- Lahan pemakaman di 4 TPU milik Pemkot Yogyakarta sudah penuh, memaksa penerapan sistem makam tumpang.
- Perda baru mengatur makam tumpang hanya untuk keluarga atau dengan izin ahli waris setelah 3 tahun.
- Solusi ini diharapkan memenuhi kebutuhan pemakaman hingga 3,5 tahun ke depan tanpa biaya tambahan.
SuaraJogja.id - Warga Kota Yogyakarta kini harus bersiap dengan sebuah kenyataan baru saat berduka: satu liang lahat kemungkinan akan diisi oleh beberapa jenazah.
Krisis lahan pemakaman yang semakin akut memaksa DPRD Kota Yogyakarta mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) Penyelenggaraan Pemakaman yang melegalkan skema makam tumpang.
Kebijakan ini menjadi solusi darurat di tengah kondisi empat Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik pemerintah kota, yakni Pracimalaya, Sasanalaya, Sarilaya, dan Utaralaya, yang sudah dinyatakan penuh sesak.
Aturan baru ini menggantikan Perda lama dari tahun 1996 yang dinilai sudah tak lagi relevan dengan kondisi metropolitan Yogyakarta saat ini.
Ketua Pansus Raperda Penyelenggaraan Pemakaman DPRD Kota Yogyakarta, Taufiq Setiawan, menjelaskan bahwa kebijakan ini adalah jawaban atas kebutuhan layanan pemakaman yang mendesak.
"Ini menjadi solusi atas kebutuhan layanan pemakaman di tengah lahan yang sangat terbatas," kata Taufiq, dikutip Jumat (19/9/2025).
Aturan Main Makam Tumpang
Penerapan sistem makam tumpang tidak bisa dilakukan sembarangan. Menurut Taufiq, ada sejumlah syarat ketat yang harus dipenuhi oleh ahli waris. Prioritas utama adalah jenazah yang masih memiliki hubungan keluarga.
Namun, jika tidak ada hubungan keluarga, penumpangan jenazah tetap bisa dilakukan asalkan ada izin tertulis dari ahli waris jenazah yang petaknya akan digunakan. Aturan teknisnya pun diatur secara detail untuk menjaga kehormatan jenazah.
Baca Juga: Sampah Menggunung: Jogja Kembali 'Numpang' Piyungan, Kapan Mandiri?
"Di samping itu, jarak tumpangnya pun diatur dengan permukaan tanah paling rendah satu meter," ungkap politikus PPP tersebut.
Syarat lainnya, jenazah baru bisa ditumpangkan pada makam yang usia pemakaman jenazah pertamanya sudah melewati waktu paling singkat tiga tahun.
Dengan kalkulasi ini, Pemkot Yogyakarta optimis kebutuhan lahan pemakaman bisa teratasi setidaknya untuk 3,5 tahun mendatang.
Kabar baiknya, skema ini tidak akan membebani masyarakat dengan biaya tambahan. Warga yang menggunakan sistem makam tumpang tidak akan dikenai biaya untuk prosedur bedah bumi, sehingga lebih efisien dan meringankan.
"Kemudian, ini sudah direncanakan pemakaman itu akan diperindah dengan rerumputan juga, untuk menghindari kesan seram," tandasnya.
Digitalisasi dan Rencana Pembelian Lahan Baru
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Gelombang Pengunduran Diri di Partai Buruh Berlanjut, Seluruh Pengurus DIY Kompak Pamit
-
Viral Debat Mahasiswa dan Rektorat UNY saat Hendak Gelar Aksi, Begini Kronologi Lengkapnya
-
Sri Sultan Absen dari Agenda Pemerintahan, Paku Alam X Ditunjuk Jadi Plh Gubernur DIY
-
Rp4,6 Miliar Digelontorkan, Mesin Produksi Susu di DIY Diduga Tak Pernah Berfungsi
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda