- Jogja Police Watch memperingatkan potensi pengalihan isu skandal penyadapan Presiden Prabowo untuk menekan gerakan kritis masyarakat.
- Aktivis Baharuddin Kamba meminta mahasiswa tetap fokus mengawal masalah ekonomi rakyat serta penanganan bencana pada Rabu, 4 November 2026.
- Kebijakan perluasan pajak demi membiayai proyek strategis nasional dinilai merugikan sektor usaha kecil dan pedagang kaki lima.
SuaraJogja.id - Sorotan publik yang tertuju pada skandal penyadapan ilegal terhadap Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dinilai berpotensi mengalihkan fokus perjuangan elemen masyarakat sipil.
Jogja Police Watch (JPW) memperingatkan agar dinamika kasus tersebut tidak dijadikan alat untuk melemahkan pilar gerakan kritis.
Aktivis Jogja Police Watch (JPW), Baharuddin Kamba, mewanti-wanti adanya potensi penyalahgunaan isu penyadapan ini untuk menekan aksi-aksi menyuarakan aspirasi rakyat di lapangan.
"Dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo jangan sampai ada upaya mendiskreditkan gerakan murni dari masyarakat sipil termasuk dari kalangan mahasiswa maupun aktivis gerakan," kata Kamba kepada Suara.com, Rabu (4/11/2026).
Menurut Kamba, konsolidasi mahasiswa dan aktivis harus tetap berorientasi pada persoalan mendasar yang langsung menghimpit kehidupan warga, seperti anjloknya daya beli hingga persoalan bencana alam.
Ia menyoroti keterpurukan ekonomi rakyat di tengah lonjakan harga barang pokok serta indikasi penyelewengan dana kebencanaan yang tak kunjung tuntas.
"Gerakan Masyarakat sipil tetap fokus pada tuntutan semula misalnya persoalan ekonomi yang carut marut. Termasuk persoalan kebakaran hutan dan lahan serta penanganan bencana yang belum terselesaikan dengan baik," tegasnya.
Masyarakat luas diimbau untuk tidak larut dalam drama konflik elit dan tetap memelihara kekompakan dalam mengawal berbagai kebijakan publik.
Kamba mengkritik keras wacana perluasan objek pajak yang dinilainya menyasar sektor usaha kecil menengah hingga pedagang kaki lima.
Baca Juga: Jelang Kunjungan Prabowo ke Inggris, Trah Sultan HB II Tolak Keras Kerja Sama Strategis! Ada Apa?
Ia mengingatkan bahaya pemaksaan skema perpajakan demi memenuhi ambisi pembiayaan proyek-proyek strategis nasional, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Kopdes Merah Putih.
Kebijakan yang dinilai asal-asalan tersebut pada akhirnya hanya akan menempatkan rakyat kecil sebagai pihak yang paling dirugikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sejumlah Jenderal Polri Dikabarkan Diamankan, Satu 'Bintang Empat' Sudah Dilepas
- Panitia Batalkan Undang Raffi Ahmad di GSI Youth Fest Hero Summit
- Prestasi Kinclong Netty Rosdiana Siagian: Mundur dari Polri, Tak Sejalan dengan Hati Nurani
- Kenapa Raffi Ahmad Diboikot? Ini Kronologi Acara Sumpah Pemuda sampai Rans Carnival Sepi
- Sejumlah Jenderal Diperiksa Propam, Ini Respons Mabes
Pilihan
-
Helikopter Penerbad Mi-17 Jatuh Saat Padamkan Karhutla di Pematang Limau, Dua Personel Hilang
-
Hanya Sebulan di Istana, Presiden Prabowo Pecat Listyo Sigit Prabowo
-
Tersandung Skandal Penyadapan, Prabowo Pecat Listyo Sigit dari KSP dan Tunjuk Letjen Ariyo Jadi Plt
-
Nusron Wahid Diperiksa KPK Terkait Suap HGB
-
Konser Andrea Bocelli di JIExpo Ricuh: Massa Bakar Pembatas Jalan, Wartawan Terhantam Batu
Terkini
-
Sri Sultan Sebut Penurunan Foto Wapres Gibran Tidak Pantas, DPRD DIY Ungkap Fakta Sebenarnya
-
Geger di DPRD DIY, Foto Gibran Diturunkan, Forum Kebangsaan Desak Pemakzulan
-
Kisah Desty: Berjuang Melawan Skizoafektif hingga Sempat Lepas Obat, Kini Kembali Mengajar
-
Suara.com hingga NU Online Sabet Penghargaan Bergengsi, Ini Daftar Juara AMSI Awards 2026
-
Viral Titik Nol Km Jogja Dipasang Kawat Duri, Pemda DIY Merasa Tak Dikabari Polisi