Kyai Abu Dardak lantas bertekat menggali luweng tersebut demi kemaslahatan umat. Setelah mendapat restu dan bimbingan gurunya, mbah Abu kemudian benar benar memulai penggalian luweng, dengan hanya dibantu oleh mbah Banjari. Hampir setiap hari selama kurun waktu 4 bulan, mereka bekerja keras.
Bahkan pekerjaan ini sering dilakukan pada malam hari. Dan dalam waktu 4 bulan, cukup berat perjuangan yang harus dihadapi, mulai dari gangguan makhluk halus, sampai pada kerasnya batu yang harus mereka pecah. Alat yang dipakai waktu itu benar benar masih manual, linggis, pecok, palu, bodem, betel dan lainnya, tak terhitung berapa banyak alat yang dihabiskan untuk proses penggalian,
"struktur batu yang dihadapi adalah batu gunung yang solid dan sangat keras,"tambahnya.
Setelah 4 bulan lebih, dan kedalaman penggalian kurang lebih 7 meter, akhirnya sumber air itu dapat ditemukan. Dan benar dugaan mbah Abu, sumber air itu adalah jalur sungai bawah tanah yang mempunyai debit air yang besar.
"Setelah benar benar menemukan sumber air, bapak bingung, bagaimana cara air ini bisa diangkat dan dialirkan ke rumah rumah penduduk,"ujar dia.
Di tahun itu tekhnologi pengangkatan air masih sangat jarang terlebih saat itu belum ada aliran listrik yang menjangkau kalurahan Banyusoca. Menyadari hal itu, mbah Abu sadar bahwa tugasnya ternyata masih belum selesai, dia harus menggali kembali sebuah terowongan yang menembus punggung bukit, untuk bisa mengalirkan air ke desanya.
Kepalang tanggung, Abu Dardak kembali bekerja, kali ini penggalian dia lakukan dari samping lambung bukit. Harapannya adalah, dengan dia membuat 'kalenan' (parit/terowongan), air bisa mengalir keluar dan dialirkan ke desanya.
"Kabar bapak berhasil mendapat sumber air, akhirnya tersebar ke seluruh desa, dan akhirnya mulai ada warga yang membantu penggalian ke dua, yaitu terowongan," ujar diam
Dengan dibantu oleh beberapa warga, mbah Abu Dardaj meneruskan pekerjaan pembuatan terowongan. Setelah berbulan bulan bekerja, akhirnya terowongan sepanjang 30 meter dapat ditembuskan ke sungai bawah tanah dalam perut bukit Grunggung.
Baca Juga: Sebanyak 99,15 persen RT di Gunungkidul Sudah Masuk Zona Hijau
Namun di saat aliran air mulai bisa dialirkan keluar lewat terowongan, cobaan lain yang tak terduga datang, langit langit sungai bawah tanah ada yang ambrol. Bebatuan yang ambrol menutupi aliran sungai bawah tanah, sehingga air ke terowongan juga terhenti.
"Mbah Abu kembali harus menguji kesabarannya, beliau harus menyingkirkan batu ambrol ini, dan itu harus dilakukannya sambil menyelam. Percaya gak percaya, batu yang dikumpulkan bapak sambil menyelam itu, saat dikumpulkan ada 12 kubik," ujar kyai Rohmad sambil tersenyum.
Setelah berjuang luar biasa yang dilakukannya, akhirnya warga Padukuhan Gedad mulai menuai hasil, air dengan lancar keluar dari dalam bukit Grunggung, dan melewati "kalenan"/terowongan kemudian turun ke bawah, dan langsung bisa digunakan oleh penduduk.
Bahkan dalam perkembangannya, saat ini ada warga tiga dusun lain yang letaknya jauh dari dusun Gedad juga memanfaatkan air dari bukit Grunggung. Hingga kini, wilayah Padukuhan Gedad tak lagi kekurangan air. Sekalipun musim kemarau, warga masih bisa mendapatkan air dari Luweng Cing Cing Giling
Mbah Abu Dardak meninggal tahun 2005, beliau dimakamkan di tengah tengah kompleks pondok pesantren yang didirikannya. Makam mbah Abu Dardak dibangun tanpa nisan, namun uniknya disitu diletakkan sebuah cermin besar, siapapun yang berziarah akan bisa melihat dirinya sendiri dalam bayangan cermin itu.
"Sebelum meninggal, Almarhum berpesan, bahwa sumber air Gunung Sari Bumi tidak boleh dikomersilkan, penggunaannya harus untuk kemaslahatan umat," pungkas Kyai Rohmad.
Berita Terkait
-
Tak Kunjung Dibuka, Pelaku Wisata di Gunungkidul Ancam Kibarkan Bendera Putih Besok
-
Rumah Warga Gunungkidul Terbakar Saat Ditinggal ke Pasar, Diduga dari Charger Mobil Remote
-
Bejat! Ayah Tiri di Gunungkidul Cabuli Remaja Usia 16 Tahun Hingga Berbadan Dua
-
Polsek Tepus Gagalkan Wisatawan yang Nekat Masuk Gunungkidul Pakai Jasa Calo
Terpopuler
- Profil Norman Joesoef, Pengusaha Muda yang Disebut-sebut Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan Hari Ini 5 Agustus 2026: Segalanya Berjalan Lancar
- 4 HP Redmi Memori 256 GB dan Kamera Jernih Harga Rp1 Jutaan, Cocok untuk Multitasking
- Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
- Jalan Santai Cocoknya Pakai Sepatu Apa? Ini 6 Produk Lokal yang Nyaman Buat 17 Agustusan
Pilihan
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
Terkini
-
1O1 STYLE Yogyakarta Malioboro Kembali dengan 'Rasa Merdeka': Sambut Agustusan dengan Rasa dan Tawa
-
Belum Genap Tiga Tahun, Puluhan Becak Listrik Danais Rusak, Dishub Sebut Baru Proyek Percontohan
-
Tramadol Masih Mudah Dibeli, Pembatasan Resep Dokter Mendesak, Jalur Ilegal Harus Distop
-
GEMPAR Hadir di Pasar Balangan, Pasar Tumbuh Ekonomi Sleman Tangguh
-
Menyesap Selang Demi Setetes Air, Potret Ketangguhan Warga Bantul Bertahan Saat Kemarau