- Kampus swasta di Yogyakarta menghadapi tekanan finansial pada 2026 akibat penurunan jumlah mahasiswa baru secara drastis.
- STIPRAM Yogyakarta merekrut mahasiswa dari daerah terdampak bencana melalui program magang luar negeri dan bantuan biaya kuliah.
- STIPRAM Yogyakarta mengintegrasikan Pendidikan Khas Kejogjaan ke dalam pembelajaran untuk mengenalkan budaya lokal kepada mahasiswa.
"Sego berkat dengan bungkus daun jati memiliki filosofi yang bagus, yakni sebagai bentuk syukur dan solidaritas serta doa kebaikan," jelasnya.
PKJ belum berdiri sebagai mata kuliah tersendiri. Materinya akan diintegrasikan ke dalam mata kuliah yang sudah ada. Pembelajaran budaya tersebut tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa asli Yogyakarta.
Mahasiswa dari luar daerah juga akan mendapatkan pemahaman mengenai budaya Jawa dan Yogyakarta. Dengan demikian, mahasiswa dari NTT maupun daerah lain yang menempuh pendidikan pariwisata di Yogyakarta bukan hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja global, tetapi juga diharapkan membawa nilai-nilai budaya Indonesia ketika bekerja di luar negeri.
"Kami ingin bagaimana budaya Jawa, terutama Yogyakarta ini, bisa terus dipertahankan. Walaupun itu di kampus, kampus harus selalu mendukung tentang itu," katanya.
Baca Juga:Geruduk DPRD, BEM DIY Tagih UU Perampasan Aset Agar Tak Jadi Dokumen yang Terparkir di DPR
Nursyamsu berharap mahasiswa dan lulusannya yang bekerja di luar negeri menjadi bagian dari penyebaran hospitality khas Indonesia. Kampus tersebut bahkan tengah menjajaki kerja sama dengan Badan Pelayanan Perlindungan Pekerja Migran (BP3MI) untuk menyiapkan tenaga kerja yang akan bekerja ke luar negeri melalui jalur legal.
"Harapan kita terutama budaya Jawa kita bisa rukun, kompak, gotong royong. Nah, ini mengawali bagaimana hospitality orang Indonesia itu bisa muncul," imbuhnya.
Kontributor : Putu Ayu Palupi