SuaraJogja.id - Persoalan seputar penanganan Covid-19 di DIY terus saja muncul. Tak hanya Bed Occupancy Rate (BOR) atau keterisian tempat tidur di rumah sakit rujukan yang sudah mencapai lebih dari 90 persen, sulitnya mendapatkan oksigen, saat ini muncul masalah baru yang dihadapi para relawan di garda terdepan pemulasaran untuk jenazah pasien Covid-19 yang meninggal.
Kalau pada awal pandemi Covid-19 masuk ke DIY sejumlah warga menolak makam digunakan untuk pemulasaran pasien Covid-19, kini banyak keluarga yang menolak jenazah anggota keluarganya yang meninggal untuk dimakamkan dengan protokol Covid-19.
"Persoalan yang muncul saat ini karena kejenuhan masyarakat [akan Covid-19]. Kalau dulu ambulan tidak berani ke makam karena warga menolak pemulasaran jenazah tapi saat ini justru ada warga yang menolak jenazah diprotokolkan [pemulasarannya secara Covid-19]," ujar Komandan TRC Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Pristiawan Buntoro dalam jumpa pers daring, Kamis (01/07/2021).
Penolakan tersebut, menurut Pristiawan, jadi masalah serius yang dihadapi para relawan pemulasaran jenazah Covid-19. Apalagi sampai saat ini tidak ada Standar Operational Procedure (SOP) dalam pemakaman jenazah secara medis, termasuk dari rumah sakit.
Baca Juga: Sudah di Ambang Batas Kemampuan Tangani Covid-19, Relawan: Warga DIY Maafkan Kami...
Untuk mengatasi persoalan ini, para relawan akhirnya membuat kesepakatan secara informal. Bila warga menolak pemulasaran dengan protokol Covid-19, maka mereka harus membuat surat pernyataan atas nama keluarga dengan sepengatahuan perangkat kampung atau desa.
"Ini akhirnya jadi senjata ampuh kami kepada warga menolak membuat surat pernyataan. Kalau menolak kan maka tidak jujur dengan lingkungan, maka mereka dihadapkan pada lingkungan," jelasnya.
Pristiawan menambahkan, selain pemulasaran, angka kematian pasien Covid-19 juga diakui semakin tinggi saat ini di DIY. Relawan bahkan pernah menguburkan dua jenazah dalam satu malam.
Mereka merupakan pasien yang awalnya isolasi mandiri (isoman) di rumah. Namun karena kondisi kesehatan semakin memburuk akhirnya dilarikan ke rumah sakit.
"Namun karena rumah sakit penuh, akhirnya mereka tidak dapat ditangani secepatnya. Saturasinya pun sangat rendah sehingga kemudian meninggal dunia di rumah sakit," ungkapnya.
Baca Juga: Tunggu Keputusan Pusat, DIY Siap Terapkan PPKM Darurat
Karenanya Pristiawan berharap sesegera mungkin dibentuk tim pemulasaran jenazah infeksius. Apalagi sebenarnya banyak sumber daya manusia (SDM) yang bersedia menjadi relawan.
Terpopuler
- Menguak Sisi Gelap Mobil Listrik: Pembelajaran Penting dari Tragedi Ioniq 5 N di Tol JORR
- Kode Redeem FF SG2 Gurun Pasir yang Aktif, Langsung Klaim Sekarang Hadiahnya
- Dibanderol Setara Yamaha NMAX Turbo, Motor Adventure Suzuki Ini Siap Temani Petualangan
- Daftar Lengkap HP Xiaomi yang Memenuhi Syarat Dapat HyperOS 3 Android 16
- Xiaomi 15 Ultra Bawa Performa Jempolan dan Kamera Leica, Segini Harga Jual di Indonesia
Pilihan
-
Detik-detik Jose Mourinho Remas Hidung Pelatih Galatasaray: Tito Vilanova Jilid II
-
Nilai Tukar Rupiah Terjun Bebas! Trump Beri 'Pukulan' Tarif 32 Persen ke Indonesia
-
Harga Emas Antam Lompat Tinggi di Libur Lebaran Jadi Rp1.836.000/Gram
-
7 Rekomendasi HP 5G Murah Terupdate April 2025, Mulai Rp 2 Jutaan
-
Donald Trump Resmi Umumkan Tarif Baru, Ekonomi Indonesia Terancam Kena Dampak!
Terkini
-
Libur Lebaran di Gembira Loka, Target 10 Ribu Pengunjung Sehari, Ini Tips Amannya
-
Arus Lalin di Simpang Stadion Kridosono Tak Macet, APILL Portable Belum Difungsikan Optimal
-
Kunjungan Wisatawan saat Libur Lebaran di Gunungkidul Menurun, Dispar Ungkap Sebabnya
-
H+2 Lebaran, Pergerakan Manusia ke Yogyakarta Masih Tinggi
-
Exit Tol Tamanmartani Tidak Lagi untuk Arus Balik, Pengaturan Dikembalikan Seperti Mudik