SuaraJogja.id - Pagelaran wayang kulit secara online dengan dalang Ki Seno Nugroho akan meriahkan peringatan Hari Ulang Tahun Paguyuban Warkaban (Warga Kabupaten Bantul) ke 39, yang akan dihelat pada Jumat, 9 Oktober 2020. Gelaran wayang kulit climen dengan lakon Pandawa Namur Kawula ini dipilih sebagai upaya menyampaikan pesan kepada publik terkait beragam program, kegiatan hingga visi dan misi Paguyuban.
Ketua Paguyupan Warkaban, Didik Akhmadi menjelaskan, selain menggelar pertunjukan wayang kulit secara online, acara ulang tahun juga disi dengan silaturahmi Paguyuban Warkaban secara nasional ditandai dengan deklarasi “Warkaban Go Nasional” yang dilangsungkan secara virtual. Susunan lengkap kepengurusan DPP Paguyupan Warkaban Periode 2020-2022 akan diumumkan, baik pengurus harian, bidang bidang organisasi, dewan penasehat, lembaga kasepuhan dan dewan pakar.
“Hingga saat ini sudah ada 17 koordinator wilayah keterwakilan dari 17 propinsi di seluruh Indonesia, serta 17 koordinator cabang yang merupakan pengelompokan para perantau berdasarkan asal mereka dari 17 kecamatan di Bantul. Sudah bergabung sedikitnya 3000 anggota tersebar di seluruh Indonesia hingga luar negeri,” kata Didik Akhmadi dalam keterangan pers, Senin, 5 OKtober 2020.
Lebih lanjut Didik Akhmadi menjelaskan, jejaring Paguyuban Warkaban selain melakukan gerakan sosial kemasyarakatan, dengan semangat guyup rukun dan gotong royong sesama anggota juga dimanfaatkan untuk pengembangan kegiatan kepariwisataan dan pemberdayaan UMKM. Sedangkan program yang dikembangkan paguyuban meliputi kegiatan layanan sosial dan pemberdayaan masyarakat, kegiatan pelestarian seni dan budaya, pengembangan kegiatan usaha, dan kegiatan diskusi dan tukar pengalaman dalam bidang ilmu pengetahuan.
Selama masa pandemi covid-19, mayoritas aktivitas dilakukan secara virtual dengan memanfaatkan beragam platform digital dan sejumlah aktivitas sosial berlangsung tatap muka dengan menerapkan protokol kesehatan. Pagelaran wayang kulit climen adalah salah satu aktivitas paguyuban yang dilangsungkan secara virtual.
Untuk komunikasi dengan anggota maupun ke publik yang tersebar di berbagai wilayah, paguyuban menggunakan ragam media sosial. Untuk komunikasi dengan para anggota, Paguyuban Warkaban menggunakan sarana WhatsApp grup. Sedangkan komunikasi kepada publik, Paguyuban menggunakan media YouTube "Warkaban channel" dan Facebook grup "Paguyuban Warkaban (Warga Kabupaten Bantul)" hingga membuka call center dengan nomer: +62 816-852-457.
Pada acara gelaran wayang climen Jumat, 9 Oktober 2020, Pengurus Paguyuban Warkaban akan menyerahkan beberapa judul buku kepada Perwakilan Pemda Propinsi DIY atau pun Pemda Bantul bahwa Paguyuban Warkaban siap memberikan kontribusi pemikiran kepada Pemda Propinsi DIY dan juga kepada Pemda Kabupaten Bantul.
Wayangan climen dipilih karena bentuk gelaran wayang secara virtual yang cocok dengan kondisi sekarang ini. “Pak dalang beserta crew-nya menggelar wayang di lokasi sanggar-nya dan kemudian gelaran tersebut dipancarkan secara live streaming,” kata Didik.
Didik Akhmadi menjelaskan, lakon "Pandawa Namur Kawula" merupakan episode perjalanan kehidupan para Pandawa yang menjalani hukum buang dari kerajaan akibat Pandawa kalah main dadu. Hukum buang ditetapkan selama 13 tahun. Pada masa menjalani hukuman para Pandawa masing masing menjalankan profesinya sesuai yang tersedia di masyarakat.
Baca Juga: Kasus Positif Covid-19 di DIY Bertambah Lagi, Diantaranya ASN Dishub DIY
Ada Pandawa yang menjadi guru tari, ada yang menjadi jagal tukang sembelih sapi, ada yang menjadi juru dakwah, dan ragam profesi yang lainnya. Pada episode ini, para Pandawa membaur bersama masyarakat dan mengatasi ragam permasalahan yang dihadapinya. Misalnya, Bima bisa membebaskan seorang demang dari tuntutan seorang raksasa yang meminta upeti korban korban dalam bentuk manusia hidup.
Hukum buang yang cukup lama tersebut berhasil dijalani. Dan para Pandawa tersebut pada akhirnya bisa kumpul di Kerajaan Wiratha, dibawah naungan Prabu Matswopati.
Perjalanan kisah lakon wayang tersebut menggambarkan sesanti yang ada di masyarakat Jawa bahwa "Wani ngalah, luhur Wekasane", "Andap asor, luhur wekasane", atau pun "Sopo sing sabar, luhur wekasane”.
“Mudah-mudahan publik bisa menangkap pesan-pesan luhur melalui pagelaran wayang ini. Dan semoga bermanfaat tidak hanya untuk masyarakat Bantul, namun publik yang lebih luas lagi,” kata Didik Akhmadi.
Berita Terkait
-
Bawaslu Evaluasi Seminggu Masa Kampanye di Bantul, Ini Hasilnya
-
Begini Suasana Terkini Pasca Tawuran di Depan Polsek Kasihan
-
Tawuran Diduga Antar Ormas di Depan Polsek Kasihan, Satu Polisi Terluka
-
Tawuran di Depan Polsek Kasihan Bantul Diduga Dipicu Salah Paham
-
Tawuran Diduga Libatkan Ormas Terjadi di Depan Polsek Kasihan Bantul
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bahlil Rangkap Menteri dan Menko, Pengamat Sebut Prabowo Selamatkan Agenda Politik 2029
-
Resep Kuliner Tradisional Mulai Hilang, 45 Persen Warisan Gastronomi Indonesia Terancam Punah
-
Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku
-
JPW: Kapolri Baru Tak Berdampak Jika Pekerjaan Rumah Dibiarkan Mangkrak
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi