Scroll untuk membaca artikel
Yasinta Rahmawati | Rosiana Chozanah
Minggu, 30 Agustus 2020 | 10:00 WIB
Para pengurus komunitas Sahabat Cempluk. (Dok. Sahabat Cempluk)

Salah satu penggagasnya, Ian Sofyan, mengatakan Sahabat Cempluk dibangun atas dasar keinginan untuk mengedukasi pasien Lupus mengenai penyakitnya. Tidak hanya itu, ia dan ketiga temannya juga ingin membesarkan hati pasien untuk menerima kondisinya.

"Lupus itu proses penyembuhannya lama, musti telaten, itu yang kemudian kita perlu informasikan kepada pasien. Bersama teman-teman, kita membuat Sahabat Kupu. Kita juga mendampingi pasien anak dan keluarganya di rumah sakit," tutur Ian, yang juga mengidap lupus dari 1998 silam.

Ia kemudian bercerita mengenai tantangan terberat yang dialami odapus, terutama dalam masa terberat pasien ketika mengalami kekambuhan yang parah. Tidak hanya secara fisik, pada masa ini seorang odapus juga mengalami mental breakdown.

"Kami mendampingi untuk itu sebenarnya, membesarkan hati pasien. Berbagi pengalaman dari sesama penyintas tentang apa yang dirasakan, secara fisik maupun psikis. Menjadi role model satu sama lain. Semua bisa saling meotivasi dan saling mengisnpirasi," sambung perempuan 48 tahun ini saat Suarajogja.id bertandang ke kediamannya, Rabu (26/8/2020).

Baca Juga: Lebih Dekat dengan Vero, Sosok Inspiratif di Balik Tempat Nasi Gratis Jogja

Sahabat Cempluk juga aktif memberi informasi melalui media sosial dan video yang diunggah di kanal YouTube Sahabat Cempluk. Proses kreatifnya juga dibarengi dengan berkonsultasi dengan dokter pemerhati Lupus. Informasi yang dibawakan dikemas secara lebih ringan sehingga mudah dipahami, baik bagi penyintas Lupus maupun masyarakat umum.

Melanjutkan sekolah bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pasien, terutama dengan perubahan penampilan dan penurunan kemampuan fisik saat pasien Lupus sedang flare. Selain harus bolak-balik izin sekolah, odapus juga harus beristirahat dalam jangka waktu cukup lama.

Agar Sahabat Cempluk mendapat dukungan di sekolah mereka, komunitas ini membuat program Cempluk Goes To School, yang mereka jadikan wadah untuk mengedukasi teman dan guru, agar para odapus mendapatkan dukungan yang cukup sehingga tetap semangat bersekolah.

Hingga kini, ada sekitar 150 lebih odapus yang tergabung di Sahabat Cempluk, mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang berobat di RSUP Dr. Sardjito. Bahkan, beberapa di antaranya berasal dari Riau dan Batam. Ada juga odapus yang tidak berobat di Jogja namun tetap bergabung untuk bisa berbagi beban dan sharing.

Baca Juga: Wadah Baru Bagi Komunitas Perupa Jakarta di Pasar Gembrong Baru

Meski belum memiliki rumah singgah atau transportasi pribadi, Sahabat Cempluk bekerja sama dengan beberapa rumah singgah yang juga membantu dalam penyediaan transportasi gratis bagi odapus untuk periksa. Ini penting karena 70 persen odapus di Sahabat Cempluk berasal dari luar Jogja.

Load More