Budi Arista Romadhoni
Senin, 15 Juni 2026 | 18:25 WIB
Ilustrasi APBD DIY Mengalami krisis. [Ist]
Baca 10 detik
  • Pemda DIY memperketat anggaran tahun 2026 akibat pengurangan dana transfer pusat sebesar Rp167 miliar dan Dana Keistimewaan Rp400 miliar.
  • Tekanan ekonomi dipicu naiknya harga BBM serta melemahnya nilai tukar rupiah yang berdampak pada operasional daerah dan proyek konstruksi.
  • Pemda DIY melakukan efisiensi dengan membatasi perjalanan dinas, meminimalisasi penggunaan kendaraan operasional, dan mendorong koordinasi melalui teknologi digital secara daring.

Namun ia memastikan hingga saat ini belum ada proyek yang mengalami pergeseran target pelaksanaan. Pemerintah masih melakukan pendataan terhadap kegiatan kegiatan yang paling terdampak untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.

"Ini masih kami lihat. Kemarin kami sudah berkonsultasi dengan LKPP apakah memungkinkan ada penyesuaian terkait beberapa komponen, khususnya kegiatan konstruksi yang sangat terpengaruh oleh dolar," jelasnya.

Sementara itu, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam mengelola keuangan di tengah situasi ekonomi yang penuh tantangan. Sultan menyebut, masyarakat perlu menyesuaikan pola konsumsi dengan kemampuan yang dimiliki dan menghindari gaya hidup berlebihan.

"Jangan hidup boros. Penghasilan tetap, ya kebutuhan hidup dijaga jangan di luar kemampuan," tandasnya. 

Pesan tersebut, menurutnya, tidak hanya berlaku bagi masyarakat, tetapi juga menjadi prinsip yang dijalankan pemerintah daerah dalam mengelola anggaran di tengah meningkatnya tekanan ekonomi. 

"Hidup boros buat apa? Beli yang tidak perlu untuk apa? Punya aset yang tidak perlu untuk apa?" tandasnya.

Kontributor : Putu Ayu Palupi

Load More