Dari sinilah Kampung Batik Siberkreasi tercipta dan direspon positif oleh Menteri Komunikasi dan Informasi, Rudiantara.
Bahkan pada 2 Oktober 2018 lalu, Kementrian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) Republik Indonesia meresmikan Kampung Batik Siberkreasi di Kampung Batik Manding. Perpaduan batik di era digital itupun kemudian menjadi suatu yang khas di Kampung Batik Manding.
Guntur menyebut saat ini ada sebanyak 15 rumah yang menyediakan batik yang dikelola oleh koperasi.
Ia sendiri menggunakan koperasi dengan harapan tidak ada persaingan yang tidak sehat antara pembatik satu dan yang lainnya. Setiap akhir tahun Sisa Hasil Usaha (SHU) dibagikan kepada ibu-ibu yang merupakan pembatik.
“Masing-masing rumah memilki desain batik yang berbeda tergantung pemiliknya, namun yang khas di Kampung Baik manding ini ialah motif Manding dan Wonopawiro,” beber Guntur.
Seiring dengan seleksi alam, kini hanya ada 2 Kepala Keluarga yang serius menekuni batik karena sebagian besar ibu rumah tangga di kampung tersebut menganggapnya tidak memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Sehingga batik hanya digunakan sebagai profesi sambilan.
Kendati demikian Guntur dan istrinya tak pernah berkecil hati. Keduanya kini justru disibukkan dengan kegiatan pemberdayaan berkaitan dengan batik di kalurahan-kalurahan lain yang ada di seluruh Gunungkidul.
Guntur mengaku bersama istrinya memang sudah melakukan gerilya ke kalurahan-kalurahan sejak tahun 2012 yang lalu.
Kini mereka berdua telah melakukan pemberdayaan batik di 14 Kelurahan yang tersebar di wilayah kabupaten Gunungkidul.
Baca Juga: DIY Diterpa Angin Kencang, BMKG Beberkan Alasannya
Bekerjasama dengan pemerintah kelurahan setempat, dirinya bersama istrinya melakukan pemberdayaan dalam rangka mempertahankan eksistensi batik yang sesungguhnya.
"biasanya saya diminta untuk membuatkan motif batik masing-masing kalurahan sesuai dengan ciri khas mereka," ungkapnya.
Guntur mengaku kini telah menciptakan setidaknya 14 motif batik dari masing-masing Kelurahan yang bekerjasama dengan dirinya. Motif batik yang ia ciptakan didasarkan pada sejarah perkembangan Kelurahan tersebut.
Jika tidak ada sejarah maka motif yang ia ciptakan akan menonjolkan produk unggulan Kelurahan tersebut.
Dia mencontohkan untuk batik sinuwun yang sengaja dia ciptakan untuk padukuan Jelok. Saat datang pertama kali ke desa wisata Jelok tersebut ia mempertanyakan sejarah perkembangan dari desa wisata tersebut. Namun karena tidak memiliki sejarah Desa jelok maka ia Lantas membuat motif batik sinuwun.
"Kebetulan di Desa Wisata Jelok ada menu andalah Gudeg Sinuwun, gudeg berbahan dasar jantung pisang dikombinasi dengan ikan kali. Saya kombinasikan semuanya menjadi motif Sinuwun," terangnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
- 11 HP Murah untuk Ojol, Baterai Awet dan Layar Terang agar Tetap Nyaman di Jalan
- Persija dan PSM Masuk Daftar 24 Klub Penunggak Gaji Pemain Versi Data Terbaru APPI
- 7 Sepatu Slip On Lokal yang Empuk dan Anti Pegal untuk Kerja Komuter, Mulai Rp100 Ribuan
Pilihan
-
Dua Eks Kapolri Diisukan Ditangkap, Polri Buka Fakta 4 Tersangka Kasus Penyadapan Prabowo
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
Terkini
-
Misi Hijau JCWF 2026: Wujudkan Wisata Berkelanjutan Lewat Kolaborasi Lintas Sektor
-
Jelajah Jogja Cultural Wellness Festival 2026: Sensasi Pemulihan Diri Berbalut Kearifan Budaya
-
Tuan Rumah JCWF & Munas DPP PUTRI 2026, Loman Park Hotel Dorong Sinergi Wellness-Pariwisata
-
Perempuan Tak Punya Pilihan Berhenti Haid, Pajak Pembalut 11 Persen Dinilai Nodai Keadilan Gender
-
Kota Jogja Vs Gunungkidul: Jarak Kualitas Hidup Ini Ternyata Masih Jauh!