SuaraJogja.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman menambah sebanyak 241 tempat tidur atau bed bagi perawatan pasien Covid-19. Kendati belum memenuhi kriteria Menkes namun ini dinilai menjadi langkah yang sudah cukup baik.
Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan bahwa belum terpenuhinya penambahan bed sesuai dengan arahan Menkes disebabkan oleh pertimbangan jumlah tenaga kesehatan (nakes) yang ada. Walaupun memang sebenarnya penambahan itu bisa lebih dimaksimalkan lagi di tiap-tiap rumah sakit (RS).
"Penambahan bed tetap disesuaikan dengan kemampuan SDM Kes di setiap RS. Misalnya saja RSA UGM itu kalau tambah 150 bed ya sanggup saja, tapi kan SDM Kes-nya terbatas jadi penambahannya dari 40 bed jadi 60 bed," kata Joko, saat dikonfirmasi awak media, Sabtu (23/1/2021).
Joko menuturkan semula hanya ada total 249 bed di rumah sakit untuk perawatan pasienCovid-19. Namun kini jumlah itu ditambah 241 bed sehingga meningkat menjadi 490 bed non-kritikal.
Disebutkan Joko, penambahan bed tersebut terdapat di RS rujukan maupun intermediate. Selain non-kritikal, untuk fasilitas kritikal pun juga mendapat pertambah dari 22 menjadi 32 bed sudah termasuk dengan sarana yang berada di RSUP Sardjito.
"Khusus untuk 13 rumah sakit intermediate, semua menyatakan siap untuk menambah kapasitas bed isolasi. Dulu rata-rata hanya sekitar 9,5 persen, tapi per minggu ini menjadi 22,3 persen dengan jumlah 290 bed," tuturnya.
Joko menyampaikan bahwa penambahan kapasitas bed di beberapa RS intermediate terbilang cukup signifikan. Di antaranya RS Charitas Klepu yang kemarin hanya ada 1 bed saja sekarang sudah bertambah menjadi 7 bed.
Begitu juga dengan beberapa RS lain seperti, RS Mitra Sehat, RS At-Taurot, Puri Husada, dan UAD yang kini sudah mempunyai lebih dari 10 bed khusus perawatan pasien Covid-19. Sedangkan untuk RS rujukan selain RSUP dr Sardjito ketersediaannya sudah mencapai 14,36 persen dari total kapasitas.
"Beberapa malah sudah cukup tinggi. Semisal di RS Bhayangkara yang mencapai 24 persen atau di RSUD Sleman sebesar 18,5 persen. Sedangkan RSA UGM sudah 30 persen. Ya walaupun memang belum memenuhi imbauan Menkes yakni minimal 40 persen tapi setidaknya sudah ada usaha penambahan bed," terangnya.
Baca Juga: Tes Usap di Pendopo Setda Sleman, 8 Orang Dinyatakan Positif COVID-19
Dalam kesempatan yang sama Joko menuturkan terkait dengan tingkat keterisian RS di Sleman yang masih belum banyak berubah. Berdasarkan catatan dari Dinkes Sleman, tingkat keterisian untuk bed non-kritikal berada di sekitar 75 persen sedangkan untuk bed kritikal masih di atas 90 persen.
Perihal pelayanan pasien non Covid-19, kata Joko, tidak mengalami kendala sejauh ini. Artinya pelayanan pasien reguler atau non Covid-19 masih dilakukan dengan baik atau tidak dikesampingkan.
"Pelayanan pasien reguler atau non Covid-19 sejauh ini tetap berjalan dengan baik," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Permohonan Data Publik Menguat, KDI Tangani 41 Sengketa Informasi Pertanahan di DIY
-
Seminar Moderasi Beragama UNY, Generasi Z Sleman Belajar Toleransi di Era Digital
-
Bukan Tanpa Alasan, Ini Penyebab Utama Proyek Pengolahan Sampah di DIY Tertunda
-
Tragedi Daycare Little Aresha: Pemkot Yogya Kerahkan 94 Psikolog
-
Enam Warga DIY Pernah Positif Hantavirus pada 2025, Masyarakat Diminta Tak Panik