- DIY memprediksi 8,2 juta pemudik datang saat Lebaran 2026, meningkatkan optimisme perhotelan sekaligus menimbulkan kekhawatiran kemacetan.
- PHRI DIY menargetkan tingkat okupansi hotel mencapai rata-rata 85% selama libur Lebaran, 17 hingga 31 Maret 2026.
- PHRI berkomitmen menjaga stabilitas harga kamar hotel dan menjamin keamanan logistik pangan selama lonjakan kunjungan wisatawan.
SuaraJogja.id - Prediksi masuknya sekitar 8,2 juta pemudik ke DIY pada libur Lebaran 2026 nanti disambut baik sektor perhotelan. Namun dibalik optimisme tersebut, ada kekhawatiran pelaku usaha libur panjang Lebaran itu bisa menimbulkan potensi kemacetan di berbagai titik destinasi dan jalur utama kota.
"Survei atau prediksi jumlah pemudik ini kami sambut baik. Namun jangan sampai justru membuat wisatawan mengurungkan niat datang ke Jogja karena khawatir macet atau tidak mendapatkan kamar," papar Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (BPD PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono di Yogyakarta, Rabu (11/3/2026).
Namun menurut Deddy, tingginya angka pemudik ke kota ini tidak membuat wisatawan ragu untuk berkunjung. Pelaku industri perhotelan berharap lonjakan pergerakan masyarakat tersebut mampu mendongkrak tingkat hunian kamar hotel.
Apalagi sektor perhotelan di Yogyakarta sudah sangat siap menyambut kedatangan wisatawan selama masa libur Idulfitri. Kehadiran wisatawan dinilai sangat dinantikan oleh pelaku usaha hotel dan restoran yang selama bulan Ramadan biasanya mengalami penurunan aktivitas.
"Kami menunggu kedatangan wisatawan untuk menginap di hotel-hotel. Ini juga bisa menjadi obat bagi masa paceklik selama bulan puasa," ujarnya.
Deddy menyebut, kapasitas akomodasi di Yogyakarta cukup memadai untuk menampung lonjakan wisatawan. Karenanya PHRI berharap kunjungan tersebut bisa membantu memulihkan aktivitas bisnis hotel setelah periode Ramadan yang relatif sepi.
PHRI DIY menargetkan tingkat okupansi hotel pada periode libur Lebaran, yakni mulai 17 Maret hingga 31 Maret 2026, dapat mencapai rata-rata 85 persen. Target tersebut berlaku untuk hotel berbintang maupun nonbintang yang tergabung dalam organisasi tersebut.
Terlebih momentum libur Lebaran biasanya menjadi salah satu periode dengan tingkat hunian tertinggi dalam setahun. Banyak wisatawan yang datang tidak hanya untuk mudik, tetapi juga berlibur bersama keluarga.
Namun PHRI DIY tetap mewaspadai dampak kondisi ekonomi nasional yang dinilai belum sepenuhnya stabil. Penurunan daya beli masyarakat berpotensi memengaruhi tingkat belanja wisatawan, termasuk pengeluaran untuk akomodasi.
Baca Juga: Nekat Terjang Jalur Jip saat Sepi, Mobil Pajero Terjebak Lumpur Kali Kuning di Lereng Merapi
"Dengan stabilitas ekonomi nasional yang belum baik-baik saja, daya beli masyarakat juga menurun. Karena itu kami memprediksi pendapatan hotel kemungkinan turun atau stagnan dibanding tahun lalu, meskipun okupansi bisa tinggi," tandasnya.
Deddy berharap prediksi tersebut tidak terjadi dan sektor pariwisata tetap bergerak positif selama masa libur Lebaran. Sebab selain kesiapan kamar, PHRI DIY jmemastikan kebutuhan logistik hotel dan restoran, khususnya bahan pangan tetap aman.
Selama ini anggota PHRI telah menjalin kerja sama dengan berbagai pemasok, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Kami berharap tidak ada kendala dalam rantai pasok pangan karena anggota kami sudah memiliki kontrak kerja sama dengan supplier, termasuk UMKM," ungkapnya.
PHRI DIY juga menegaskan komitmennya untuk menjaga citra pariwisata Yogyakarta dengan mencegah praktik kenaikan harga yang tidak wajar selama musim liburan. Organisasi ini telah menyepakati penerapan batas atas dan batas bawah tarif kamar hotel agar tidak terjadi praktik aji mumpung.
Jika ada anggota yang melanggar kesepakatan tersebut, PHRI DIY akan memberikan sanksi tegas mulai dari surat peringatan hingga pencabutan keanggotaan. Namun diakui Deddy, praktik kenaikan harga berlebihan justru kerap terjadi pada akomodasi yang tidak tergabung dalam PHRI.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid Terkait Kasus Bupati Kuansing
- Polisi Telusuri Jejak Hotman Paris di Balik Kematian Tak Wajar Pengacara Rocky Martin
Pilihan
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Terkini
-
Ucapan 'Londo Ireng' Prabowo Dinilai Ancam Demokrasi, Jurnalis: Kami Bukan Musuh Negara
-
BRI Peduli Libatkan Petani Lokal Hijaukan Pesisir dengan 24.000 Mangrove
-
Kongres 3 Organisasi Kedokteran, Satukan Visi Hadapi Tantangan Penyakit Pencernaan dan Hati
-
GEMPAR Dorong Pasar Kebonagung Berkembang sebagai Destinasi Wisata Kuliner
-
Menjangkau yang Terpencil, Mantri BRI Layani Toraja Utara