SuaraJogja.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta memastikan hewan-hewan kurban dari luar daerah yang masuk ke wilayah Kota Yogyakarta telah melalui pemeriksaan kesehatan. Hewan kurban tersebut dinyatakan telah bebas dari penyakit.
Penjabat Wali Kota Yogyakarta, Sugeng Purwanto belum lama ini mengatakan, proses pengawasan dan penyaringan hewan kurban di wilayahnya memang harus dilakukan lebih ketat. Hal itu mengingat letak geografis Kota Jogja yang berbatasan dengan Kabupaten Sleman dan Bantul.
"Lalu lintas hewan kurban di DIY yang juga mendapat suplai dari daerah lain, ketika masuk tentunya sudah melalui proses pemeriksaan di pos pemantauan," kata Sugeng, Sabtu (15/6/2024).
"Kemudian saat masuk ke kota atau kabupaten, juga dicek apakah sudah memiliki surat keterangan kesehatan hewan atau SKHH dari Pejabat Otoritas Veteriner daerah asal," imbuhnya.
Pemantauan secara ketat ini dilakukan sebagai upaya preventif dan kewaspadaan mencegah penyakit menular menyebar di wilayah Kota Jogja. Terlebih saat nanti akan dipotong untuk kurban Idul Adha.
"Petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan selain melakukan pengawasan pada lalu lintas masuknya hewan kurban di Pasar Tiban Kota Yogya, juga ada pemeriksaan sebelum pemotongan hingga setelah penanganannya untuk memastikan daging yang dibagikan ke masyarakat aman dan bebas dari penyakit," terangnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan dan Kehewanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Sri Panggarti menjelaskan, pemantauan hewan kurban di Pasar Tiban telah dilakukan sejak bulan Mei. Di mana setiap penjual harus mengantongi SKKH disertai izin dari Kemantren.
"Tren kebutuhan hewan kurban kembali meningkat setelah masa pandemi Covid-19 yang lalu, kurang lebih kebutuhannya 2.500 ekor sapi dan 4.700 ekor kambing, sementara ketersediaan dari peternak di Kota Yogya terbatas, hanya sekitar 90 ekor sapi dan 300 ekor kambing," terang Sri.
"Untuk itu kekurangannya dipenuhi dari dalam maupun luar DIY, dengan pengawasan dan pemantauan yang ketat utamanya untuk pencegahan penyebaran penyakit hewan menular strategis," sambungnya.
Tidak hanya mengawasi lalu lintas keluar masuk hewan kurban saja. Pihaknya juga telah melakukan pemantauan ke peternak atau kelompok ternak di wilayahnya.
Dengan pelayanan terpadu kesehatan hewan mulai dari pemeriksaan, pemberian obat cacing hingga vitamin gratis. Tujuannya guna memastikan hewan kurban yang siap dijual, juga yang ada di lingkungan kandang dalam keadaan sehat.
"Rangkaian kegiatan yang dilakukan mulai dari sosialisasi, bimbingan teknis, pemeriksaan antemortem sebelum pemotongan hewan kurban, hingga penanganannya nanti juga akan diperiksa lagi. Terutama untuk mengecek apakah terdapat cacing hati, karena hewan kurban yang secara fisik sehat bisa saja ditemukan," ujar dia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Momentum Earth Hour, BRI Perkuat Komitmen Keberlanjutan Lewat Aksi Nyata
-
Kampung Koboi Tugu Selatan, Inovasi Wisata Desa Berbasis Potensi Lokal dalam Program Desa BRILiaN
-
Jeritan Pilu Buruh di Jogja: dari Tiga Bulan Tak Digaji, Terjerat Pinjol, hingga BPJS Mati
-
Rencana Kepulangan Praka Farizal yang Tak Terwujud, Sang Ibunda Akui Sudah Terima Jadwal Penerbangan
-
Deretan Karangan Bunga Pejabat Tinggi Hiasi Kediaman Almarhum Praka Farizal, Ada dari Megawati