- Program KONEKSI Indonesia-Australia memamerkan hampir 38 proyek riset Lingkungan dan Perubahan Iklim (ECC) di Yogyakarta pada 19 November 2025.
- Kolaborasi riset ini bertujuan mempercepat pembangunan nasional, meningkatkan kapasitas peneliti Indonesia, dan berfokus pada bioekonomi serta transisi energi.
- Pentingnya riset yang bermanfaat langsung bagi masyarakat dan relevansi kerjasama ini diakui karena kondisi geografis kedua negara saling memengaruhi.
"Ini bukan proyek penelitian abstrak atau kolaborasi akademis. Ink berkaitan isu yang sangat penting bagi masyarakat di Indonesia," ujar Gilbert.
Ia juga menyoroti kuatnya hubungan antarmanusia dan institusi pendidikan kedua negara yang menopang kolaborasi jangka panjang.
KONEKSI sendiri mendapatkan dukungan pendanaan signifikan dari pemerintah Australia.
"Program Koneksi sendiri, dari tahun 2023 hingga saat ini, memiliki sekitar $65 juta untuk mendukung semua inovasi yang luar biasa ini," ucapnya.
Sementara itu, Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Yos Sunitiyoso menyebut bahwa riset transisi energi kini menjadi fokus besar.
"Terkait transisi energi, kebetulan tahun ini akan ada mulai 12 proyek fokus di transisi energ. Sebelumnya juga ada proyek mengenai EV (electric vehicles)," kata Yos.
Disampaikan Yos, bahwa manfaat riset harus menjangkau masyarakat, industri, hingga pemerintah daerah.
"Manfaatnya apakah ke masyarakat, manfaatnya kepada industri, ke ekonomi, manfaatnya kepada pemerintah, tentunya diharapkan mendapatkan manfaat dari penelitian yang ada," tuturnya.
Ia menyebut bahwa banyak proyek riset KONEKSI diarahkan untuk menjawab tantangan nyata seperti banjir, kesenjangan energi, dan adaptasi perubahan iklim di berbagai kota.
Baca Juga: Warga Jogja Merapat! Saldo DANA Kaget Rp 299 Ribu Siap Bikin Hidup Makin Santuy, Sikat 4 Link Ini!
Menurut Yos, perubahan iklim kini bukan ancaman masa depan, melainkan sudah berlangsung dan semakin mendesak. Ia menegaskan pentingnya riset transisi energi sebagai langkah krusial agar Indonesia dapat menahan pemanasan global.
"Ini sudah bukan kita bilang perubahan iklim itu sesuatu yang masih lama, ini sudah terjadi. Jadi membutuhkan riset yang bisa membantu kita memecahkan masalah mengantisipasi dampak-dampak perubahan iklim," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Prioritaskan Pelayanan Masyarakat, Pemkab Sleman Tak Berlakukan WFH Satu Hari Sepekan bagi ASN
-
Terkoneksi di Sleman, Tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen Resmi Tersambung Secara Fisik
-
Paradoks Pariwisata pada Libur Lebaran, Okupansi Anjlok Saat 1,9 Juta Wisatawan Berlibur di Jogja
-
Perkuat Gelar Pahlawan, Peneliti Temukan Sederet Bukti Pelanggaran Hukum terhadap Sultan HB II
-
Patehan: Legasi Budaya Minum Teh Ala Raja di Royal Ambarrukmo Yogyakarta