Scroll untuk membaca artikel
Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Hiskia Andika Weadcaksana
Selasa, 27 Oktober 2020 | 20:31 WIB
Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharja menjajal alat deteksi Covid-19 dengan embusan napas yang dibuat Universitas Gadjah Mada dengan nama GeNose C19, di Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19, Bambanglipuro, Bantul, Selasa (27/10/2020). - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

"Jadi kadang memang ada orang tanpa Covid-19 tapi malah terbaca Covid-19. Itu yang harus kita kurangi, caranya dengan lebih banyak membaca pola yang sama dan konsisten maka mesin akan akurat atau terbiasa membedakan tidak Covid-19 dan Covid-19," paparnya.

Saat ini sudah ada 10 mesin yang siap untuk masuk tahap uji diagnostik. Sepuluh alat itu terbagi di beberapa tempat, di antaranya di RSLKC, RSUP Dr Sardjito, dan RS Bhayangkara. Kemudian yang empat alat lain sudah mulai didistribusikan ke rumah sakit rujukan lain. Sedangkan masih ada empat alat lainnya juga yang sudah masuk ke dalam quality control untuk kemudian didistribusikan.

Bahkan Dian mengaku sudah ada pesanan dari beberpaa BUMN sekitar 1.000 buah. Namun hingga saat ini pihaknya masih terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas produksinya.

"Targetnya akhir Februari 2021 mendatang sudah ada 200 alat yang siap. Hanya memang untuk mencapai produksi yang besar itu membutuhkan dana besar atau investor, walaupun memang sudah ada yang mendekat," tuturnya.

Baca Juga: UGM Siap Uji Diagnostik GeNose, Alat Deteksi Covid-19 Lewat Embusan Napas

Disinggung mengenai harga jual GeNose C19, Dian menyebut akan berkisar di angka Rp70 juta. Harga itu jauh lebih murah dengan pengadaan perlengkapan tes PCR yang diketahui.

"Alat yang consumeable atau harus diganti terus hanya kantong napasnya saja dan itu harganya hanya sekitar Rp.10-15 ribu. Jadi nanti pasien sekali periksa itu hanya perlu bayar Rp.20-25 ribu saja. Selain itu salah satu keunggulan yang ditawarkan adalah kecepatan waktu, hanya perlu tiga menit untuk diperlukan untuk mengetahui hasil pemeriksaan," terangnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Raharja berharap, walaupun belum bisa disetarakan untuk alat diagnosis, tapi alat ini tetap dapat memberikan hasil tes yang linier dengan swab tes. Artinya, kesalahan atau false positif kepada setiap tes bisa diminimalisir dengan tingkat akurasi yang terus naik.

"Sekali lagi ini masih uji klinis. Jadi tetap menunggu apakah akan menjadi alat diagnosis atau skrining. Ini lebih identik dengan rapid tes, kalau ada indikasi positif kemudian kita goal standar dengan tes PCR," ujar Agus.

Selain itu, Agus juga berharap, hadirnya GeNose C19 ini dapat bersinergi dengan pelayanan tes Covid-19 yang ada di Bantul. Terlebih lagi dengan akan hadirnya mobil PCR, yang juga bisa menambah masifnya tes yang dilakukan kepada masyarakat.

Baca Juga: Diminta Cabut Imbauan Soal Tak Usah Ikut Demo, Rektor UGM: Itu Tak Perlu

Load More