Ketika ditanya mengenai pengalaman pribadinya saat pertama memakamkan jenazah Covid-19, Purwanto mengaku langsung mandi sebersih mungkin setelah pemakaman selesai. Bahkan setelah mandi pun ia masih tetap selalu menggunakan hand sanitizer untuk membersihkan tangannya.
Pria yang sudah 13 tahun bekerja di dunia pemakaman jenazah ini mengaku juga tidak ada rasa kikuk atau yang lain saat pemakaman jenazah Covid-19 pertama, hanya memang perlakuan terhadap jenazah itu agak sedikit berbeda.
"Kalau kikuk atau gimana sih tidak, cuma memang menurunkan peti juga harus ekstra berhati-hati. Kita pertama menyentuh peti juga sempat ada rasa tidak bisa, tapi ketika tahu sudah dibungkus plastik dan semakin sering juga biasa," cetusnya.
Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memakamkan jenazah Covid-19 ketimbang dengan jenazah biasa. Bahkan para petugas juga dulu sempat latihan terlebih dulu untuk menurunkan jenazah dengan menggunakan lemari yang ada.
"Kita dulu latihan pakai lemari biar tahu gimana cara menurunkan yang benar. Selain penurunan agar tetap seimbang, cara pengurukan peti setelah diturunkan juga harus diperhatikan. Kalau jenazah Covid-19 harus rata biar tidak berat sebelah dan memang wajib menggunakan peti," terangnya.
Pria yang akrab disapa Pak Krebo ini menuturkan, saat ini jumlah petugas pemakaman yang ada di TPU Madurejo sebanyak 9 orang termasuk dirinya. Sementara untuk ia sendiri, sampai saat ini terhitung sudah memakamkan sebanyak 59 jenazah Covid-19.
Tak hanya bertugas untuk ikut mengantarkan jenazah ke liang kuburnya, Purwanto juga melakukan dokumentasi prosesi pemakaman jenazah hingga berkoordinasi dengan keluarga.
"Jadi nanti rumah sakit akan menelpon call center untuk memberikan kabar bahwa ada jenazah Covid-19. Setelah data yang bersangkutan akan dicek terlebih dulu, dari surat kematian KTP dan lainny. Lalu kita hubungi keluarga untuk konfirmasi apa benar akan dimakamkan di TPU Madurejo, kalau memang benar lalu saya bisa menghubungi teman-teman untuk merapat," paparnya.
Koordinasi dengan rumah sakit menjadi penting karena memang petugas pemakaman juga memerlukan waktu untuk bersiap dengan segala APD-nya. Ditambah dengan tambahan waktu tempuh yang tidak sebentar dari rumah masing-masing menuju ke TPU Madurejo.
Baca Juga: Tertinggi, Pemakaman Pasien Covid-19 TPU Madurejo pada 2021 Tembus 14 Kali
Disampaikan Purwanto, paling tidak para petugas diberikan waktu 1,5 jam setelah jenazah dikoordinasikan dan pasti akan dimakamkan di TPU Madurejo. Waktu itu digunakan untuk menuju ke TPU Madurejo hingga siap dengan APD.
Jika semua petugas siap, maka ia bisa mempersilakan rumah sakit untuk mengantarkan jenazah. Koordinasi itu diperlukan agar tidak ada miskomunikasi atau saling menunggu yang menyebabkan pemakaman menjadi lebih lama.
Bahkan pernah suatu ketika, kata Purwanto, dari pihak rumah sakit sudah mengarahkan ke TPU Madurejo. Namun ternyata pihak keluarga justru sudah melakukan koordinasi dengan pihak kampung dan diterima, tapi tidak memberi tahu para petugas di TPU Madurejo.
"Padahal saat itu petugas sudah sampai sini [TPU Madurejo]. Kita nunggu lama dan saat ditelpon lagi ternyata sudah dimakamkan di kampung. Ya nunggu 2 jam lebih, temen-temen ini rumahnya juga tidak dekat ada yang Srumbung, Cangkringan, dan Godean, ya terpaksa balik kanan," ujarnya.
Purwanto menilai, koordinasi saat ini sudah berjalan lebih baik dibandingkan beberapa waktu lalu. Untuk melancarkan kerja petugas pun, ia sempat menempel stiker gugus tugas di kendaraan masing-masing petugas.
Disunggung mengenai perlengkapan APD yang tersedia, Purwanto mengaku memang hingga saat ini ketersediaannya masih minim. Mau tidak mau, para petugas pemakaman jenazah Covid-19 pun harus rela menggunakan APD bekas.
Berita Terkait
-
Catat Lur! Ini Kelebihan KRL Jogja-Solo Dibanding KA Prameks
-
Tertinggi, Pemakaman Pasien Covid-19 TPU Madurejo pada 2021 Tembus 14 Kali
-
Liang Kubur TPU Madurejo Dikabarkan Tinggal 10, Begini Kata Pemkab Sleman
-
Begini Kronologi Penganiayaan Petugas Pemakaman Pasien Covid-19 di Malang
-
Keluarga Ngamuk, Jenazah Covid-19 Tertukar Nyaris Dimakamkan
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- Adly Fairuz Nyamar Jadi Jenderal Ahmad, Tipu Korban Rp 3,6 Miliar dengan Janji Lolos Akpol
- Inara Rusli Lihat Bukti Video Syurnya dengan Insanul Fahmi: Burem, Gak Jelas
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Dana Desa 2026 Terancam Dipangkas, Pengembangan Koperasi Merah Putih di Bantul Terkatung-katung
-
Gengsi Maksimal, Dompet Santai! 4 Mobil Bekas Harga Rp60 Jutaan yang Bikin Melongo
-
Tak Kenal Pelapor, Muhammadiyah Minta Pandji Lebih Cermat dan Cek-Ricek Materi Stand Up
-
Trump Makin Dar-Der-Dor, Pakar Sebut Tatanan Dunia Terguncang, Picu Aksi Teroris
-
Kekecewaan Keluarga Diplomat Arya Daru usai Polisi Setop Penyelidikan, Ada Sederet Kejanggalan