- Pameran seni disabilitas digelar di Jogja
- Aveta Hotel dan JDA sebagai penyelenggara menggandeng sekitar 25 seniman
- Seni yang ditampilkan beranekaragam mulai dari politik, isu lingkungan dan lainnya
Artinya, mereka punya kepekaan sosial tinggi.
"Mereka tidak melihat diri sebagai korban, tapi sebagai bagian dari masyarakat yang punya pandangan tajam terhadap kehidupan," ungkapnya.
Salah satu karya yang mencuri perhatian menampilkan gambar mata yang ditarik ke satu arah. Menurut Sukri, lukisan itu merupakan kritik sosial terhadap situasi politik yang timpang.
Lukisan itu merupakan karya seniman tuli bicara. Dia ingin bicara tentang sesuatu yang susah diubah, salah satunya tentang pemerintah daerah dan sistem yang lamban.
"Bahasa visual menjadi cara mereka menyampaikan hal-hal besar yang sulit diungkap dengan kata-kata," tandasnya.
Pendekatan inklusif dalam JDA juga diterapkan dalam proses berkarya.
Para seniman tidak diarahkan secara kaku, melainkan diajak menggali makna dan pengalaman pribadi.
"Kami tidak menentukan, kamu gambar ini, kamu gambar itu. Tapi kami tanya, tema ini, apa yang kamu tahu, apa yang ingin kamu ceritakan? Dari situ muncul karya yang jujur dan berakar pada pengalaman masing-masing," ungkapnya.
Di antara para peserta, nama Rokita Rahayu dari Gunungkidul juga menarik perhatian.
Baca Juga: Bantul Lawan Kemiskinan Ekstrem: Bansos Pangan dan Alat Bantu Disabilitas Disalurkan
Ia merupakan penyandang tuli bicara yang tidak bisa baca tulis, namun memiliki kemampuan menggambar alami.
Karya Rokita terpajang di jantung Malioboro, berdampingan dengan karya seniman dari berbagai daerah.
Bagi JDA, kisah seperti Rokita menunjukkan seni adalah alat pemberdayaan yang nyata.
"Kami tahu dari teman seniman di Gunungkidul. Rokita sering menggambar di kertas bekas dan hasilnya bagus. Lalu kami dampingi. Karena dia tidak bisa baca-tulis dan tidak menggunakan YouTube, jadi proses belajarnya lewat observasi langsung, seperti diajak menonton pameran," katanya.
Beberapa karya dijual dengan harga antara tiga hingga sepuluh juta rupiah dalam pameran kali ini.
Namun bagi para seniman disabilitas, nilai bukan di angka, melainkan di pengakuan dan keberlanjutan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Jogja Fashion Week 2026: Panggung Kreativitas dan Regenerasi Desainer Muda
-
Bentangkan Merah Putih 1.000 Meter, Serukan Rakyat Masih Bersatu di Tengah Persoalan Bangsa
-
Hari UMKM Nasional, BRI Peduli Perkuat UMKM Desa Brilian melalui Pendampingan Berkelanjutan
-
Perusakan Makam Mertua Seniman Djaduk Berakhir Damai, Polisi Ungkap Alasan Juru Kunci
-
Prabowo Rombak Buku Pelajaran karena Font Kekecilan, Dewan Pendidikan DIY Sebut Tak Urgen