- Pemasangan Regol Ayom di Malioboro oleh Pemda DIY pada Senin (31/8/2026) justru menyulitkan mobilitas kaum difabel.
- Sekda DIY menyatakan akan melakukan penyesuaian desain dan penempatan petugas guna mengatasi keluhan akses pejalan kaki tersebut.
- Ketua GIPI DIY menilai kebijakan kawasan pejalan kaki berpotensi meningkatkan kualitas wisata jika dimitigasi dengan baik.
Secara terpisah Ketua DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardyanto menyatakan, rencana full pedestrian Malioboro sebagai peluang besar untuk meningkatkan kualitas kawasan wisata.
"Namun peluang tersebut hanya bisa diwujudkan apabila pemerintah terlebih dahulu memastikan mitigasi dampak terhadap pelaku industri pariwisata," tandasnya.
Bobby menilai kebijakan full pedestrian dapat memberikan citra positif dan memperkuat daya tarik Malioboro seiring perubahan zaman dan pergeseran pasar wisatawan. Tetapi mitigasi terhadap dampak dari Malioboro full pedestrian terhadap industri pariwisata yang terdampak, seperti akomodasi dan restoran harus diperhatikan.
Sebab perubahan tersebut bukan sekadar persoalan menutup jalan untuk kendaraan. Jika ditata dengan benar, full pedestrian justru dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kelas Malioboro. Bahka kawasan tersebut dinilai berpotensi menjadi destinasi yang lebih nyaman sekaligus memiliki segmentasi pasar yang lebih kuat.
Baca Juga:Bukan Sekadar Spot Foto, Ini Realita Pahit Penyandang Disabilitas Saat Berwisata ke Tamansari
"Ini bagian dari meleverage Malioboro menjadi lebih berkualitas dan memberikan kenyamanan terhadap wisatawan yang berkunjung di area tersebut," katanya.
GIPI bahkan menilai penerapan full pedestrian dapat efektif untuk meningkatkan kunjungan sekaligus mengubah segmentasi pasar Malioboro. Namun Bobby mengingatkan pemerintah agar tidak mengabaikan dampak kebijakan tersebut.
Sebab selain persoalan akses dan infrastruktur terselesaikan, pekerjaan rumah pemda justru dinilai akan bergeser pada bagaimana menata produk dan aktivitas ekonomi di Malioboro. Kawasan itu harus memiliki segmentasi produk yang jelas.
"Yang menjadi PR utama adalah menata produk Malioboro agar bisa tersegmentasi dengan baik dan saling melengkapi antara UMKM dan industrinya sendiri," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi
Baca Juga:Penataan Sumbu Filosofi Yogyakarta Meluas, Panggung Krapyak hingga Eks ABA Direvitalisasi