Ia bercerita, pemakaman yang tidak mengenal waktu membuat para petugas harus siap dengan kondisi apa pun, termasuk hujan di malam hari. Tak jarang para petugas yang sejak berangkat dari rumah sudah diguyur hujan saat tiba di TPU Madurejo pun akan langsung bergegas berganti menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap untuk kembali menerjang hujang.
Mulai dari baju hazmat, masker, pelindung mata (google), pelindung wajah, hingga sarung tangan akan selalu melekat saat pemakaman jenazah Covid-19 dilakukan. Hanya diterangi dua lampu sorot, tak banyak area yang petugas bisa lihat.
"Kadang melihat lubang [kubur] saja kadang tidak bisa. Harus saling mengingatkan, harus saling fokus. Sempat kejadian karena pemakaman yang dilakukan pada malam dan hujan, lubang itu tidak terlihat. Saat menggeser peti, ada petugas yang kehilangan keseimbangan hingga jatuh terpererosok di lubang di sebelahnya," ucapnya.
Memang diperlukan kondisi fisik yang fit dan konsentrasi yang fokus saat menjalankan tugas pemakaman tersebut. Dikatakan Purwanto, jika memang ada dari salah satu petugas yang tidak fit, mereka bisa untuk meminta izin untuk tidak datang.
Baca Juga: Tertinggi, Pemakaman Pasien Covid-19 TPU Madurejo pada 2021 Tembus 14 Kali
"Kita punya grup untuk berkoordinasi. Jadi kalau ada yang kurang fit bisa langsung memberi kabar di grup dan nanti akan digantikan oleh orang lain. Sebab, kalau dipaksa saat kondisi tidak fit, takutnya malah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai pengalaman pribadinya saat pertama memakamkan jenazah Covid-19, Purwanto mengaku langsung mandi sebersih mungkin setelah pemakaman selesai. Bahkan setelah mandi pun ia masih tetap selalu menggunakan hand sanitizer untuk membersihkan tangannya.
Pria yang sudah 13 tahun bekerja di dunia pemakaman jenazah ini mengaku juga tidak ada rasa kikuk atau yang lain saat pemakaman jenazah Covid-19 pertama, hanya memang perlakuan terhadap jenazah itu agak sedikit berbeda.
"Kalau kikuk atau gimana sih tidak, cuma memang menurunkan peti juga harus ekstra berhati-hati. Kita pertama menyentuh peti juga sempat ada rasa tidak bisa, tapi ketika tahu sudah dibungkus plastik dan semakin sering juga biasa," cetusnya.
Menurutnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat memakamkan jenazah Covid-19 ketimbang dengan jenazah biasa. Bahkan para petugas juga dulu sempat latihan terlebih dulu untuk menurunkan jenazah dengan menggunakan lemari yang ada.
Baca Juga: Liang Kubur TPU Madurejo Dikabarkan Tinggal 10, Begini Kata Pemkab Sleman
"Kita dulu latihan pakai lemari biar tahu gimana cara menurunkan yang benar. Selain penurunan agar tetap seimbang, cara pengurukan peti setelah diturunkan juga harus diperhatikan. Kalau jenazah Covid-19 harus rata biar tidak berat sebelah dan memang wajib menggunakan peti," terangnya.
Berita Terkait
-
Harga Tiket Masuk Candi Borobudur dan Candi Prambanan saat Libur Lebaran 2025, Jangan Keliru!
-
Ini Panduan Lengkap Liburan ke Candi Prambanan Beserta Harga Tiket selepas Nyepi
-
Swara Prambanan 2025 Bakal Hadir Akhir Tahun, Penjualan 'Blind Ticket' Dimulai Rp50 Ribu Saja!
-
Fadly Faisal Liburan ke Prambanan, Netizen Heboh Ingatkan Mitos Putus!
-
Bawa Pacar Jalan-Jalan ke Prambanan, Fadly Faisal Diingatkan Warganet: Mitosnya ...
Terpopuler
- Kode Redeem FF 2 April 2025: SG2 Gurun Pasir Menantimu, Jangan Sampai Kehabisan
- Ruben Onsu Pamer Lebaran Bareng Keluarga Baru usai Mualaf, Siapa Mereka?
- Aib Sepak Bola China: Pemerintah Intervensi hingga Korupsi, Timnas Indonesia Bisa Menang
- Rizky Ridho Pilih 4 Klub Liga Eropa, Mana yang Cocok?
- Suzuki Smash 2025, Legenda Bangkit, Desain Makin Apik
Pilihan
-
Misi Mathew Baker di Piala Asia U-17 2025: Demi Negara Ibu Tercinta
-
Dear Timnas Indonesia U-17! Awas Korsel Punya Dendam 23 Tahun
-
Piala Asia U-17: Timnas Indonesia U-17 Dilumat Korsel Tanpa Ampun
-
Media Korsel: Hai Timnas Indonesia U-17, Kami Pernah Bantai Kalian 9-0
-
Masjid Agung Sleman: Pusat Ibadah, Kajian, dan Kemakmuran Umat
Terkini
-
Harga Kebutuhan Pokok di Kota Yogyakarta Seusai Lebaran Terpantau Stabil
-
Tiga Wisatawan Terseret Ombak di Pantai Parangtritis, Satu Masih Hilang
-
Cerita UMKM Asal Bantul Dapat Pesanan dari Amerika di Tengah Naiknya Tarif Impor Amerika
-
Diserbu 110 Ribu Penumpang Selama Libur Lebaran, Tiket 50 Perjalanan KA YIA Ludes
-
Kilas DIY: Bocah Jabar Nekat Curi Motor di Bantul hingga Penemuan Mayat di Sungai Progo