- Dokter Iwan Budhiharto menyatakan produk sel punca legal di Indonesia wajib bersumber dari manusia, bukan dari hewan atau tumbuhan.
- Terapi sel punca di Indonesia hanya boleh dilakukan oleh dokter berkompeten di fasilitas kesehatan resmi seperti rumah sakit dan klinik utama.
- Yogyakarta berpotensi mengembangkan wisata medis dan kebugaran, namun masih terkendala perlunya edukasi serta penguatan sumber daya manusia.
Padahal banyak pasien stem cell banyak berasal dari luar negeri seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia. Di tingkat Asia, Malaysia dan Jepang juga merupakan pasar yang besar.
Menurut Iwan, kedatangan pasien asing menunjukkan tenaga ahli dan produk kesehatan Indonesia sebenarnya memiliki daya saing. Pasien dari negara lain bahkan rela datang ke Indonesia dan tinggal beberapa hari untuk menjalani pengobatan.
"Karena pasien-pasien asing datang ke Indonesia. Itu artinya mereka mengakui keahlian dan juga produk Indonesia," katanya.
Di Yogyakarta, peluang tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi sektor kesehatan dengan pariwisata. Pasien yang datang untuk mendapatkan layanan medis tidak harus hanya menghabiskan waktu untuk berobat.
Baca Juga:Direproduksi Antar Generasi, 200 Lebih Kasus Bullying Terjadi di Kota Jogja
Ketika tidak menjalani tindakan, mereka dapat menikmati berbagai destinasi wisata yang tersedia di Yogyakarta.
"Daripada bengong menunggu yang sakit, dia bisa ke Borobudur, ke Keraton, ke kuliner atau apa, dan tentu menginap juga kan sambil jalan-jalan," ujarnya.
Namun untuk pengembangan wisata medis, Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar berupa edukasi di tingkat masyarakat. Masyarakat perlu memahami layanan kesehatan yang dipasarkan kepada wisatawan asing harus ditopang tenaga profesional, fasilitas yang memenuhi ketentuan, serta informasi yang benar.
"Yang jadi kendala adalah masyarakat Indonesia sendiri. Mereka masih menganggap bahwa produk dalam negeri itu mutunya kurang dibandingkan produk luar negeri," ungkapnya.
Ia berharap semua pihak mengambil peran untuk mengedukasi masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki tenaga ahli dan produk kesehatan yang mampu bersaing dengan negara lain. Dengan demikian, pengembangan medical tourism tidak cukup hanya menjual paket pengobatan sekaligus wisata.
Baca Juga:Warganet Khawatir Girder Tol Jogja-Solo Rawan Roboh, Kontraktor Beri Penjelasan
Hal ini penting mengingat edukasi mengenai layanan medis yang legal dan benar justru menjadi fondasi agar Indonesia tidak hanya menjadi tujuan wisatawan. Namun lebih dari itu juga dipercaya sebagai destinasi layanan kesehatan.
"Berarti kita perlu edukasi bahwa ini lho, kita itu sudah punya produk yang bagus dan diakui oleh luar negeri," tandasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua I Bidang Akademik Stipram, M Nur Syamsu, mengatakan perkembangan wellness tourism atau wisata kebugaran yang marak saat ini menjadi peluang baru bagi Yogyakarta. Pariwisata saat ini tidak lagi semata-mata tentang perjalanan dan hiburan, tetapi juga mulai diarahkan pada pengalaman yang memberikan manfaat bagi kesehatan dan kebugaran.
"Sekarang ini pariwisata tidak hanya pergi berwisata saja, tetapi mereka juga ada yang bertujuan untuk kesehatan. Apalagi sekarang ada wellness tourism," ujarnya.
Ia menilai Yogyakarta memiliki modal kuat untuk mengembangkan konsep tersebut. Sebab propinsi ini mempunyai destinasi wisata, budaya, kuliner serta berbagai aktivitas olahraga yang dapat dikombinasikan dengan layanan kesehatan.
Apalagi perguruan tinggi mulai melakukwn penyiapan sumber daya manusia (SDM). Konsep wellness tourism telah masuk dalam pembelajaran pada jenjang S2 dan S3.