Rata-rata penjaga dan pemilik burjo berasal dari Kuningan, sehingga bahasa Sunda sudah menjadi bahasa sehari-hari mereka. Perantau dari tanah Sunda lainnya senang bisa berbicara sunda di burjo.
"Burjo adalah franchise terdahsyat orang sunda di bumi Jogja," tulis @t6uh dalam cuitannya.
"Dibalik burjo Jogja ada keramahtamahan Sunda dengan ciri khas logat sundanya yang kental. Maturnuwun Aa dan Teteh burjo di Jogja. Banyak sarjana-sarjana hebat yang terbantu hidupnya selama kost di Jogja, makan dulu bayar belakang," tulis akun @stepfordward23.
"Kalau ke burjo niat nyarios sunda takut ketuker bahasa krama karena di Jogja lebih sering berusaha pakai bahasa krama sama penjual lokal. Mau bilang 'sabraha A?' Jadi 'pinten A' wkwk," tulis akun @ully_wibowo.
Dari sejarah yang kini tampaknya sudah diketahui tak sedikit orang, pemilik dan pendiri pertama burjo adalah orang Kuningan. Nama Rurah Salim banyak disebut sebagai orang pertama yang mencetuskan warung burjo di Jogja pada tahun 1943.
Tepat dua tahun sebelum kemerdekaan Indonesia, Rurah Salim mencoba mencari peruntungan ke Indonesia dengan jualan burjo yang dipanggul dan keliling bersama dengan istrinya.
Setelah Indonesia merdeka, Rurah Salim mengganti metode berdagangnya dengan membuka kios. Seiring perkembangan zaman, menu warung burjo yang awalnya hanya menyediakan bubur kacang hijau kini justru lebih dikenal dengan menu-menu olahan mi instan.
Meski disebut-sebut berasal dari Kuningan, tetapi keberadaan burjo lebih mudah ditemui di daerah Jakarta, Semarang, Solo, dan tentunya Jogja.
Dengan jumlah yang tak bisa dihitung lagi, mayoritas pengunjung yang datang ke burjo di Jogja selalu memanggil penjualnya dengan sebutan 'Aa' atau 'Mamang' sebagai panggilan yang sopan kepada seorang lelaki dalam budaya Sunda.
Baca Juga: Lima Kalurahan Masuk Zona Merah, Pemkot Jogja Batasi Pergerakan Masyarakat
Warganet sendiri tidak jarang dibuat heran, kenapa warung burjo di Jogja selalu didominasi dengan orang Sunda. Sementara di tanah Sunda justru jarang yang membuka warung semacam burjo.
"Heran, yg jaga warung #burjo di #jogja kenapa orang #Sunda ya? Udah ke beberapa tempat yg jaga orang #Sunda juga," tulis akun @nugyanfa.
"Di Jogja banyak burjo dan yang punya sebagian besar orang Sunda. Tetapi di daerah Sunda sendiri tidak ada burjo," komentar akun @kaafandi_.
"Kayaknya program provinsi Jabar itu mengirim orang sunda jadi penjual burjo di Jogja," tanggapan akun @limasudut.
Sementara akun @duuwiikk mengatakan, "Kalau di Jogja 'ngasah' basa sunda sama aa-aa burjo, di Bali sama aa-aa surabi, di Lampung sama mamang-mamang batagor."
Berita Terkait
-
Lima Kalurahan Masuk Zona Merah, Pemkot Jogja Batasi Pergerakan Masyarakat
-
Cek Wisatawan, Jogja Tambah Petugas untuk Pemeriksaan Acak Surat Kesehatan
-
Viral Upacara Pelepasan KA Prameks di Solo, Warganet Sampai Merinding Sedih
-
Hemat Waktu 34 Menit, KRL Jogja-Solo Dinilai Beri Manfaat Ekonomi ke Warga
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- 7 HP Samsung Seri A yang Sudah Kamera OIS, Video Lebih Stabil
Pilihan
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
Terkini
-
BRI Perkuat Digitalisasi, Tebus Gadai di BRImo Dapat Cashback 10%
-
Tegaskan Indonesia Bukan Jalur Agresi, Pemerintah Didesak Tolak Akses Bebas Pesawat Militer AS
-
Jatah WFH ASN Jogja Hari Rabu, Pemda DIY Tak Mau Jumat: Biar Nggak Bablas Liburan!
-
Berani Lawan Arus, Komunitas Petani Punk Gunungkidul Siap Manfaatkan AI untuk Sokong Program MBG
-
Holding UMi Tancap Gas: 34,5 Juta Debitur Terjangkau, 1,4 Juta Nasabah Naik Kelas