Anto, yang tergabung dalam Gapoktan Ngudi Makmur Samiran, Parangtritis ini mengaku terinspirasi dari sebuah video YouTube tentang pemanfaatan Google Assistant dalam kehidupan sehari-hari. Dari situlah, dia mendapatkan ide untuk mengadaptasi teknologi tersebut bagi kebutuhan pertaniannya.
Dia tidak bisa merinci secara detail berapa biaya yang harus dia keluarkan untuk membeli peralatan. Karena dia membelinya sedikit demi sedikit tergantung dengan kemampuan finansial yang dimilikinya. Namun demikian, Anto menyebut jika peralatan yang digunakan cukup sederhana dan terjangkau.
"Peralatan yang saya beli antara lain smart plug, smart breaker, sprinkle air, pipa, modem internet, dan CCTV kalau CCTV. Kalau totalnya saya belum menghitungnya rinci wong saya belinya sedikit-sedikit. Mungkin ya sekitar Rp3 juta lebih, paling banyak ya peralonnya itu," paparnya.
Namun dia bersyukur, dengan peralatan yang dia ciptakan tersebut, mampu menghemat biaya dan tenaga sehingga lebih efisien. Bahkan untuk melakukan penyiramanpun kini dia tidak harus pergi ke sawah, dia bisa melakukannya dari mana saja asal terhubung dengan internet. Selama internet di sawahnya tidak ada kendala, maka pekerjaan penyiraman tanaman akan lancar.
Untuk mengontrol semua perangkat ini, Anto menggunakan aplikasi Smart Life yang dapat diunduh secara gratis di Google Play Store. Aplikasi ini memungkinkan Anto untuk mengontrol penyiraman di sawahnya yang memiliki luas sekitar 300 meter persegi hanya dengan perintah suara.
"Ini sekarang saya pasang di dua lahan saya. Satu dekat Balai Padukuhan Bungkus dan yang satu di bulak Parangtritis," tambahnya.
Ia mengakui, jika inovasi ini sangat membantu pekerjaannya menyirami tanaman cabai dan bawang merahnya. Sebelumnya, Anto masih memakai cara konvensional yaitu menggunakan mesin pompa air bertenaga bahan bakar minyak (BBM) untuk penyiraman. Penyemprotan pun dilakukan secara manual.
Ketika menyiram dengan memanfaatkan diesel, maka dia harus merogoh kocek sebesar Rp30 ribu sekali penyiraman.
Namun dengan memanfaatkan internet dan listrik ini, dia mengestimasi biaya yang dikeluarkannya hanya Rp2.000 untuk sekali penyiraman. Dia pun terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar.
Baca Juga: Ikuti Perkembangan Zaman, Pelaku UMKM Gunungkidul Didorong Jual Produk Manfaatkan Teknologi
Kontributor : Julianto
Berita Terkait
Terpopuler
- WNI Tentara Bayaran Rusia, Rendi Apriyanto Sempat Kirim Duit ke Ortu Tapi Rekening Diblokir
- 5482 Korban Keracunan MBG, Viral Ucapan Wapres Gibran: Bawa Bekal dari Rumah, MBG Jangan Dimakan
- Kekayaan Jusuf Hamka yang Dilaporkan Hary Tanoesoedibjo ke Polisi
- Jaksa Agung Burhanuddin Muncul di Istana, Bantah Bakal Dilantik jadi Jampidum
- 3 Sepatu Lokal Paling Nyaman dan Empuk untuk Jalan Terbaik Menurut Review
Pilihan
-
Resmi, Syahganda Nainggolan Jadi Kepala Bakom RI Gantikan Muhammad Qodari
-
Hadir di Istana, Pratikno Buka Suara Soal Isu Jadi Ketua Wantimpres Era Prabowo
-
Disorot Gegara Gaya Hidup Mewah, Timothy Ivan Mundur dari Deputi II Bakom RI: Ingin Introspeksi Diri
-
KBRI di Singapura Tak Punya Dokumen Soal Jenjang Pendidikan Gibran di Orchid Park dan MDIS
-
Pemain Timnas Indonesia Dapat Ancaman Pembunuhan
Terkini
-
Bahlil Rangkap Menteri dan Menko, Pengamat Sebut Prabowo Selamatkan Agenda Politik 2029
-
Resep Kuliner Tradisional Mulai Hilang, 45 Persen Warisan Gastronomi Indonesia Terancam Punah
-
Keluarga Eks-Napiter Terjebak Stigma, Deradikalisasi Dinilai Tak Cukup Sasar Pelaku
-
JPW: Kapolri Baru Tak Berdampak Jika Pekerjaan Rumah Dibiarkan Mangkrak
-
Pratikno dan Listyo Sigit Kena Resuffle, Prabowo Disebut Bersih-bersih Orang Jokowi