"Ada waktu itu karyawan kehutanan, Pak Sarmin, temen saja dulu. Mau memberi tahu temannya di Turgo lewat Kali Boyong tapi ternyata nahas dia tidak pulang. Mungkin kena awan panas itu hingga jasadnya tidak ditemukan," ucapnya sambil mengenang peristiwa itu.
Ngadiono menuturkan pasca kejadian erupsi yang menyeramkan itu pun kondisinya juga tidak seketika pulih. Hal itu terlihat dari api yang masih menyala di sungai-sungai yang berada di sekitar kawasan itu selama kurang lebih sebulan.
Namun pasca erupsi Gunung Merapi tahun 1994 itu juga masyarakat jadi mulai paham tentang bahaya erupsi Merapi selama ini. Antisipasi menjadi terus dilakukan oleh warga ketika aktivitas Merapi kembali bergejolak.
"Kami, warga masyarakat di sini juga akhirnya paham bahwa itu adalah bencana yang memang mengerikan. Dari situ kami belajar, ya kalau status Merapi naik lagi harus segera menjauh dengan mengamankan keluarga dan barang-barang berharga," kata pria yang rumahnya hanya berjarak 6,5 km dari puncak Merapi tersebut.
Baca Juga: Banyak Wilayah Zona Merah, Dinkes Sleman Wacanakan Rapid Tes bagi Pengungsi
Sekarang, Ngadiono mengatakan bahwa telah melakukan antisipasi sejak kenaikan status Gunung Merapi menjadi Siaga atau level III pada 5 November 2020 lalu. Antisipasi dilakukan dengan menitipkan terlebih dulu surat-surat dan barang berharga di rumah saudaranya yang berada di daerah lebih ke bawah atau jauh dari puncak Merapi.
Harapannya, jika sesuatu yang buruk tiba-tiba terjadi ia dan keluarganya bisa langsung segera lari mengamankan diri. Menurutnya persiapan dan penanganan bencana khususnya untuk Merapi tahun ini jauh lebih bagus dan siap dibanding pada tahun 1994 silam.
"Setiap warga juga selalu memantau info perkembangan terkini dari aktivitas Merapi dari hp masing-masing. Sudah ada koordinasi juga semisal kejadian itu sewaktu-waktu tiba. Intinya sekarang sudah lebih siap," tegasnya.
Sementara itu warga lainya, Wahyuning, warga Kaliurang Barat, Hargobinangun, Pakem, Sleman, mengaku juga menjadi salah satu orang yang sempat menonton peristiwa erupsi Merapi tahun 1994 silam. Ia juga tidak memungkiri bahwa informasi tentang bahaya erupsi itu belum didapat pada waktu itu.
"Saya juga sempet nonton itu, waktu Merapi erupsi tahun 1994. Waktu itu ngga tau bahaya atau engga, cuma warga pada rame dan ngajakin, ayo ndelok kobongan, ya saya ikut lihat," ucap perempuan berusia 51 tahun itu.
Baca Juga: Guguran Material Merapi Meluncur ke Kali Lamat, Terdengar Sampai Kaliurang
Bu Ning, sapaan akrabnya, melanjutkan waktu itu ia mengingat ada sebuah acara hajatan di Dusun Turgo yang bersebelahan dengan rumahnya. Tidak begitu mengingat milik siapa acara itu namun yang pasti, kata Bu Ning, acara hajatan tersebut adalah gelaran pesta pernikahan.
Berita Terkait
-
Tradisi Sadranan di Boyolali: Jaga Kerukunan Jelang Ramadan
-
Pelaku Penusukan Sandy Permana Bukan Tetangga yang Ramah Menurut Warga
-
Sandy Permana Ditusuk, Warga Ungkap Kebiasaan Korban Sebelum Kejadian
-
Tanpa Kejanggalan, Keseharian Sandy Permana Sebelum Tewas Ditusuk Diungkap Orang Dekat
-
Sebelum Tewas Ditusuk, Sandy Permana Sempat Tegur Pelaku Gara-gara Kebiasaan Mabuk
Terpopuler
- Dedi Mulyadi Sebut Masjid Al Jabbar Dibangun dari Dana Pinjaman, Kini Jadi Perdebatan Publik
- Baru Sekali Bela Timnas Indonesia, Dean James Dibidik Jawara Liga Champions
- Terungkap, Ini Alasan Ruben Onsu Rayakan Idul Fitri dengan "Keluarga" yang Tak Dikenal
- Yamaha NMAX Kalah Ganteng, Mesin Lebih Beringas: Intip Pesona Skuter Premium dari Aprilia
- JakOne Mobile Bank DKI Bermasalah, PSI: Gangguan Ini Menimbulkan Tanda Tanya
Pilihan
-
Hasil Liga Thailand: Bangkok United Menang Berkat Aksi Pratama Arhan
-
Prediksi Madura United vs Persija Jakarta: Jaminan Duel Panas Usai Lebaran!
-
Persib Bandung Menuju Back to Back Juara BRI Liga 1, Ini Jadwal Lengkap di Bulan April
-
Bocoran dari FC Dallas, Maarten Paes Bisa Tampil Lawan China
-
Almere City Surati Pemain untuk Perpanjang Kontrak, Thom Haye Tak Masuk!
Terkini
-
Tanggapi Langkah Tarif Trump, Wali Kota Jogja: Kuatkan Produk Lokal!
-
Masa WFA ASN Diperpanjang, Pemkot Jogja Pastikan Tak Ganggu Pelayanan Masyarakat
-
Kurangi Kendaraan Pribadi Saat Arus Balik, Menhub Lepas 22 Bus Pemudik di Giwangan
-
Puncak Arus Balik H+3 dan H+4, 350 Ribu Kendaraan Tinggalkan DIY
-
Gunung Merapi Masih Luncuran Ratusan Lava, Simak Aktivitas Terkini Sepekan Terakhir