SuaraJogja.id - Motor bebek merk Jupiter melaju santai dari Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Kota Yogyakarta ke rumahnya di Pedukuhan Ngancar RT 4/RW 6, Kalurahan Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman. Bersama tetangganya, lelaki yang kala itu berusia 21 tahun berencana pulang untuk mengambil pakaian ganti.
Tiba di rumah yang terletak di lereng Merapi, pria bernama Jumarno ini mengetuk pintu dan masuk ke dalam. Ayah Jumarno, Gitodaryono membukakan pintu dan menanyakan keadaan neneknya yang terbaring di RS PKU Muhammadiyah. Tak hanya berdua, kakek Jumarno, Mirso Sarwono juga berada di rumah itu.
Perbincangan keduanya sangat singkat. Jumarno yang akrab disapa Bagong itu kemudian beristirahat karena kelelahan.
Tepatnya Kamis tanggal 28 Oktober 2010, Jumarno, Gitodaryono dan kakeknya, Mirso Sarwono tetap bertahan di dusun Ngancar meski keadaan Merapi pada saat itu telah meletus.
Ingatan tersebut menjadi hal yang tidak dilupakan Bagong sebelum berhadapan langsung dengan awan panas atau Wedhus Gembel. Ya, Bagong adalah salah seorang penyintas saat Gunung Merapi mengalami erupsi 2010 silam.
Bagong merasakan langsung panasnya Wedhus Gembel hingga tangan, kaki, punggung dada dan mukanya melepuh. Beruntung nyawanya selamat berkat sebuah lemari berukuran 2x1,5 meter.
"Waktu itu kami pikir keadaannya sudah tenang. Karena tanggal 26 Oktober 2010 Merapi meletus dan memang tidak mengenai kampung (Ngancar) kami. Selain itu jaraknya (Ngancar) cukup jauh dari tempat Mbah Maridjan ditemukan meninggal (Pedukuhan Kinahrejo)," kata Bagong ditemui SuaraJogja.id, Sabtu (31/10/2020).
Sambil sesekali mengerenyitkan dahi, Bagong perlahan mencoba membuka ingatannya saat detik-detik awan panas menerjang dirinya yang berada di dalam rumah.
Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 23.30 wib. Bagong yang memilih beristirahat di atas tikar ditemani ayah dan kakeknya sudah mendengar suara gemuruh dan guncangan besar akibat Merapi yang meletus secara eksplosif.
Baca Juga: Bus TransJogja Kecelakaan di Sleman, Mobil Partai yang Jadi Lawan Disoroti
Bagong muda, terbangun karena ayah dan kakeknya memanggil namanya. Namun dirinya tak langsung menggubris, hanya membuka mata sebentar dan memilih tidur kembali.
Di saat itulah, wajah dan badannya terasa panas. Ia menggambarkan awalnya seperti tidur di bawah panas matahari yang sedang terik-teriknya.
"Itu sudah panas rasanya, saya baru terbangun dan lantai rumah juga sangat panas. Akhirnya saya mencoba membuka pintu dan melihat sudah ada abu setinggi mata kaki di luar. Ayah saya juga mulai mengerang panas. Kami semua panik," kata Bagong mengingat kembali bencana tersebut.
Walau awan panas tampak menerjang, hingga seisi rumahnya dipenuhi abu vulkanik, toh Bagong beserta ayah dan kakeknya tak bergeming. Mereka bersikeras tetap bertahan di dalam rumah.
Di saat ia dan ayahnya sibuk mencari tempat aman untuk bertahan dari gempuran awan panas, sang kakek justru keluar rumah dan berteriak mencari pertolongan. Namun tak beberapa lama, suara kakeknya menghilang.
"Mbah saat itu malah keluar untuk mencari pertolongan. Tapi tidak lama suaranya hilang. Kami berdua melihat ada satu lemari yang bisa menjadi tempat perlindungan," kata dia.
Tag
Berita Terkait
-
Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Barak di Cangkringan Disiagakan
-
Tak Panik, Warga Lereng Berkegiatan Normal meski Aktivitas Merapi Meningkat
-
10 Tahun Perjalanan Istri Wartawan Korban Merapi Berdamai dengan Trauma
-
Selama 6 Jam, Gunung Merapi Alami 26 Kali Gempa Guguran
-
10 Tahun Erupsi Merapi, Warga Berbagi Cerita: Mengungsi Tak Pernah Kembali
Terpopuler
- Lawan Pernyataan Eki Pitung, Pemuda Kaum Betawi Percaya dengan Warga Pati yang Demo 27 Agustus
- Duduk Perkara Gibran Tipu Malaysia, Anwar Ibrahim Buka Suara Parlemen Bakal Usut
- 5 Sepatu Lari yang Nyaman untuk Jalan Jauh, Sol Empuk Bisa Buat Traveling
- Siapa Chika Yenalovy? Istri Kasespri Prabowo yang Jejak Digitalnya Misterius
- 3 Rice Cooker untuk Nasi Tahan 2 Hari dan Tidak Lengket Sesuai Klaim
Pilihan
-
Tokyo Diguncang Gempa 5,9 M: 37 Orang Terluka, Transportasi Terganggu
-
Jet Tempur Sukhoi TNI AU Tergelincir Nyaris Hantam Jalan Raya di Maros
-
KPK Tangkap Rektor Unsoed Akhmad Sodiq Terkait Dugaan Suap Penerimaan Mahasiswa Baru
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
Terkini
-
Rekening Aktivis Diblokir, Bentuk Pola RepresiBaru Gerakan Rakyat
-
Dinsos DIY Tak Buka Posko Aduan Desil, Cari Formula agar Warga Tak Kehilangan Bantuan
-
Desil Berubah, BPS DIY Akui Data Bisa Melenceng
-
BRI Pertemukan PMI Yuni Lestari dengan Ibu Setelah 10 Tahun Bekerja di Taiwan
-
Siswa Bantul Bawa Pulang Emas dari Kejuaraan Taekwondo Internasional di Korea Selatan