Ancaman Meningkat, Masyarakat Yogyakarta Diimbau Tetap Waspada DBD

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana
Ancaman Meningkat, Masyarakat Yogyakarta Diimbau Tetap Waspada DBD
Positif terinfeksi demam berdarah. (Shutterstock)

Masyarakat dianjurkan untuk selalu meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari DBD dan COVID-19.

SuaraJogja.id - World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta meminta masyarakat untuk tetap mewaspadai ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) di tengah pandemi COVID-19 saat ini.

Ahli serangga WMP Yogyakarta Warsito Tantowijoyo memperkirakan Maret dan April 2020 sebagai puncak kasus DBD di Kota Yogyakarta. Hal tersebut dinyatakan berdasarkan data populasi Aedes aegypti yang telah mencapai puncaknya di sekitar Januari 2020.

“Setelahnya, populasi akan menurun. Berdasarkan pengalaman, musim tinggi penyakit DBD biasanya mulai terjadi 2-3 bulan pascapuncak populasi nyamuk. Di masa inilah perlu diwaspadai meningkatnya kasus DBD”, ujar dia dalam keterangan tertulis yang diterima SuaraJogja.id, Selasa (7/4/2020).

Ia menambahkan, penyakit yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini mulai meningkat pada awal 2020, berbarengan dengan datangnya musim penghujan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sejak 1 Januari 2020 hingga 29 Februari 2020 telah terjadi 13.864 kasus DBD, dengan 78 orang meninggal. Beberapa daerah bahkan telah menetapkan kasus DBD sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), seperti Kabupaten Sikka dan Kabupaten Belitung.

"Kewaspadaan terhadap ancaman DBD di seluruh wilayah ini harus tetap menjadi prioritas, terlebih pada bulan-bulan mendatang," ungkapnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY), sepanjang Januari-Februari 2020, di DIY telah terjadi 1.032 kasus DBD, dengan 2 orang meninggal di Kabupaten Gunungkidul.

Dalam data yang ia rangkum, sedikitnya ada 333 kasus penderita DBD di Gunungkidul dan 2 orang meninggal, 276 penderita di Bantul, 248 penderita di Sleman, 92 penderita di Kulon Progo, dan 81 penderita di Yogyakarta.

Peneliti Utama WMP Yogyakarta Prof Adi Utarini menyampaikan, pada 2016 lalu, WMP mulai menitipkan ember berisi telur Aedes aegypti ber-Wolbachia di sebagian area Kota Yogyakarta untuk melihat efektivitasnya dalam pengendalian dengue.

Dari penelitian tahun jamak yang sudah dilakukan tersebut, WMP Yogyakarta menemukan bahwa Wolbachia efektif dalam menurunkan angka DBD di wilayah kuasi penelitian.

"Temuannya, kasus DBD di wilayah kuasi yang diintervensi dengan nyamuk ber-Wolbachia di Kota Yogyakarta menurun 74%, dibandingkan wilayah yang tidak diintervensi," kata dia.

Angka ini merupakan analisis awal dalam implementasi teknologi Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk pengendalian vektor dengue.

Analisis ini menunjukkan arah positif bahwa terdapat penurunan kasus demam berdarah di wilayah penitipan ember telur nyamuk ber-Wolbachia dibandingkan dengan wilayah pembanding. Data kasus tersebut berasal dari data surveilans pasif Dinkes  Yogyakarta sebelum dan setelah pelepasan Aedes aegypti ber-Wolbachia.

Kendati demikian menurut Uut, hasil dari wilayah kuasi ini bukan menjadi kesimpulan akhir. WMP Yogyakarta masih menunggu hasil dari penelitian Clustered Randomized Controlled Trial (CRCT), yang diharapkan diperoleh di penghujung 2020.

Ia menganjurkan agar masyarakat selalu meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari DBD dan COVID-19.

Untuk mendukung hal tersebut, program Pemerintah dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) tetap menjadi acuan. Utamanya juga dalam menjalankan 3M plus, seperti menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas, plus menghindari gigitan nyamuk serta mengantisipasi tempat-tempat potensial yang menjadi sarang nyamuk.

“Sepanjang penelitian yang kami lakukan, kami meyakini metode Wolbachia sebagai komplementer dari upaya pengendalian DBD yang sudah berjalan, seperti Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui 3M plus,” tambah dia.

Epidemiologis WMP Yogyakarta Citra Indriani mengingatkan masyarakat untuk tidak ragu dan segera mengakses fasilitas kesehatan pemerintah terdekat jika mengalami demam. Menurutnya, sebagian besar puskesmas di Kota Yogyakarta saat ini sudah mendukung untuk deteksi dini demam berdarah. Deteksi dini penting untuk mengurangi keparahan dan penyebaran penyakit.

Diketahui, WMP Yogyakarta merupakan program penelitian yang dipimpin oleh Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) dan didanai oleh Yayasan Tahija (tahija.or.id).

Kontributor : Uli Febriarni

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS