SuaraJogja.id - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Kabupaten Sleman ternyata menunjukkan hasil yang positif. Efektifnya program pemerintah yang dimulai sejak 11 Januari 2021 lalu ini sudah terlihat dari menurunnya angka penambahan kasus harian Covid-19 di Sleman.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Joko Hastaryo mengatakan, jika dibandingkan dengan penambahan jumlah kasus pada Januari lalu, angka penambahan kasus harian Covid-19 di Sleman selama bulan Februari ini cenderung lebih menurun.
"Kalau dilihat perkembangan kasus di Sleman memang sudah jauh menurun dibandingkan bulan Januari. Karena kita tahu sepanjang bulan Januari efek dari libur panjang di akhir tahun. Kalau tidak ada PPKM itu kita prediksi sampai akhir Februari masih akan setinggi Januari. Tapi dengan adanya PPKM mulai 11 Januari itu memang kita perkirakan awal Februari itu baru akan terasa efeknya dan ternyata betul," ujar Joko kepada awak media, Jumat (19/2/2021).
Joko menuturkan, di Februari rata-rata penambahan kasus harian di wilayah Sleman sebanyak 68 kasus per hari. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan bulan Januari, yang mencatat 108 kasus perhari.
"Kalau dipersentase kurang lebih turun 40 persenlah. Itu kalau dari sisi penambahan kasus ya karena terjadi pembatasan-pembatasan kegiatan masyarakat itu berpengaruh. Dan itu juga bagian dari impian saya dulu saat memunculkan ide minggu tenang walaupun mundur seminggu tapikan lumayan hasilnya," terangnya.
Kendati penambahan jumlah kasus harian Covid-19 mengalami penurunan tapi kata Joko, perubahan perilaku dari masyarakat sendiri belum begitu terlihat. Padahal sebetulnya dengan menerapkan PPKM ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk mengubah perilaku orang.
Setidaknya, ada perasaan setiap saat orang-orang merasa diawasi oleh orang lain untuk terus menerapkan protokol kesehatan. Jika perilaku masyarakat masih belum berubah maka PPKM akan menjadi sia-sia.
"Kalau tidak terbentu perilaku itu [taat protokol kesehatan] selesai PPKM ya kembali seperti semula dan kasusnya akan tinggi lagi. Itu kalau menurut analisa kami," ucapnya.
Disinggung mengenai positivity rate di Kabupaten Sleman, Joko mengungkapkan masih cukup tinggi. Hingga saat ini positivity di Bumi Sembada masih berkisar di angka 25 persen lebih.
Baca Juga: Pemerintah Perpanjang PPKM Mikro Hingga 8 Maret 2021
Joko menjelaskan, kondisi tersebut bisa terjadi akibat perbandingan antara jumlah kasus positif dengan jumlah tes yang dilakukan, dihitung berdasarkan hasil positif dari keseluruhan jumlah sampel swab yang diperiksa.
Dengan mengacu pada aturan Kemenkes revisi ke-V yang hanya menyasar kepada kontak erat bergejala saja. Sehingga memang saat ini, kontak erat yang bergejala saat diperiksa akan menunjukkan hasil yang positif juga.
"Sehingga, sekarang itu jumlah kasus positifnya sedikit, maka secara otomatis tracing kontak erat menurun dan yang bergejala akan jauh lebih sedikit lagi. Tapi ketika diperiksa hasilnya positif. Sehingga positif rate-nya tinggi," paparnya.
Kondisi tersebut jauh berbeda pada saat awal pandemi atau setidaknya dalam beberapa bulan terakhir dari September hingga Desember 2020 lalu. Saat itu, kata Joko, kontak erat tracing kasus positif akan langsung dilakukan swab baik yang bergejala atau tidak.
"Dulu setiap kasus positif ditracing langsung swab, itu positivity rate malah rendah tapi yang diswab banyak. Jadi antara yang hasil positif dari seluruh yang di swab positif kecil," ucapnya.
Selain positivity rate yang masih terbilang tinggi, fatality rate atau tingkat kematian di Sleman juga masih cukup tinggi. Di bulan Februari saja angka tingkat kematian mencapau 2,46 kasus.
Berita Terkait
-
Pemerintah Perpanjang PPKM Mikro Hingga 8 Maret 2021
-
Dinkes Sleman Fokus Tuntaskan Vaksinasi Tahap Pertama, Kini Capai 89 Persen
-
Ke Maguwoharjo, Panglima TNI dan Kapolri Nilai PPKM Sudah Berdampak Positif
-
37.626 Relawan di Banten Disiapkan Guna Mendukung PPKM Mikro
-
Jawa Barat Akan Perpanjang PPKM Pekan Depan
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Persib dan Persija Dikabarkan Tak Lolos IPO di Bursa Efek Indonesia
- 7 Statistik Miris Argentina Saat Dipecundangi Spanyol di Final Piala Dunia 2026
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- 7 Sepeda Terbaik untuk Pemula Mulai Rp1 Jutaan: dari Hybrid, Lipat hingga City Bike
Pilihan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
-
Sudaryono, Mantan Ajudan Prabowo Akan Gantikan Nanik Jadi Kepala BGN
Terkini
-
Satgas PPKPT Pastikan Kampus Jadi Ruang Aman dari Kekerasan dan Perundungan
-
Minta Rp15 Juta Tak Kunjung Diberi, Anak di Bantul Bakar Rumah Orang Tuanya
-
Ahli Hukum: Status Tersangka Raudi Akmal Berpotensi Gugur karena Cacat Prosedur
-
Tarif Naturalisasi Rp75 Juta, Pakar Minta Pemerintah Tak Jadikan Kewarganegaraan Hak Orang Berduit
-
Sekolah Masih Kekurangan Guru, PGRI Tolak Anggaran Pendidikan Dipangkas demi MBG