- Kampus swasta di Yogyakarta menghadapi tekanan finansial pada 2026 akibat penurunan jumlah mahasiswa baru secara drastis.
- STIPRAM Yogyakarta merekrut mahasiswa dari daerah terdampak bencana melalui program magang luar negeri dan bantuan biaya kuliah.
- STIPRAM Yogyakarta mengintegrasikan Pendidikan Khas Kejogjaan ke dalam pembelajaran untuk mengenalkan budaya lokal kepada mahasiswa.
SuaraJogja.id - Persaingan merebut mahasiswa baru (maba) masih saja sengit. Meski pemerintah sudah membatasi kuota maba bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN), banyak kampus negeri masih untuk membuka jalur mandiri hingga Juli 2026.
Akibatnya kampus swasta di Yogyakarta harus kerja keras mencari cara lain agar tetap bertahan karena mengalami tekanan finansiam dan kesulitan beroperasi. Hal ini disebabkan penurunan jumlah mahasiswa baru lebih dari 20-30 persen pada 2026 ini.
Sebut saja Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta yang memilih strategi berbeda untuk mendapatkan maba. Diantaranya memberi ruang bagi mahasiswa dari daerah terdampak bencana seperti NTT, Sumatra, Kalimantan dan lainnya melalui program magang luar negeri sekaligus penerapan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).
"PTN juga buka jalur mandiri sampai banyak itu ya, sampai bulan Juli, jadi kita kampus swasta ini harus benar-benar cari alternatif untuk bisa dapat mahasiswa baru," papar Wakil Ketua I STIPRAM, Mochammad Nursyamsu di Yogyakarta, Senin (31/8/2026).
Baca Juga:Geruduk DPRD, BEM DIY Tagih UU Perampasan Aset Agar Tak Jadi Dokumen yang Terparkir di DPR
Menurut Nursyamsu, dengan menampung mahasiswa-mahasiswa yang terdampak bencana untuk bisa melanjutkan pendidikannya ditengah kekurangan finansial, mereka akhirnya mendapatkan sekitar 500 maba. Tidak sekadar menjual ijazah, mahasiswa diberikan pengalaman kerja sekaligus peluang pendapatan sehingga tidak bergantung pada keluarga yang tengah mendapatkan cobaan bencana.
"Kalau kita lihat juga, ternyata setelah kita coba dengan program yang baru ini, itu sangat membantu mereka," katanya.
Program tersebut mewajibkan mahasiswa memiliki pengalaman bekerja di luar negeri, terutama melalui program magang. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman internasional, tetapi juga mendapatkan fee atau gaji selama menjalani program.
Skema itu dapat membantu mahasiswa membiayai kuliah mereka. Strategi tersebut menjadi semakin penting bagi mahasiswa yang berasal dari daerah terdampak bencana, termasuk Nusa Tenggara Timur (NTT).
Nursyamsu menyebut hampir 75 mahasiswanya berasal dari NTT dan mayoritas mahasiswa S1. Sebagian mahasiswa bahkan tidak pulang ke daerah asal saat liburan semester akibat gempa bumi magnitudo 7,7 berdampak terhadap keluarganya.
Baca Juga:Waspadai Pelajar Terseret Aksi Demo, Disdikpora DIY Perketat Pengawasan Sekolah
"Kita itu kuliah kan hanya sekitar Rp40 juta lah habis selesai. Mereka pulang dapat Rp100 juta. Beberapa mahasiswa kami dari NTT ada yang baru, ada juga mahasiswa lama. Makanya kemarin beberapa mahasiswa itu tidak pulang dan akhirnya ikut magang untuk mendapatkan biaya hidup," jelasnya.
STIPRAM juga menyiapkan perlakuan khusus apabila ada mahasiswa yang benar-benar terdampak secara ekonomi. Kampus akan membantu mereka tentang pembiayaan perkuliahan.
Tidak berhenti pada bantuan biaya kuliah, kampus juga akan membantu mencarikan pekerjaan sampingan agar mahasiswa tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikannya.
"Jangan sampai mahasiswa dari daerah terdampak terpaksa berhenti kuliah hanya karena kondisi ekonomi keluarga," tandasnya.
Selain menampung mahasiswa terdampak bencana, lanjutnya, kampus tersebut juga mulai mengintegrasikan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) ke dalam pembelajaran. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya nguri-uri budaya Jawa, khususnya budaya Yogyakarta.
Dorongan tersebut, menurutnya, sejalan dengan arahan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X yang meminta perguruan tinggi memberi ruang bagi pembelajaran yang berkaitan dengan budaya Yogyakarta. Salah satunya menyambut maba dengan bagi-bagi Sego Berkat.