Budi Arista Romadhoni
Sabtu, 11 April 2026 | 13:57 WIB
Ilustrasi BBM naik akibat perang makin membuat dirver ojek online dan kurir paket makin terhimpit. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Konflik geopolitik global pada 9 April 2026 mendorong harga minyak dunia melampaui 100 US$ per barel.
  • Pekerja informal di Yogyakarta seperti kurir dan ojol khawatir kenaikan BBM akan menurunkan pendapatan mereka.
  • Pakar UGM menyarankan pemerintah menghitung dampak kebijakan energi secara matang guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.

SuaraJogja.id - Bayang-bayang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kembali menghantui pekerja sektor informal di Yogyakarta. Bilamana tidak, memanasnya kembali konflik geopolitik global mendorong harga minyak mentah dunia melampaui 100 US$ per barel pada Kamis (9/4/2026) kemarin.

Padahal kelompok pekerja seperti kurir paket dan ojek online (ojol) sangat bergantung pada mobilitas kendaraan. Mereka dipastikan menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Potensi kenaikan BBM akan semakin menghimpit mereka. Terlebih biaya operasional yang naik untuk mengantar paket atau penumpang, kurir paket dan ojol juga masih harus berhadapan tekanan pendapatan yang tidak bertambah dari perusahaan ekspedisi atau aplikator.

Sebut saja Sekar, seorang kurir paket yang bekerja sebagai mitra salah satu perusahaan ekspedisi di Yogyakarta yang merasakan langsung tekanan tersebut. Ia tidak memiliki gaji tetap karena sistem kerja yang diterapkan adalah pembayaran berdasarkan jumlah paket yang diantar.

"Kalau kurir mitra seperti saya dihitung per paket, Rp1.800 per paket. Berapa pun paket yang dibawa tinggal dikalikan saja," ujarnya di Yogyakarta, Jumat (10/4/2026).

Dalam kondisi ideal, Sekar bisa mengantar hingga sekitar 200 paket sehari, terutama ketika permintaan pengiriman sedang tinggi. Namun dalam banyak hari lainnya, jumlah paket yang ia terima jauh lebih sedikit.

"Paling sedikit sekitar 30 paket. Kadang malah tidak dapat paket karena ada kurir plus," katanya.

Ilustrasi driver ojek online. [Envanto]

Sistem kurir plus yang belakangan muncul di perusahaan ekspedisi membuat kurir mitra seperti Sekar sering hanya mendapat sisa paket. Dampaknya, penghasilan harian yang ia terima menjadi semakin tidak menentu.

Jika ia hanya membawa 100 paket dalam sehari, misalnya, maka penghasilan yang didapat hanya sekitar Rp180 ribu. Jumlah tersebut masih harus dipakai untuk berbagai kebutuhan operasional, terutama bahan bakar kendaraan.

Baca Juga: Kesaksian Warga Soal Cekcok Order Kopi Berujung Ricuh, Driver Ojol Disebut Sempat Telat Berjam-jam

"Biasanya isi bensin seminggu dua kali, sekali sekitar Rp30 ribu sampai Rp35 ribu," jelasnya.

Bila harga BBM kembali naik, Sekar khawatir pengeluaran operasional akan semakin membengkak. Sementara penghasilannya tetap tidak pasti.

"Sekarang saja kadang paketnya sedikit. Kalau bensin naik lagi ya makin berat," katanya.

Selain itu, sebagai mitra ia juga harus menanggung sejumlah kewajiban lain. Di antaranya pembayaran BPJS Ketenagakerjaan dan deposit kerja yang dipotong bertahap dari gaji.

Meski situasi semakin sulit, Sekar mengaku masih bertahan. Sebab tidak mudah mencari pekerjaan lain di kondisi ekonomi saat ini.

"Sempat kepikiran cari kerja lain, tapi masih bertahan dulu. Kalau mau keluar juga tidak gampang," akunya.

Load More