SuaraJogja.id - Sepanjang tahun 2020, dari bulan Januari hingga Mei tercatat 560 perkara diajukan ke Pengadilan Agama Kabupaten Bantul. Sebanyak 432 perkara merupakan kasus perceraian.
Humas Pengadilan Agama Kabupaten Bantul, Muh Dalhar Asnawi mengatakan dari 432 perkara, 123 merupakan kasus talak yang diajukan pihak pria. Sedangkan 309 lainnya merupakan kasus gugat cerai yang diajukan oleh pihak perempuan.
Selain itu juga terdapat satu kasus harta bersama, untuk menentukan harta gono gini pernikahan. Kasus lainnya adalah perkara dispensasi pernikahan, sebanyak 70 kasus. Dalhar menjelaskan, dispensasi diajukan untuk menyelenggarakan pernikahan bagi mempelai di bawah umur.
"Sekarang kan batas minimal menikah untuk perempuan 19 tahun. Jadi, yang usianya di bawah itu biasanya mengajukan dispensasi pernikahan," kata Dalhar ditemui di Pengadilan Agama Rabu (20/5/2020).
Menurut penuturannya, dengan peraturan baru yang menyatakan batas minimum usia pernikahan adalah 19 tahun. Sehingga mempelai wanita dengan usia di bawah batas perlu mengajukan dispensasi agar dapat melangsungkan pernikahan.
Dalhar juga menyebutkan, bahwa kasus perceraian didominasi oleh masyarakat umum. Sedangkan kasus perceraian oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS) hanya berjumlah 10% dari keseluruhan kasus perceraian. Sebagian besar yang mengajukan perceraian adalah masyarakat berusia di atas 30 tahun.
Dari sebagian besar perkara yang diajukan, faktor ekonomi banyak menjadi alasan seseorang mengajukan perceraian. Dalhar bahkan mengatakan, dari faktor tersebut sering terjadi adanya Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Namun, dari jumlah keseluruhan perceraian terdapat 10-15% yang berhasil rujuk kembali.
Dalhar mengimbau agar masyarakat dapat lebih mempertahankan rumah tangganya. Terutama jika masalah pemicu adalah hal yang masih bisa di bicarakan. Ia meminta masyarakat untuk dapat melakukan komunikasi keluarga.
"Imbauan saya, kalau rumah tangga masih bisa dipertahankan dan itu masalah ekonomi. Saya kira bisa lebih di komunikasikan," imbuhnya.
Baca Juga: Hotel di DIY Mulai Buka Lagi Awal Juni, SOP New Normal Disiapkan
Selama pandemi, pelayanan di Pengadilan Agama Kabupaten Bantul dilakukan secara online. Persidangan juga dilakukan secara terbatas. Akibatnya, jumlah pengajuan perkara menurun. Dalhar menilai, hal tersebut disebabkan belum banyak masyarakat yang menguasai teknologi untuk pendaftaran secara online.
Berita Terkait
-
Terjadi di Bantul, Dinkes Sebut Pasien Sembuh Bisa Positif COVID-19 Lagi
-
Update Terbaru Klaster COVID-19 Indogrosir, Satu Pasien Sembuh
-
Terdampak COVID-19, Sebanyak 10 Perusahaan di Bantul Tak Sanggup Bayar THR
-
Efek Pelonggaran Transportasi, Bantul Jadi Wilayah Terparah Akibat Covid-19
-
Najwa Shihab Unggah Foto Peti Mati Bayi, Netizen: Insya Allah Surga
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Jelang COP31, Jaringan Orang Muda Kritik Eksploitasi Alam di Jogja, Rakyat yang Tanggung Akibatnya
-
Korban Luka Kericuhan Malioboro Capai 116 Orang, 13 Jalani Dirawat Inap
-
Bukti Negara Hadir Tingkatkan Kesehatan Masyarakat: Program CKG Sudah Deteksi Medis 105 Juta Orang
-
Usung Pelestarian Budaya Berkelanjutan, Ini Rangkaian Acara Tentrem Cultural Week 2026
-
JPW Pertanyakan Sikap Humanis Polda DIY: Ada Pelempar Berlindung di Balik Barikade Polisi