facebook

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Pengusaha Batik Produksi Masker Kain, UMKM Jogja Alih Usaha karena Corona

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana Jum'at, 03 April 2020 | 20:53 WIB

Pengusaha Batik Produksi Masker Kain, UMKM Jogja Alih Usaha karena Corona
Suasana Jalan Malioboro yang akan menjadi kawasan pedestrian. [Suara.com/Rahmad Ali]

"Bahkan ada yang menjual mesin produksi yang mereka miliki," terangnya.

SuaraJogja.id - Banyak usaha yang dirugikan selama pandemi corona, termasuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Yogyakarta. Karenanya, demi bertahan di tengah melemahnya kegiatan perekonomian akibat COVID-19, sejumlah UMKM di Jogja mengalihkan jenis usaha.

"Dalam kondisi seperti ini, yang dibutuhkan adalah inovasi. Bagi pelaku UMKM, inovasi dilakukan dengan mengalihkan jenis usaha dan produk yang dihasilkan," kata Kepala Bidang Usaha Kecil Mikro (UKM) Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta Rihari Wulandari di Yogyakarta, Jumat (3/4/2020).

Rihari mengungkapkan, pandemi COVID-19 memberikan dampak di hampir semua sektor UMKM di Kota Yogyakarta. Namun sektor yang paling terdampak adalah usaha di bidang fesyen dan kerajinan karena tidak ada lagi wisatawan yang datang ke Jogja untuk mencari oleh-oleh atau suvenir.

Kendati demikian, lanjut dia, pelaku UMKM di Jogja kemudian mengalihkan jenis usahanya agar tetap ada pendapatan yang masuk, misalnya pelaku usaha batik beralih usaha memproduksi masker kain, yang saat ini juga cukup banyak dibutuhkan. Begitu pula dengan pelaku usaha kerajinan, yang mengalihkan usahanya ke bidang kuliner, yang masih banyak dibutuhkan oleh masyarakat, apalagi saat ini masuk bulan Ruwah dengan tradisi membuat apem.

Baca Juga: UN 2020 Batal karena Corona, Jokowi: Ini Momentum untuk Evaluasi

"Ada juga yang kemudian membuat berbagai minuman dari bahan rempah-rempah, atau membuat makanan ringan," lanjut Rihari, dikutip dari ANTARA.

Menurut keterangannya, jika pelaku UMKM tidak memproduksi barang, maka tidak ada pendapatan yang masuk karena mereka sangat bergantung dari pendapatan harian.

"Yang bisa kami lakukan adalah terus memotivasi mereka. Biasanya mereka tergabung dalam berbagai grup di aplikasi percakapan. Kami upayakan untuk terus menyemangati mereka agar bisa berinovasi menyesuaikan kondisi," katanya.

Meski begitu, Rihari tidak memungkiri bahwa dari sekitar 24.000 pelaku UMKM di Jogja, yang sekitar 6.000 di antaranya sudah mengantongi izin usaha mikro, ada pelaku usaha yang juga menghentikan produksi secara total dan tidak melakukan upaya pengalihan jenis usaha.

"Bahkan ada yang menjual mesin produksi yang mereka miliki," terangnya.

Baca Juga: Awas, Zoom Diam-diam Tampilkan Profil LinkedIn Pengguna Saat Rapat Online

Sedangkan untuk pemasaran, Rihari menyebut, para pelaku UMKM yang masih berusaha bertahan menggerakkan perekonomian melakukan penjualan secara daring melalui grup aplikasi percakapan seperti WhatsApp.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait