Galih Priatmojo
Minggu, 10 Oktober 2021 | 10:01 WIB
sumber air di kampung Gedad yang berasal dari bukit Grunggung. [Kontributor / Julianto]

Kyai Abu Dardak lantas bertekat menggali luweng tersebut demi kemaslahatan umat. Setelah mendapat restu dan bimbingan gurunya, mbah Abu kemudian benar benar memulai penggalian luweng, dengan hanya dibantu oleh mbah Banjari. Hampir setiap hari selama kurun waktu 4 bulan, mereka bekerja keras. 

Bahkan pekerjaan ini sering dilakukan pada malam hari. Dan dalam waktu 4 bulan, cukup berat perjuangan yang harus dihadapi, mulai dari gangguan makhluk halus, sampai pada kerasnya batu yang harus mereka pecah. Alat yang dipakai waktu itu benar benar masih manual, linggis, pecok, palu, bodem, betel dan lainnya, tak terhitung berapa banyak alat yang dihabiskan untuk proses penggalian, 

"struktur batu yang dihadapi adalah batu gunung yang solid dan sangat keras,"tambahnya.

Setelah 4 bulan lebih, dan kedalaman penggalian kurang lebih 7 meter, akhirnya sumber air itu dapat ditemukan. Dan benar dugaan mbah Abu, sumber air itu adalah jalur sungai bawah tanah yang mempunyai debit air yang besar.

"Setelah benar benar menemukan sumber air, bapak bingung, bagaimana cara air ini bisa diangkat dan dialirkan ke rumah rumah penduduk,"ujar dia.

Di tahun itu tekhnologi pengangkatan air masih sangat jarang terlebih saat itu belum ada aliran listrik yang menjangkau kalurahan Banyusoca. Menyadari hal itu, mbah Abu sadar bahwa tugasnya ternyata masih belum selesai, dia harus menggali kembali sebuah terowongan yang menembus punggung bukit, untuk bisa mengalirkan air ke desanya.

Kepalang tanggung, Abu Dardak kembali bekerja, kali ini penggalian dia lakukan dari samping lambung bukit. Harapannya adalah, dengan dia membuat 'kalenan' (parit/terowongan), air bisa mengalir keluar dan dialirkan ke desanya.

"Kabar bapak berhasil mendapat sumber air, akhirnya tersebar ke seluruh desa, dan akhirnya mulai ada warga yang membantu penggalian ke dua, yaitu terowongan," ujar diam

Dengan dibantu oleh beberapa warga, mbah Abu Dardaj meneruskan pekerjaan pembuatan terowongan. Setelah berbulan bulan bekerja, akhirnya terowongan sepanjang 30 meter dapat ditembuskan ke sungai bawah tanah dalam perut bukit Grunggung

Baca Juga: Sebanyak 99,15 persen RT di Gunungkidul Sudah Masuk Zona Hijau

Kyai Hudi Rohmad, pengasuh pondok pesantren, Nurul Fallah yang beralamat di Dusun Gedad, Kalurahan Banyusoca, Kapanewon Playen, Gunungkidul. [kontributor / Julianto]

Namun di saat aliran air mulai bisa dialirkan keluar lewat terowongan, cobaan lain yang tak terduga datang, langit langit sungai bawah tanah ada yang ambrol. Bebatuan yang ambrol menutupi aliran sungai bawah tanah, sehingga air ke terowongan juga terhenti.

"Mbah Abu kembali harus menguji kesabarannya, beliau harus menyingkirkan batu ambrol ini, dan itu harus dilakukannya sambil menyelam. Percaya gak percaya, batu yang dikumpulkan bapak sambil menyelam itu, saat dikumpulkan ada 12 kubik," ujar kyai Rohmad sambil tersenyum.

Setelah berjuang luar biasa yang dilakukannya, akhirnya warga Padukuhan Gedad mulai menuai hasil, air dengan lancar keluar dari dalam bukit Grunggung, dan melewati "kalenan"/terowongan kemudian turun ke bawah, dan langsung bisa digunakan oleh penduduk. 

Bahkan dalam perkembangannya, saat ini ada warga tiga dusun lain yang letaknya jauh dari dusun Gedad juga memanfaatkan air dari bukit Grunggung. Hingga kini, wilayah Padukuhan Gedad tak lagi kekurangan air. Sekalipun musim kemarau, warga masih bisa mendapatkan air dari Luweng Cing Cing Giling

Mbah Abu Dardak meninggal tahun 2005, beliau dimakamkan di tengah tengah kompleks pondok pesantren yang didirikannya. Makam mbah Abu Dardak dibangun tanpa nisan, namun uniknya disitu diletakkan sebuah cermin besar, siapapun yang berziarah akan bisa melihat dirinya sendiri dalam bayangan cermin itu.

"Sebelum meninggal, Almarhum berpesan, bahwa sumber air Gunung Sari Bumi tidak boleh dikomersilkan, penggunaannya harus untuk kemaslahatan umat," pungkas Kyai Rohmad.

Load More