Tradisi Lebaran Berbeda, Kalimatur: Kesehatan Paling Penting

Eleonora Padmasta Ekaristi Wijana | Hiskia Andika Weadcaksana
Tradisi Lebaran Berbeda, Kalimatur: Kesehatan Paling Penting
[Ilustrasi] Jemaah melaksanakan shalat Id di sebuah masjid di Padang, Sumatera Barat, Minggu (24/5). [ANTARA FOTO]

Jika biasanya muka menempel dengan alas sujud saat salat, kali ini karena menggunakan masker, tidak bisa menempel seperti biasa.

SuaraJogja.id - Lebaran menjadi salah satu hari yang paling dinanti sebagian besar masyarakat Indonesia. Negara dengan penduduk mayoritas beragama Islam ini tentu sangat antusias menyambut Lebaran setelah berpuasa selama Ramadan.

Namun tahun ini umat Muslim di Indonesia harus menerima kenyataan yang kurang menggembirakan. Pasalnya, wabah virus corona yang masuk awal Maret lalu mau tidak mau membuat sebagian rencana masyarakat Indonesia tertunda atau malah batal di hari raya Idul Fitri tahun ini.

Suasana lebaran yang berbeda itu dirasakan salah staunya oleh Tri Novi Ani, warga asal Samiranan, Nomporejo, Galur, Kulon Progo. Ia mengatakan, ada beberapa kegiatan yang biasanya tiap tahun selalu dilakukan, tetapi terpaksa untuk kali ini ditiadakan. Hal yang paling terasa adalah ketika salat Id yang biasanya dilakukan bersama-sama di lapangan, kini hanya bisa ia lakukan di rumah bersama keluarga.

"Terharu rasanya, habis Subuh langsung nyetel takbiran di speaker yang volumenya dibesarin, biar nuansanya seperti di lapangan. Untuk pertama kalinya salat Id diimamin keluarga sendiri," ujar Ani, saat dihubungi SuaraJogja.id, Minggu (24/5/2020).

Ani mengaku sebelumnya sudah ada imbauan dari relawan Satgas Covid-19 untuk salat Id di rumah saja bersama keluarga inti. Mengacu pada imbauan itu, Ani dan keluarganya menaati imbauan tersebut dan melaksanakan salat Id di rumah.

Dikatakan Ani, bahkan keluarganya melakukan takbiran sebelum melakukan salat id agar bisa menyerupai suasana seperti di lapangan. Sesuai dengan tradisi yang sudah ada, doa bersama dan bermaaf-maafan setelah salat Id juga dilakukan Ani dan keluarganya. Suasana mengharu biru makin terasa mengingat ada beberapa anggota keluarga yang terpaksa tak bisa pulang

"Ada dua orang yang tidak bisa pulang, tapi tadi setelah salat Id bersama kami langsung menghubungi mereka berdua via video call," ungkapnya.

Kendati suasana Lebaran kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tetapi Ani dan keluarganya tetap mengisi meja ruang tamu dengan berbagai makanan khas hari raya Lebaran. Ia mengungkapkan, hal itu dilakukannya untuk persiapan saja jika nantinya tetap ada tetangga atau kerabat yang mungkin akan datang ke rumahnya.

Tidak lupa tempat cuci tangan dan sabun Ani siapkan di depan rumahnya sebagai syarat utama jika ada tamu yang datang.

"Iya tadi sudah beli camilan terus dimasukin ke toples, ditaruh di meja ruang tamu walaupun ya tidak ada tamu, buat persiapan saja," ucapnya.

Hal serupa juga dirasakan Kalimatur Rodziyah. Warga asal Ngrandu, Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo ini mengaku masih berkesempatan untuk melakukan salat Id bersama meski hanya dengan warga satu RT saja. Kendati demikian, protokol kesehatan selalu menjadi hal yang utama dalam pelaksanan ibadah salat Id berjemaah tersebut.

"Ada sekitar 50 orang tadi, dan seluruh jamaah salat Id menggunakan masker ketika salat sebagai pencegahan pemaparan virus corona," kata Kalimatur.

Ia menuturkan, ada perbedaan dalam salat Id berjemaah kali ini. Jika biasanya saat salat jemaah merapatkan saf dan seharusnya muka menempel dengan alas sujud, tetapi karena menggunakan masker, jadi muka tidak bisa menempel seperti biasanya. Namun, menurutnya hal itu tidak menjadi masalah karena dengan kondisi sekarang kesehatan lebih diutamakan.

Sebelum melaksanakan salat, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan halalbihalal seperti tahun-tahun sebelumnya. Bersalaman dengan orang lain yang datang untuk salat juga sebisa mungkin diminta agar dihindari dulu.

"Walaupun diimbau untuk tidak halalbihalal, ya tetap ada halalbihalal, tapi hanya ke keluarga paling dekat dari yang terdekat. Kebetulan kalau di desa kan keluarga tidak berjauh-jauhan banget rumahnya," imbuhnya.

Kalimatur menambahkan, terdapat berbagai macam cara yang bisa dilakukan ketika kebiasaan atau tradisi Lebaran itu tidak dapat dilaksanakan untuk tahun ini. Salah satunya adalah memanfaatkan kecanggihan teknologi yang sudah ada di era sekarang ini. Video call menjadi cara yang praktis untuk tetap bisa berhubungan dengan keluarga atau kerabat yang jauh.

Meskipun banyak tradisi yang terpaksa harus dihilangkan dulu pada lebaran kali ini, tetapi ia berharap bisa tetap menjalani ibadah Hari Raya Idul Fitri ini dengan sepenuh hati disertai dengan keikhlasan dalam setiap hal.

"Semoga pandemi ini lekas berakhir, agar semua dapat berkumpul lagi bersama keluarga dan merayakan hari kemenangan ini seperti tradisi-tradisi sebelumnya," tandasnya.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS