudah bertahun-tahun tidak mendapati sumber air, baik itu sungai maupun sungai bawah tanah," kata Sutopo saat dihubungi, Selasa (28/7/2026).
Memasuki musim kemarau, cadangan air hujan hanya mampu bertahan sekitar satu bulan. Setelah tandon mengering, warga harus membeli air tangki untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga.
Baca Juga:Kisah Fendi, Bocah Gunungkidul yang Rela Putus Sekolah Demi Rawat Sang Ibu
"Setelah itu, kami harus berpikir untuk bisa membeli air tangki," ujarnya.
Satu tangki air dijual seharga Rp120.000 dan rata-rata hanya cukup digunakan satu keluarga selama dua minggu. Air tersebut dipakai untuk mandi, mencuci, memasak, hingga memenuhi kebutuhan minum ternak.
Ia menuturkan bahwa pasokan air itu pun harus didatangkan dari Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Keterbatasan sumber air di wilayah Rongkop membuat warga tidak memiliki banyak pilihan selain mengikuti harga yang ditetapkan penyedia air tangki.
"Susah. Iya, betul sekali. Jadi memang kami manut dengan tangki, sopir tangki harganya berapa karena memang jarak dan waktunya juga lumayan," ucapnya.
Sebenarnya Sutopo tidak tinggal diam terkait persoalan ini. Ia sudah beberapa kali mengajukan proposal bantuan kepada pemerintah, lembaga zakat, yayasan, pondok pesantren, hingga pihak swasta.
Baca Juga:Sinergi Lumbung Mataraman dan Badan Gizi Nasional: Petani Punk Gunungkidul Siap Pasok Dapur MBG
Beberapa bantuan air yang diperoleh kemudian ditampung di tandon umum dan dibagikan kepada warga.
Sutopo menyebut bantuan yang telah masuk sepanjang 2026 mencapai sekitar 50 tangki. Bantuan tersebut berasal dari sejumlah pihak, termasuk BPBD, yayasan, pondok pesantren, dan perusahaan.
Namun, bantuan air hanya menjadi penyangga sementara karena musim kemarau diperkirakan masih berlangsung. Warga pun masih membutuhkan pasokan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Meski bantuan terus diberikan, ia berharap ada solusi yang lebih permanen agar warga tidak harus berulang kali mengajukan proposal dan bergantung pada kemurahan pihak luar.
"Untuk ke depannya karena saya sudah bertahun-tahun untuk selalu membuat proposal kepada pemerintah, kepada yayasan, memungkinkan saya juga istilahnya malu ya dalam arti meminta terus-menerus," tuturnya.
Warga Kemesu berharap pemerintah dapat melakukan pencarian sumber air bawah tanah dan membangun sumur bor di wilayah mereka. Langkah itu dinilai lebih berkelanjutan dibandingkan mengandalkan distribusi air tangki yang harus dilakukan berulang setiap tahun.