- Perajin di Desa Ngawen, Sleman, secara tradisional mengubah rongsokan kuningan menjadi klinting bernilai tinggi melalui proses pengecoran manual.
- Kualitas klinting Ngawen terjamin karena menggunakan kuningan murni dengan campuran minimal, menghasilkan suara nyaring dan ketahanan lama.
- Jumlah perajin menyusut drastis, namun pemerintah berupaya mendukung promosi agar tradisi pembuatan klinting ini dapat bertahan.
Ika menjelaskan bahwa tak ada produksi harian, pengecoran, pencetakan, pembakaran, hingga bubut atau penghalusan dilakukan secara manual. Menuntut ketelatenan dan ketelitian tinggi dari tangan para pembuat.
"Proses kurang lebih dua minggu, tergantung cuaca dan pesanan," tandasnya.
Menurut Ika, kunci kualitas terletak pada kesabaran dan keuletan tangan. Bila terlalu tergesa atau campuran logam tidak presisi, hasilnya bisa patah atau suaranya tidak nyaring.
Oleh sebab itu mereka memilih bahan kuningan murni, dengan campuran seminimal mungkin.
"Kalau murni kuningan, suara nyaring, awet, enggak gampang pecah," terangnya.
Hal ini pula yang membuat klinting Ngawen tetap dicari, terutama oleh pelaku seni yang mengutamakan kualitas bukan kuantitas.
Pasca-Pandemi Pesanan Merosot
Setelah beberapa tahun masa lesu sejak pandemi, klinting Ngawen mulai merasakan kebangkitan. Meskipun tidak setinggi saat sebelum pandemi.
Apalagi Ika bilang bahwa periode 2022–2023 sempat menjadi masa 'mati suri' bagi para perajin sebab lesunya pemesanan.
Baca Juga: Gagal Pindah! Lahan Sekolah Pengganti SD Nglarang Ternyata Lahan Sawah Dilindungi
Dulu pelanggan klinting datang dari berbagai daerah, mulai dari Bali, Sumatera, Kalimantan, maupun kota-kota lain. Ada yang datang langsung ada pula yang mengontak perajin via media sosial.
Kendati tak seramai itu, tapi belakangan kegiatan produksi mulai merangkak kembali. Terlebih dengan menggeliatnya kembali kegiatan seni dan alokasi dana kebudayaan di berbagai daerah seperti Magelang, pesanan perlahan mulai berdatangan.
"Ya akhir-akhir ini lumayan, daripada yang kemarin-kemarin itu," ucapnya.
Perajin Menyusut hingga Pemasaran Terbatas
Salah satu tantangan paling nyata adalah berkurangnya jumlah perajin. Dari puluhan, kini hanya tersisa sekitar enam orang yang masih aktif membuat klinting atau berkutat pada kuningan.
Proses panjang dan memakan energi membuat generasi muda enggan terjun.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
Terkini
-
Lurah Aktif Condongcatur Ditetapkan Sebagai Tersangka, Dugaan Korupsi Tanah Kas Desa
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
BEM UGM Berubah Jadi SEMA, Pemilu Mahasiswa Dihapus dan Diganti Meritokrasi
-
BEM UGM Resmi Berubah Nama Jadi Serikat Mahasiswa
-
Bumi Sudah Melewati Batas Perjanjian Paris, Ancaman Krisis Iklim Tak Lagi Sekadar Ramalan