SuaraJogja.id - Fenomena kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta butuh perhatian serius. Mayoritas pelaku merupakan orang-orang terdekat dari korban kekerasan.
Konselor Hukum Lembaga Rifka Annisa Yogyakarta, Nurul Kurniati mengaku memang kekerasan kepada anak cenderung dilakukan oleh orang terdekat. Beberapa diantaranya bisa jadi dilakukan oleh lansia tetapi hal itu tak bisa digeneralisasikan.
"Sebenarnya usia tidak bisa jadi patokan ya. Bisa saja lansia atau anak-anak berpotensi sebagai pelaku. Jika memang saat ini kebanyakan lansia hal itu tidak bisa jadi patokan," ujar Nurul dihubungi wartawan, Jumat (20/11/2020).
Nurul membeberkan orang yang rentan menjadi pelaku kekerasan seksual memang orang terdekat. Pasalnya mereka yang lebih sering berinteraksi dengan korban ketika dalam satu waktu.
Baca Juga: Ada Dugaan Money Politic, Bawaslu Akan Panggil Paslon Pilkada di Bantul
"Orang yang paling rentan menjadi pelaku adalah orang yang dikenal baik oleh anak. Karena mengetahui kondisi anak ini, ketika rumah sendiri, pulang jam berapa dan kebiasaan dan kondisi dari korban. Jadi dia (pelaku) sangat tau kebiasaan dan mengenal baik aktivitas korbannya," ujar dia.
Ia membeberkan bahwa seorang anak di bawah umur cukup rawan menjadi korban kekerasan. Anak tersebut tidak mau bercerita atau malah tak sadar mengalami kekerasan seksual.
"Ini fenomena yang biasa terlihat pada korban. Ada yang berani bercerita, tetapi ada juga yang tidak tahu bahwa dia jadi korban. Biasanya hal ini bisa diketahui ketika ada perubahan perilaku si anak," terang dia.
Perubahan tersebut, kata Nurul ditunjukkan dengan sikap murung korban. Selain itu dia juga merasakan sakit di sekitar alat kelaminnya.
"Banyak hal yang dia tunjukkan ketika menjadi korban kekerasan tetapi dia tidak mau bercerita. Ada juga yang takut bertemu dengan orang dewasa atau sampai menangis ketika bertemu pelaku," ujar dia.
Baca Juga: Tampil Beda, Buku Tahunan Siswa di Bantul Ini Gunakan Konsep Manusia Purba
Ia mengatakan bahwa pelaku yang salah satunya orang lanjut usia memiliki potensi untuk melakukan kekerasan pada anak. Namun, hal itu terjadi ketika pelaku tak bisa menahan hasrat seksualnya dan memang dekat di lingkungan anak kecil.
Berita Terkait
-
Update Kasus Kekerasan Seksual Eks Kapolres Ngada: Komnas HAM Ungkap Temuan Baru, Apa Itu?
-
UU TPKS: Jalan Terjal Beban Pembuktian dalam Penanganan Kasus Kekerasan Seksual
-
Aksi Bejat Eks Kapolres Ngada, Lakukan Kekerasan Seksual Anak Hingga Sebar Video ke Forum Pedofilia
-
Kapolres Diduga Terlibat Kasus Kekerasan Seksual Anak: Skandal Memalukan Guncang Polri!
-
Sosok AKBP Fajar Widyadharma dan Jejak Kejahatannya, Eks Kapolres Ngada Tersangka Kasus Pedofilia dan Narkoba!
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Duel Kevin Diks vs Laurin Ulrich, Pemain Keturunan Indonesia di Bundesliga
-
Daftar Lengkap 180 Negara Perang Dagang Trump, Indonesia Kena Tarif 32 Persen
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
Terkini
-
Mudik ke Jogja? BPBD Ingatkan Potensi Bencana Alam: Pantai Selatan Paling Rawan
-
Libur Lebaran di Gembira Loka, Target 10 Ribu Pengunjung Sehari, Ini Tips Amannya
-
Arus Lalin di Simpang Stadion Kridosono Tak Macet, APILL Portable Belum Difungsikan Optimal
-
Kunjungan Wisatawan saat Libur Lebaran di Gunungkidul Menurun, Dispar Ungkap Sebabnya
-
H+2 Lebaran, Pergerakan Manusia ke Yogyakarta Masih Tinggi