Abizar divonis kekurangan gizi karena sulit untuk makan nasi ataupun bubur bayi. Satu-satunya asupan gizi yang masuk ke tubuh Abizar adalah susu baik formula ataupun air susu ibu (ASI).
Hal ini tentu sangat memberatkan pihak keluarga karena untuk memenuhi kebutuhan susu Abizar, keluarga ini harus merogoh kocek cukup dalam. Terlebih, susu formula yang direkomendasikan dokter sangat memberatkan ekonomi keluarganya.
"Saya harus beli susu sesuai anjuran dokter ukuran 400 gram harganya Rp 170 ribu. 400 gram itu habis seminggu," ujar Kandi.
Meski sulit, keluarga ini berusaha memenuhi kebutuhan anaknya tersebut. Mustakim harus banting tulang menjadi buruh bangunan di kota Yogyakarta agar kebutuhan anaknya bisa dipenuhi.
Baca Juga:Sidang Kasus Ikan Asin Kembali Digelar, Rey Utami Tampak Lesu
Mustakim biasanya baru pulang dai kerja seminggu dua kali yaitu setiap Sabtu sore dan setiap akan mengantar Abizar kontrol. Meski sulit, keluarga ini tetap terus berusaha memenuhi kebutuhan anaknya tersebut.
Mustakim yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan harus tetap bekerja demi putra bungsunya tersebut. Kandi sendiri tidak bisa bekerja membantu suaminya karena harus merawat Abizar.
Kandi merasa sangat terbantu dengan orangtuanya yang juga tinggal serumah dengan dirinya. Meskipun tak memiliki sawah, namun keluarga ini masih bisa mendapatkan hasil pertanian dari mengelola lahan di sela-sela pohon jati di Perkebunan milik pemerintah.
Beban keluarga inipun semakin ringan dengan keberadaan mobil ambulans gratis dari para relawan. Meskipun untuk pengobatan Abizar sudah dibantu BPJS, tetapi untuk pulang pergi ke RSUP dr Sardjito tanpa bantuan ambulans gratis tentu akan mengeluarkan biaya cukup besar.
"Untuk menyewa mobil sehari ia bisa mengeluarkan uang Rp 400 ribu. Dulu belum tahu ada ambulans gratis ya sering sewa mobil," ujar Kandi sambil sesekali memeriksa Abizar di pangkuannya.
Baca Juga:IHSG Terus Anjlok Imbas Corona, BEI Larang Transaksi Short Selling
Kandi mengaku, sampai saat ini belum ia dan keluarganya belum menerima bantuan dari pemerintah selain program keluarga harapan (PKH). Meski Posyandu sering menyediakan, namun untuk bantuan asupan gizi keperluan Abizar, keluarga ini belum menerima dari pemerintah.
Kandi memang belum membawa anaknya ke Posyandu karena dokter melarang ketika Abizar harus berkumpul dengan banyak orang mengingat kondisi ketahanan tubuhnya masih lemah.
"Penyakit kelainan genetika langka ini tidak bisa diobati dan jarang yang bertahan hingga dewasa. Sehingga dokter hanya berusaha agar Abizar tidak terjangkit infeksi. Makanya dokter melarang anak saya berinteraksi dengan banyak orang," tutur Kandi.
Kandi mengaku pasrah dengan nasib anaknya dan mengaku siap dengan segala kemungkinan. Meski begitu, dirinya menegaskan akan tetap berusaha merawat anaknya semaksimal mungkin dan tetap memeriksakananaknya ke rumah sakit sesuai anjuran dokter.
"Meskipun keadaannya serba terbatas, saya akan berusaha keras membawa anaknya ke Rumah Sakit. Saya masih tetap punya harapan anak saya sehat dan bisa hidup normal," ujar Kandi menutup wawancara dengan Suarajogja.id.
Kontributor : Julianto