Scroll untuk membaca artikel
Galih Priatmojo | Hiskia Andika Weadcaksana
Sabtu, 23 November 2024 | 09:51 WIB
Diskusi usai pemutaran film Bird of a Different Feather di Empire XXI Yogyakarta, Jumat (22/11/2024). [Suarajogja.id/Hiskia Andika Weadcaksana]

Tanpa memikirkan dampak lebih lanjut terhadap anak, pendidikan di rumah dan sosial lantas diabaikan. Hal itu harus mulai disadari oleh para orang tua untuk menciptakan kondisi yang lebih baik.

"Kadang mereka hanya menyekolahkan dan berharap anak-anak mereka menjadi pintar dan itu hanya tanggung jawab sekolah, mereka bahkan tidak menyadari bahwa rumah mereka adalah tempat pertama dan utama di mana pendidikan dimulai," tandasnya. 

Dia berharap film ini akan meningkatkan kesadaran tidak hanya tentang Albinisme tetapi tentang anak-anak berkebutuhan khusus lainnya, yang juga tak jarang masih dipandang sebelah mata.

"Saya senang karena dengan film seperti ini, kita bisa merasakan itu, membuka kesadaran lebih luas. Kesadaran terutama pada anak berkebutuhan khusus. Harapannya akan lebih banyak film dengan menyoroti isu-isu semacam ini," ucapnya.

Baca Juga: JAFF19 Kembali, 180 Film Asia Pasifik Siap Tayang di Yogyakarta

Produser film 'Bird of a Different Feather' Prithvi Konanur berharap film ini dapat bertemu dengan lebih banyak audiens di berbagai negara. Terkhusus di India sendiri sehingga dapat lebih meningkatkan kesadaran tentang pendidikan inklusif

"Saya ingin memutar film ini kepada anak-anak. Satu hal yang dapat kita coba lakukan adalah mencoba untuk membuat pemerintah mengaturnya di beberapa level dan mencoba menyampaikannya ke sekolah-sekolah dan menunjukkannya kepada anak-anak secara gratis. Itu satu hal yang dapat kita lakukan," ucap Prithvi. 

Bird of a Different Feather sendiri merupakan film pembuka di acara Alternativa Film Award & Festival 2024 yang digelar di Empire XXI Yogyakarta. Festival ini masih akan berlangsung hingga 29 November 2024 mendatang.

Load More