- Rika Wulandari dan Suwarno, warga Kota Yogyakarta, terkejut karena masuk desil 10 tanpa pernah didata petugas survei ekonomi.
- Data fasilitas rumah dan listrik mereka tidak sesuai kenyataan, serta kepesertaan bansos serta KIS mereka mendadak dihentikan pemerintah.
- Keduanya berharap pemerintah memperbaiki akurasi pendataan agar benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi warga yang sebenarnya.
SuaraJogja.id - Rika Wulandari, janda anak, warga RW 07, Gowongan, Kota Yogyakarta shock. Bilamana tidak, dia mendapatkan informasi kalau masuk desil 10.
Padahal dirinya tak pernah punya barang mewah. Pasca cerai dengan suaminya 3 tahun lalu, perempuan 50 tahun ini tinggal di rumah sederhana milik orang tuanya. Tinggal di sepetak rumah berdinding bambu, tanpa ada TV apalagi kulkas, Rika juga tak punya pekerjaan tetap.
"Bisa dilihat sendiri saya tinggal di rumah gedek (bambu-red), tidak ada barang mewah. Ada motor saja saya dapat dari saudara," ungkap Rika di rumahnya, Jumat (28/8/2026).
Dia mengaku baru mengetahui dirinya masuk desil 10 ketika informasi mengenai desil ramai diperbincangkan warga. Ia mengaku sebelumnya tidak mengetahui apa arti desil maupun bagaimana penilaiannya dilakukan.
Baca Juga:Garebeg Maulud 2026 Digelar Tertutup, Tradisi Rebutan Gunungan untuk Warga Dihapus
Bahkan dia tidak pernah didatangi petugas survei ekonomi untuk didata. Namun tiba-tiba Rika dapat informasi masuk desil 10.
"Saya enggak tahu kriterianya apa," ujarnya.
Yang membuat Rika semakin heran adalah sejumlah data yang menurutnya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dalam data, daya listrik rumahnya tercatat 1.300 watt.
Padahal menurut Rika listrik yang digunakan hanya 450 watt. Data mengenai fasilitas toilet juga disebut tidak tepat.
"Yang kami punya itu kloset jongkok, tapi kok di situ ditulis duduk. Terus listrik kami 450, kok di situ ditulis 1.300," katanya.
Baca Juga:Kekhawatiran Kondisi 1998 Kembali Terjadi, Aktivis 98 Edy Khemod Sudah Tahu Ini Akan Terjadi
Kehidupan Rika pun jauh dari kesan keluarga dengan kemampuan ekonomi berlebih. Ia sehari-hari tidak memiliki pekerjaan tetap.
Rika mengaku membantu orang lain membeli atau mengurus berbagai keperluan dan mendapatkan uang jasa dari pekerjaan tersebut.
Mantan suaminya bekerja sebagai buruh harian lepas di bidang bangunan. Dari empat anaknya, satu telah berkeluarga sehingga tinggal tiga anak yang masih menjadi bagian dari keluarganya. Salah satunya merupakan penyandang disabilitas tuli.
Kondisi ekonomi tersebut membuat Rika mempertanyakan ketika dirinya justru tercatat dalam desil tinggi. Ia bahkan mengaku selama ini tidak pernah menerima bantuan sosial (bansos) berupa beras maupun uang.
Persoalan semakin terasa ketika kepesertaan (Kartu Indonesia Sehat) KIS yang sebelumnya digunakan untuk mengakses layanan kesehatan justru dihentikan.
"Enggak pernah dapat bantuan sosial beras ataupun uang. Yang kedua terkait kesehatan, kita masuk KIS dari pemerintah, tahu-tahu di-stop atau diblokir," jelasnya.