- Pemda DIY memperketat anggaran tahun 2026 akibat pengurangan dana transfer pusat sebesar Rp167 miliar dan Dana Keistimewaan Rp400 miliar.
- Tekanan ekonomi dipicu naiknya harga BBM serta melemahnya nilai tukar rupiah yang berdampak pada operasional daerah dan proyek konstruksi.
- Pemda DIY melakukan efisiensi dengan membatasi perjalanan dinas, meminimalisasi penggunaan kendaraan operasional, dan mendorong koordinasi melalui teknologi digital secara daring.
SuaraJogja.id - Pemda DIY semakin memperketat pengeluaran di tengah tekanan ekonomi yang ditandai dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi dan fluktuasi nilai tukar rupiah yang terjadi saat ini. Bilamana tidak, Pemda masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap dana transfer dari pemerintah pusat yang mencapai lebih dari 67 persen.
"Pengaruhnya [naiknya BBM dan melemahnya rupiah] cukup banyak, karena 67 persen APBD kita merupakan dana transfer. Ketika kemudian itu berkurang, tentu sangat berimbas terhadap anggaran kami pada 2026.
Karena itu kami harus mencari mana yang benar-benar menjadi prioritas," ujar Sekda DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti Made, Senin (15/6/2026).
Menurut Made, kebijakan efisiensi yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto Dana Transfer Daerah (TKD) 2026 di DIY mengalami penguranganingga lebih dari Rp167 Miliar. Belum lagi Dana Keistimewaan (danais) yang juga mengalami pemangkasan sekitar Rp400 Miliar hingga tinggal Rp1 Triliun.
Penurunan tersebut membuat Pemda sejak awal tahun harus melakukan pemangkasan di berbagai sektor karena ruang fiskal DIY semakin sempit. Berbagai langkah efisiensi dilakukan agar pelayanan publik tetap berjalan.
Pemda DIY sebelumnya telah menjalankan penghematan energi, termasuk dengan mengurangi penggunaan kendaraan dinas dan menerapkan sejumlah kebijakan internal seperti car free day.
Namun dengan melemahnya rupiah dan naiknya harga BBM saat ini, kemampuan keuangan daerah semakin tertekan. Pemda yang sudah menyusun desain anggaran 2026 secara sangat ketat dan minimalis masih dipaksa untuk berhemat disana-sini.
"Sebenarnya desain anggaran kita sudah sangat-sangat minimalis. Kami juga agak kesulitan khususnya untuk kendaraan operasional yang menggunakan Dex yang mengalami kenaikan harga," tandasnya.
Karena itulah saat ini Pemda berupaya melakukan penghematan lebih ketat. Di antaranya mulai mengatur kembali penggunaan kendaraan dinas dan membatasi perjalanan dinas yang dinilai tidak mendesak.
Baca Juga: Diguyur Hujan, Ratusan Mahasiswa dan Elemen Sipil Padati Gejayan Gelar Seruan Bersama
Koordinasi antarlembaga juga didorong memanfaatkan teknologi digital. Hal itu dilakukan agar tidak seluruh kegiatan harus dilakukan secara tatap muka.
"Kalau ada kunjungan-kunjungan ya tidak usah satu orang satu mobil. Kalau memang bisa dilakukan secara daring, ya Zoom saja. Koordinasi yang tidak harus datang langsung, itu yang kita lakukan," katanya.
Penghematan besar-besaran dilakukan, lanjutnya karena tidak ada perubahan terhadap postur anggaran yang telah ditetapkan. Keterbatasan ruang fiskal membuat Pemda DIY tidak memiliki banyak pilihan selain mengoptimalkan anggaran yang sudah tersedia.
"Tidak ada perubahan anggaran, karena kalau pun diubah, anggarannya juga tidak ada tambahan. Jadi kita harus mengoptimalkan yang ada dan mengatur pemanfaatan kendaraan dinas itu sendiri," ujarnya.
Selain kenaikan harga BBM, pelemahan rupiah juga mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap sejumlah proyek pembangunan dan infrastruktur di DIY. Menurut Made, sejumlah pekerjaan konstruksi yang telah terikat kontrak berpotensi terdampak, terutama proyek yang menggunakan komponen dengan keterkaitan terhadap nilai tukar dolar Amerika Serikat.
Pemda DIY pun telah melakukan konsultasi dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) untuk membahas kemungkinan penyesuaian terhadap beberapa komponen biaya dalam kegiatan konstruksi yang sensitif terhadap perubahan kurs.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bagaimana Cara Cek NIK Terindikasi Judol atau Tidak? Begini Langkah Mudahnya
- 25 Ribu Penerima Bansos di Sulsel Terindikasi Judol
- Status Terbaru Anak Purbaya: Mafia Ancam Presiden Dibalik Pemecatan Bapak, Ada Foto Raja Juli
- Khofifah dan Emil Hadiri Pameran Tunggal Lukisan SBY, Apresiasi Karya Presiden ke-6 RI
- Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk
Pilihan
-
Usut Dugaan Korupsi KSO Pertamina EP, Kejagung Geledah Kantor Setda hingga Bapenda Kota Bekasi
-
Mekkah Diserang Houthi, Kemlu Minta WNI Hati-hati di Arab Saudi
-
Dari Aceh hingga Nusa Tenggara, Membaca Peta Ancaman Megathrust Indonesia
-
Kabar Buruk dari Italia: Jay Idzes Cedera 30-35 Hari Absen Bela Timnas Indonesia
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
Terkini
-
Cuaca Panas Makin Segar, Ada Diskon 25% di Boost dengan BRI Kartu Kredit
-
Buruh di Jogja Geruduk Kantor Gubernur DIY, Tantang Sultan Buktikan Keistimewaan untuk Pekerja
-
Ironi Pariwisata Jogja, Kampus Sepi Peminat, Industri Justru Kekurangan SDM Kompeten
-
Anak Balita Diduga Jadi Korban Kekerasan Seksual di Sleman
-
Semangat Aksara dalam Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026